Di Suku Melayu, Riau, hidup tradisi kenduri yang disebut Balemang. Balemang adalah sebuah ritual menyambut tujuh bulan usia kandungan. Balemang mensyaratkan penghuni dusun baik tua dan muda, puan dan tuan akan bersama-sama mencari buluh ke dalam hutan. Beberapa nama bertugas mengumpulkan daun pisang hutan yang digunakan sebagai pembungkus pulut atau ketan saat dimasukkan ke dalam tabung buluh. Sekembali dari hutan, kelompok yang berperan mengambil peralatan bahan dan segala kebutuhan disambut oleh kelompok yang bertugas memasak dengan seorang juru andalan yang sudah ditentukan. Inilah pembagian kerja bijaksana yang diturunkan dari datok moyang.
Juru masak akan memeriksa setiap tahapan yang dilakukan dan memantau pekerjaan sampai lemang terbaik berhasil diangkat dari area pembakaran. Beras pulut atau ketan, santan kelapa, dan garam adalah bahan pokok yang tidak bisa terlupakan dalam proses pembuatan lemang. Sebuah kegembiraan dan bertuah bagi keluarga yang melaksanakan kenduri pada saat musim durian besar.
Baca juga:
Belemang merupakan wujud nyata dari semangat kekeluargaan yang dibangun atas dasar kesadaran dan tanggung jawab bersama. Sehingga di dusun-dusun, kenduri tidak pernah melibatkan jasa catering tertentu. Laku budaya seperti ini penting untuk dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari.
Memanggil Dukun Beranak
Di samping semangat kekeluargaan, rasa lemak yang khas, dan sedapnya lemang, terdapat makna mendalam yang tersimpan di dalamnya. Belemang memiliki pemaknaan lebih yang jauh lebih dalam. Kenduri ini dilakukan untuk memanggil dan memberitahukan dukun beranak yang dipilih. Ini adalah rangkaian penghormatan pada dukun beranak yang memiliki tanggungjawab dan risiko besar dalam memimpin sebuah helat peradaban kelahiran dan kematian. Tugas berat itu tertuang dalam sebuah pepatah tua yang berbunyi ‘Kalau sudah ditunjuk jadi dokon, nak dijemput siang malam, kok panas, kok hujan jangan mengelak’. Artinya, kalau sudah ditunjuk menjadi dukun beranak, akan dijemput siang maupun malam, biar pun panas, biar pun hujan, jangan pernah mengelak dari tugas dan tanggung jawab.
Belemang adalah titik penentu yang menjadi simbol seserahan amanat dari pihak keluarga bersangkutan kepada dukun beranak. Dalam adat, seluruh peristiwa kenduri tidak hitam putih atau kaku. Mengingat Belemang membutuhkan biaya tidak sedikit, maka adat membuat beberapa pilihan yang meringankan. Bagi keluarga yang tidak memiliki daya mengadakan kenduri Belemang, diperkenankan mengeluarkan biaya semampunya. Biasanya, keluarga yang tidak menggelar kenduri Belemang akan memberikan beras seizinnya dan kelapa satu buah. Situasi ini dikenal dengan istilah betimbang mantah (bertimbang mentah).
Lawan frasa dari bertimbang mentah adalah betimbang masak (bertimbang masak). Jika betimbang mentah pihak keluarga memberikan seserahan berupa beras dan kelapa, maka betimbang masak sebaliknya, yakni membuat seserahan berupa nasi kunyit (nasi kuning) dengan rendang atau gulai ayam. Hal ini adalah gambaran prinsip fleksibilitas dalam tatanan hidup beradat. Inilah yang dimaksud dengan adat yang diadatkan. Sebuah prinsip hukum hidup bersuku bangsa yang mencoba menentukan dan membuat kebijakan atas dasar situasi, kondisi, dan kepentingan bersama, bukan segelintir orang saja.
Pihak keluarga yang mengadakan kenduri Belemang tidak diperkenankan melupakan syarat yang disebut sebagai rukun nan limo (rukun yang lima), yakni sirih, pinang, kapur, gambir, dan tembakau. Terdapat syarat khusus dan tidak sembarang bagi seorang dukun beranak mengumpulkan rukun nan limo. Sirih yang digunakan adalah sirih yang bertemu urat dengan akar. Sirih haruslah dalam kondisi segar atau tidak boleh layu.
Pada saat mengambil atau memetik sirih, daun yang terpetik harus dikendol atau dimasukkan ke dalam lipatan baju atau kain yang digulung ke atas. Pantang hukumnya daun sirih jatuh ke tanah. Dukun beranak akan membacakan doa pada helai daun sirih dan memberikan kepada perempuan yang tengah mengandung. Di saat itu juga dukun beranak akan memijat perut perempuan untuk memastikan usia kandungan. Memilih bahan berkualitas dengan tahapan yang runut adalah sebuah tata cara sistematis yang juga tidak dipelajari dukun beranak di sekolah.
Baca juga:
Warisan kerja sistematis dari datok moyang Suku Melayu ini tetap relevan sampai hari ini. Hal ini dalam antropologi medis dipandang sebagai praktik kesehatan dan penyembuhan berdasarkan konteks budaya dan sosial.
Terdapat hakikat maupun simbolis yang menjadi alasan mengapa lemang menjadi pilihan dalam melaksanakan kenduri tujuh bulan usia kandungan perempuan. Terpanjat sebuah harapan agar proses kelahiran berjalan lancar diibaratkan lemang yang dapat dikeluarkan dengan mudah dari tabung buluh. Minyak yang terkandung di dalam santan kelapa membuat lemang dapat meluncur tanpa suatu halangan ataupun rintangan yang berarti.
Bahwa kehidupan harus penuh rasa penghormatan dan kebijaksanaan, semua itu diatur sedemikian adil bagi seluruh pihak dalam adat istiadat. Sehingga sangat disayangkan jika tradisi pengetahuan datok moyang ini tidak dilestrasikan oleh generasi muda hari ini. Bangunan yang kuat sebuah bangsa tentu berpijak pada budaya yang merupakan identitas asal, kebijaksanaan menjadi sendi hidup, dan semangat kebersamaan. (*)
Editor: Kukuh Basuki
