Ada satu pengalaman yang mungkin sulit dipahami oleh banyak orang ketika kita berbicara tentang pendidikan di wilayah kepulauan. Pendidikan tidak selalu datang tepat waktu.
Di kota besar, sekolah adalah sesuatu yang pasti. Gedungnya ada, gurunya tersedia, transportasinya jelas. Anak-anak hanya perlu datang setiap pagi. Tetapi di Kepulauan Kangean, tempat saya lahir dan tumbuh, pendidikan sering terasa seperti sesuatu yang harus dikejar dengan usaha yang jauh lebih besar.
Kangean adalah gugusan pulau yang berada di timur laut Madura dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Sumenep. Dari daratan Madura saja, perjalanan ke sana membutuhkan waktu berjam-jam menggunakan kapal. Bagi banyak orang, Kangean mungkin hanya sebuah titik kecil di peta. Namun bagi kami yang lahir di sana, pulau-pulau itu adalah rumah, sekaligus tempat di mana kami belajar memahami arti jarak sejak kecil.
Jarak itulah yang sering kali menjadi wajah paling nyata dari ketimpangan pendidikan di Indonesia.
Pendidikan yang Bergantung pada Alam
Ketika orang berbicara tentang akses pendidikan, mereka biasanya membayangkan jalan raya, kendaraan umum, atau jarak tempuh beberapa kilometer. Di wilayah kepulauan, cerita itu berbeda.
Baca juga:
- Kangean Selayang Pandang, Titik Awal Mengenal Rumah Sendiri
- Kawin Lari di Kangean: Negosiasi Perempuan dalam Struktur Patriarki
Di beberapa pulau kecil di sekitar Kangean, anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya sering kali harus pergi ke pulau lain. Artinya mereka harus menyeberangi laut. Kadang perjalanan itu hanya satu jam. Kadang lebih lama. Dan semuanya bergantung pada cuaca.
Ada hari-hari ketika ombak terlalu tinggi dan kapal tidak berangkat. Ada juga hari ketika perjalanan terasa terlalu berisiko bagi anak-anak yang masih belia. Dalam situasi seperti itu, sekolah bukan lagi rutinitas yang pasti. Ia berubah menjadi sesuatu yang harus dinegosiasikan dengan alam.
Pengalaman seperti ini jarang masuk dalam laporan resmi tentang pendidikan nasional. Statistik mungkin mencatat jumlah sekolah atau angka partisipasi pendidikan. Tetapi angka tidak pernah benar-benar menceritakan bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang harus mempertimbangkan kondisi laut sebelum pergi belajar.
Hal-hal semacam ini membuat pendidikan di wilayah kepulauan sering terasa seperti hak yang datang terlambat.
Ketika Perhatian Negara Tidak Sampai ke Wilayah Kepulauan
Masalah pendidikan di wilayah seperti Kangean sebenarnya bukan hanya soal jarak. Ia juga berkaitan dengan perhatian.
Di kota-kota besar, pendidikan terus mengalami inovasi. Sekolah berlomba memperkenalkan teknologi pembelajaran baru, kelas digital, bahkan kurikulum yang terhubung dengan perkembangan global. Anak-anak didorong untuk berpikir tentang masa depan yang luas, mulai dari industri kreatif sampai kecerdasan buatan.
Di wilayah kepulauan, percakapannya sering kali masih jauh lebih sederhana. Banyak sekolah masih berjuang dengan fasilitas yang terbatas. Guru tidak selalu tersedia dalam jumlah yang cukup. Bahkan dalam beberapa kasus, kondisi bangunan sekolah sendiri menjadi persoalan.
Perbedaan ini memperlihatkan satu kenyataan yang jarang dibicarakan secara jujur. Indonesia berkembang dengan kecepatan yang tidak sama di semua tempat.
Seorang siswa di kota besar mungkin sudah berbicara tentang peluang kuliah ke luar negeri. Sementara seorang siswa di pulau terpencil kadang masih harus memastikan apakah sekolahnya memiliki cukup guru untuk mengajar semua mata pelajaran.
Ini bukan sekadar perbedaan fasilitas. Ini adalah perbedaan peluang hidup.
Ketika kesenjangan seperti ini berlangsung terlalu lama, pendidikan tidak lagi menjadi alat mobilitas sosial. Ia justru bisa menjadi cermin ketimpangan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Membayangkan Masa Depan Pendidikan Kangean
Jika kita benar-benar ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah seperti Kangean, pendekatan pendidikan tidak bisa lagi hanya berpusat pada daratan.
Pertama, negara perlu memandang wilayah kepulauan sebagai ekosistem pendidikan yang unik. Tidak semua kebijakan yang berhasil di kota akan bekerja dengan cara yang sama di pulau-pulau kecil. Distribusi sekolah menengah perlu dirancang dengan mempertimbangkan sebaran pulau dan jumlah penduduk. Anak-anak tidak seharusnya selalu dipaksa meninggalkan pulau tempat mereka tumbuh hanya untuk melanjutkan sekolah.
Kedua, keberadaan guru harus menjadi prioritas serius. Mengajar di wilayah kepulauan bukan pekerjaan yang mudah. Selain jarak yang jauh dari pusat kota, fasilitas kehidupan juga sering kali terbatas. Tanpa sistem insentif yang jelas dan dukungan yang memadai, sulit berharap guru berkualitas akan bertahan lama di sana.
Ketiga, konektivitas digital perlu dipandang sebagai kebutuhan dasar pendidikan, bukan sekadar proyek pembangunan. Internet yang stabil dapat membuka jendela pengetahuan yang jauh lebih luas bagi siswa di pulau-pulau terpencil. Dengan teknologi yang tepat, keterbatasan geografis sebenarnya bisa diperkecil.
Namun ada satu hal yang menurut saya lebih penting dari semua itu, yaitu cara kita memandang daerah seperti Kangean.
Selama ini wilayah kepulauan sering dianggap sebagai pinggiran pembangunan. Padahal jika kita melihatnya dengan perspektif yang berbeda, daerah seperti Kangean justru memiliki potensi besar. Laut, sumber daya pesisir, dan budaya maritim adalah kekayaan yang tidak dimiliki oleh banyak wilayah lain.
Pendidikan di sana seharusnya juga mampu mengembangkan potensi tersebut. Anak-anak tidak harus selalu didorong untuk meninggalkan pulau mereka demi mencari masa depan di kota besar. Justru pendidikan yang baik dapat membuat mereka menjadi generasi yang mampu membangun wilayahnya sendiri.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang pendidikan di Kangean bukan hanya soal sekolah atau kurikulum. Ia adalah pertanyaan tentang keadilan.
Baca juga:
Indonesia sering mengatakan bahwa sumber daya manusia adalah aset terbesar bangsa. Tetapi kalimat itu hanya akan memiliki makna jika perhatian terhadap pendidikan benar-benar menjangkau semua tempat, termasuk pulau-pulau kecil yang jauh dari pusat kekuasaan.
Saya percaya talenta bisa lahir di mana saja. Ia tidak memilih kota besar atau pulau kecil. Anak-anak di Kangean memiliki rasa ingin tahu yang sama, mimpi yang sama, dan potensi yang sama dengan anak-anak di tempat lain. Yang sering berbeda hanyalah kesempatan. Dan pendidikan seharusnya menjadi cara kita memperkecil perbedaan itu, bukan membiarkannya terus melebar. (*)
Editor: Kukuh Basuki
