Nrimo ing Pandum: Stoikisme Lokal yang Kalah Branding dengan Marcus Aurelius

Fitri Tiara Merdika

2 min read

Setiap kali saya buka media sosial, ada saja orang yang posting kutipan Meditations-nya Marcus Aurelius. Biasanya pakai background hitam, font serif, dan caption: “Live according to nature.” Mereka terlihat bijak. Terlihat terpelajar. Terlihat seperti orang yang habis baca buku di kafe sambil minum kopi yang namanya tidak bisa diucapkan tanpa latihan.

Saya tidak masalah dengan Stoikisme. Saya masalah dengan kenyataan bahwa nenek saya sudah menjalankan semua itu jauh sebelum Ryan Holiday lahir dan tidak pernah sekali pun dapat undangan ke podcast.

Nenek saya tidak pernah tahu siapa Marcus Aurelius. Tapi setiap kali sawahnya gagal panen, setiap kali ada musibah yang datang tanpa permisi, beliau selalu bilang tiga kata: nrimo ing pandum. Terima apa yang sudah menjadi bagianmu.

Baca juga:

Bukan pasrah yang lemas. Bukan keikhlasan yang dipaksa-paksa supaya terlihat baik di mata tetangga. Tapi sebuah kerangka pikir yang sadar betul bahwa ada hal-hal di luar kendalimu, dan menghabiskan energi untuk melawan hal-hal itu adalah pemborosan yang tidak perlu. Kalau ini bukan Stoikisme, saya tidak tahu apa namanya.

Marcus Aurelius menulis: “You have power over your mind, not outside events. Realize this, and you will find strength.” Epiktetos bilang: bedakan yang ada dalam kuasamu dan yang tidak. Fokus pada yang pertama, lepaskan yang kedua. Nrimo ing pandum bilang persis itu dengan diksi yang lebih hemat dan tanpa perlu jadi kaisar Roma dulu.

Kenapa yang Barat Selalu Lebih Dianggap?

Tapi inilah problemnya. Marcus Aurelius punya buku. Epiktetos punya murid yang menulis. Filsafat Jawa punya nenek-nenek yang diam di dapur dan dianggap tidak punya kapasitas intelektual untuk menjelaskan apa yang sebenarnya mereka jalankan tiap hari. Dan kita, generasi yang lahir di era TED Talk dan self-help shelf Gramedia, lebih percaya pada yang tertulis di buku impor daripada yang terucap dalam bahasa sendiri.

Saya tidak sedang meromantisasi kebudayaan lokal secara buta. Itu juga masalah tersendiri, mengangkat kearifan lokal hanya sebagai estetika, hanya untuk konten “back to roots” yang dapat ribuan likes tapi tidak benar-benar dipahami.

Yang ingin saya kritik adalah sesuatu yang lebih sistemik, yaitu bagaimana kita, secara kolektif, telah membangun hierarki validasi pengetahuan yang menempatkan apapun yang berbahasa Latin atau Inggris di atas, dan apapun yang berbahasa Jawa, Sunda, atau Makassar di bawah, atau lebih tepatnya, di tempat yang tidak dianggap sebagai “filsafat” sama sekali.

Nrimo ing pandum tidak diajarkan di mata kuliah Filsafat, tapi Stoicism diajarkan. Nrimo ing pandum tidak punya bab khusus di buku psikologi positif. Tapi acceptance dalam kerangka CBT dan letting go dalam literatur mindfulness Barat yang secara konseptual hampir identik ada di mana-mana.

Kita menyebut satu sebagai “filosofi hidup” dan yang lain sebagai “kepercayaan tradisional”. Padahal yang membedakan keduanya bukan kedalamannya. Tapi siapa yang menuliskannya, dan dalam bahasa apa.

Ekosistem Filsafat Jawa yang Terlupakan

Lebih jauh dari sekadar nrimo, sebenarnya ada ekosistem filosofis Jawa yang lengkap dan tidak pernah benar-benar masuk arus utama diskusi intelektual kita.

Urip iku urup, hidup itu harus menyala, harus memberi manfaat adalah konsep yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Barat akan terdengar seperti ikigai atau eudaimonia Aristoteles.

Jer basuki mawa beya, setiap keberhasilan butuh pengorbanan adalah realisme etis yang jauh lebih jujur daripada semua kutipan motivasi yang bilang “just believe and you’ll succeed.”

Eling lan waspada, selalu ingat dan selalu waspada adalah latihan mindfulness yang bahkan lebih ketat dari apa yang diajarkan di aplikasi meditasi berbayar manapun.

Tapi semua ini hidup di mulut orang tua, di naskah kuno yang tidak ada yang membacanya, di petuah yang dianggap kuno dan kolot sementara versi baratnya dicetak ulang, diberi cover minimalis, dan dijual di toko buku seharga tiga ratus ribu rupiah.

Yang paling menyakitkan bukan bahwa orang Jawa tidak mendokumentasikan kearifan mereka. Mereka mendokumentasikannya dalam serat, dalam primbon, dalam pertunjukan wayang yang sejatinya adalah kuliah filsafat berdurasi semalam penuh. Yang menyakitkan adalah kita sendiri yang memilih untuk tidak membacanya. Atau lebih tepatnya kita tidak diajari untuk menganggapnya layak dibaca.

Baca juga:

Di kuliah, saya belajar Plato dan Descartes. Saya tidak belajar Ronggowarsito. Saya tahu cogito ergo sum. Saya tidak tahu bahwa Serat Kalatidha yang ditulis Ronggowarsito di abad ke-19 adalah salah satu momen refleksi filosofis paling jujur dalam sejarah sastra Nusantara. Seorang pujangga yang mempertanyakan relevansinya sendiri di tengah zaman yang kacau, dan menyimpulkan bahwa kadang melu gelo, ikut kecewa bersama keadaan adalah satu-satunya respons yang manusiawi.

Itu bukan kelemahan. Itu kejujuran intelektual.

Jadi ketika kamu scroll lagi dan melihat ada orang posting “Amor fati, love your fate”-nya Nietzsche, coba ingat sebentar bahwa ada versi yang lebih tua dari itu, yang sudah dijalankan di desa-desa Jawa jauh sebelum Nietzsche lahir, dalam tiga kata yang tidak butuh terjemahan panjang.

Nrimo ing pandum.

Penerimanya tidak dapat sorotan. Tidak dapat podcast. Tidak dapat bab khusus di buku self-help yang masuk bestseller. Mungkin justru itu yang membuat filosofi ini lebih jujur karena ia tidak butuh validasi orang lain untuk bisa dijalankan.

Ironisnya, itulah juga inti dari Stoikisme yang kamu pelajari dari buku impor itu. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Fitri Tiara Merdika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email