Empirical? Nah, vibes only.

Ketika Sekolah Tak Lagi Cukup

Adrian Janitra Putra

6 min read

Musim baru Clash of Champions kembali tayang. Seperti musim-musim sebelumnya, Ruangguru mengumpulkan mahasiswa berprestasi dari berbagai kampus untuk bertarung dalam permainan yang menguji daya ingat, logika, kecepatan berhitung, konsentrasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Musim ketiganya ditayangkan gratis melalui aplikasi dan kanal YouTube Ruangguru, dengan episode baru setiap Sabtu dan Minggu malam.

Saya menontonnya dengan perasaan yang campur aduk.

Di satu sisi, acara seperti ini terasa menyegarkan. Di tengah televisi dan media sosial yang lebih sering mengubah konflik pribadi menjadi hiburan, Clash of Champions menjadikan kecerdasan sebagai tontonan. Mahasiswa yang biasanya hanya dikenal di lingkungan kampus diberi panggung besar. Mereka diperkenalkan melalui prestasi akademik, indeks prestasi, medali olimpiade, jurusan, dan universitas tempat mereka belajar.

Kita diajak mengagumi orang-orang yang sanggup menghafal susunan angka dalam hitungan detik, melihat pola yang tidak tertangkap mata kebanyakan orang, atau tetap berpikir jernih ketika waktu terus berjalan. Bagi anak-anak sekolah, figur semacam ini barangkali lebih sehat untuk dikagumi daripada selebritas yang terkenal semata-mata karena kekayaan, sensasi, atau pertengkarannya.

Namun, semakin lama menonton, perhatian saya justru bergeser dari para peserta menuju perusahaan yang membuat acara tersebut.

Bukan karena ada yang salah dengan Ruangguru. Justru sebaliknya: Clash of Champions merupakan strategi pemasaran yang sangat cerdas. Ruangguru tidak lagi sekadar menawarkan video pelajaran, latihan soal, atau kelas tambahan. Ia membangun dunia tempat belajar terlihat keren, kompetitif, dan layak dirayakan. Prestasi akademik dikemas sebagai hiburan, sementara merek perusahaan hadir sebagai bagian alami dari seluruh perayaan itu.

Baca juga:

Pertanyaan yang kemudian muncul bukanlah mengapa Ruangguru begitu berhasil. Pertanyaannya adalah: mengapa perusahaan bimbingan belajar bisa menjadi begitu penting dalam kehidupan pendidikan kita?

Sekolah Kedua Setelah Sekolah

Bagi generasi saya, bimbingan belajar bukanlah fenomena baru. Jauh sebelum ada aplikasi, kelas daring, dan video vertikal, kota-kota di Indonesia sudah dipenuhi papan nama Ganesha Operation, Primagama, Tridaya, Neutron, Nurul Fikri, dan berbagai lembaga lokal lainnya.

Ritualnya hampir seragam. Pagi hingga siang, anak pergi ke sekolah. Sore hari, kadang setelah sempat pulang untuk mandi dan makan, ia berangkat lagi menuju tempat bimbingan belajar. Di sana, pelajaran yang baru saja diajarkan di sekolah dibahas kembali dengan rumus yang lebih ringkas, metode yang lebih cepat, serta soal-soal yang diperkirakan akan keluar dalam ujian.

Anak-anak menjalani dua sistem pendidikan sekaligus. Sistem pertama wajib diikuti dan memperoleh anggaran negara. Sistem kedua harus dibayar langsung oleh keluarga, tetapi sering kali dianggap lebih menentukan ketika ujian semakin dekat.

Dalam kajian pendidikan, fenomena ini dikenal sebagai shadow education atau pendidikan bayangan. Disebut bayangan karena ia bergerak mengikuti sekolah formal. Ketika kurikulum sekolah berubah, materi bimbel ikut berubah. Ketika bentuk ujian diganti, strategi bimbel segera menyesuaikan diri. Ketika persaingan masuk sekolah atau universitas semakin ketat, industri ini ikut membesar. UNESCO mencatat bahwa pendidikan bayangan berkembang pesat secara global dan dapat hadir dalam bentuk les privat, kelompok kecil, kelas besar, maupun pembelajaran daring.

Bayangan tentu tidak mungkin ada tanpa benda yang menciptakannya. Karena itu, pertumbuhan bimbel tidak dapat dibaca semata-mata sebagai kisah sukses kewirausahaan. Ia juga merupakan pantulan dari apa yang tidak berhasil diberikan sekolah.

Jika enam sampai delapan jam di ruang kelas sudah cukup membuat siswa memahami pelajaran, mengapa keluarga masih merasa harus membeli jam belajar tambahan? Jika sekolah mampu mengenali murid yang tertinggal, menjelaskan materi secara jernih, dan memberikan pendampingan yang sesuai, mengapa orang tua harus mencari guru lain pada sore hari? Jika sistem pendidikan benar-benar menjanjikan kesempatan yang setara, mengapa peluang seorang anak semakin bergantung pada kemampuan keluarganya membayar sistem pendidikan kedua?

Orang Tua Tidak Sedang Berlebihan

Mudah untuk menyalahkan orang tua karena dianggap terlalu ambisius. Anak sudah sekolah, masih juga dimasukkan ke bimbel. Jadwalnya penuh, waktu bermainnya berkurang, hidupnya dipenuhi latihan soal.

Namun, keputusan tersebut seringkali bukan lahir dari ambisi semata. Ia lahir dari ketakutan yang cukup rasional.

Orang tua mengetahui bahwa kursi di sekolah dan universitas yang dianggap baik jumlahnya terbatas. Mereka tahu bahwa selisih beberapa jawaban benar dapat menentukan apakah seorang anak diterima atau tersingkir. Mereka juga memahami bahwa kualitas sekolah tidak merata, sementara ujian dan seleksi tetap mempertemukan anak-anak dari kondisi belajar yang sangat berbeda dalam arena yang sama.

Dalam situasi seperti itu, bimbel menjual sesuatu yang tidak selalu mampu diberikan sekolah: “kepastian”.

Ia menawarkan jadwal yang teratur, materi yang diringkas, tutor yang dapat dievaluasi oleh pelanggan, latihan yang berulang, pemetaan kelemahan, serta strategi menghadapi ujian. Bila metode seorang pengajar tidak efektif, lembaga bimbel memiliki insentif ekonomi untuk memperbaikinya. Bila pola ujian berubah, mereka bergerak cepat karena kelangsungan bisnis bergantung pada kemampuan membaca perubahan.

Sekolah formal, sebaliknya, sering terjebak dalam ruang kelas besar, beban administrasi guru, perubahan kebijakan, ketimpangan fasilitas, serta kurikulum yang harus diselesaikan tanpa selalu memastikan bahwa semua anak benar-benar mengerti.

Data menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar perasaan orang tua. Dalam PISA 2022, hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai tingkat kecakapan minimum dalam matematika. Untuk membaca, proporsinya sekitar 25 persen. Hasil Indonesia dalam matematika, membaca, dan sains juga menurun dibandingkan 2018 dan termasuk yang terendah sepanjang keikutsertaan Indonesia dalam penilaian tersebut.

Bank Dunia, menggunakan data terakhir yang tersedia sebelum penutupan sekolah akibat pandemi, memperkirakan 53 persen anak Indonesia pada akhir usia sekolah dasar belum mampu membaca dan memahami teks sederhana yang sesuai dengan usianya. Angka itu tidak hanya menggambarkan anak yang tidak bersekolah, tetapi juga mereka yang hadir di sekolah tanpa memperoleh kemampuan membaca yang semestinya.

Kita dengan demikian menghadapi sebuah paradoks. Anak-anak menghabiskan bertahun-tahun di sekolah, tetapi sebagian besar belum mencapai kompetensi dasar. Pada saat yang sama, keluarga yang memiliki uang membeli tambahan jam belajar agar anak mereka tidak ikut tertinggal.

Industri bimbel tumbuh di antara dua kecemasan tersebut.

Meritokrasi yang Tidak Pernah Benar-Benar Netral

Acara seperti Clash of Champions menampilkan wajah paling menarik dari meritokrasi. Para peserta terlihat berdiri di arena yang sama, mengerjakan tantangan yang sama, dan dinilai melalui aturan yang sama. Siapa yang paling cepat dan paling tepat akan maju.

Pada tingkat permainan, itu tentu adil.

Namun, perjalanan menuju arena tersebut tidak pernah dimulai dari garis yang benar-benar sama. Di balik seorang mahasiswa berprestasi terdapat kombinasi yang berbeda-beda: keluarga, kualitas sekolah, akses buku, lingkungan pergaulan, kesehatan, waktu luang, koneksi internet, guru yang mendukung, dan mungkin pula berbagai bentuk les tambahan.

Ini tidak berarti prestasi mereka palsu. Kerja keras, disiplin, dan kecerdasan para peserta tetap patut dihargai. Tetapi kita perlu berhati-hati agar kekaguman terhadap individu tidak membuat kita buta terhadap infrastruktur yang memungkinkan suatu prestasi tumbuh.

Dalam sistem pendidikan yang semakin bergantung pada bimbel, uang keluarga diam-diam berubah menjadi keunggulan akademik. Anak dari keluarga mampu dapat memperoleh penjelasan ulang ketika tidak memahami pelajaran. Ia bisa mengikuti simulasi ujian berkali-kali, membeli paket premium, atau mendapat pendampingan personal. Sebaliknya, anak dari keluarga miskin harus berharap penjelasan pertama di sekolah sudah cukup.

UNESCO mengingatkan bahwa keluarga berpenghasilan tinggi dapat memperoleh layanan bimbingan belajar yang lebih banyak dan lebih bermutu. Akibatnya, pendidikan bayangan bukan hanya mempertahankan, tetapi juga dapat memperbesar ketimpangan yang sudah ada.

Pada titik ini, kita perlu mengoreksi ungkapan yang sering diulang: pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan.

Pendidikan memang dapat menjadi jalan keluar. Namun, ketika kualitas pendidikan terbaik harus dibeli di luar sekolah, pendidikan juga dapat berubah menjadi mekanisme pewarisan kelas sosial. Mereka yang memiliki sumber daya membeli lebih banyak kesempatan, lalu keberhasilan yang dihasilkan dari kesempatan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa sistem sudah meritokratis.

Yang terlihat adalah nilai akhirnya. Modal menuju nilai itu jarang ikut diperlihatkan.

Ruangguru Bukan Penyebabnya

Akan tidak adil apabila seluruh masalah ini dibebankan kepada Ruangguru, Ganesha Operation, atau perusahaan bimbel lainnya. Mereka tidak menciptakan ketimpangan sekolah, tidak merancang seluruh sistem seleksi, dan tidak menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran dasar. Mereka membaca kebutuhan yang nyata, lalu menawarkan jawaban.

Banyak siswa sungguh-sungguh terbantu oleh bimbel. Ada yang akhirnya memahami matematika setelah bertahun-tahun merasa dirinya bodoh. Ada yang menemukan tutor yang mampu menjelaskan konsep dengan bahasa lebih sederhana. Ada pula anak dari daerah yang sebelumnya tidak memiliki akses kepada pengajar tertentu, tetapi kini dapat mempelajarinya melalui internet.

Baca juga:

Teknologi pendidikan bahkan membuka kemungkinan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Materi dari pengajar yang baik dapat disebarkan kepada jutaan siswa tanpa harus membangun ruang kelas baru di setiap kota. Karena itu, kritik terhadap industri bimbel tidak boleh berubah menjadi romantisasi sekolah formal. Tidak semua yang dikelola negara otomatis lebih baik, sebagaimana tidak semua yang dijual perusahaan otomatis buruk.

Masalahnya muncul ketika layanan tambahan berubah menjadi kebutuhan pokok. Bimbel seharusnya menjadi ruang pengayaan bagi mereka yang ingin belajar lebih jauh, bukan perlengkapan bertahan hidup bagi anak yang ingin memperoleh hak pendidikan dasar secara layak.

Dalam sistem yang sehat, seorang anak boleh mengikuti bimbel karena menyukai matematika dan ingin mendalaminya. Dalam sistem yang gagal, ia harus mengikuti bimbel karena sekolah tidak membuatnya memahami matematika, tetapi ujian tetap menuntutnya menguasai mata pelajaran tersebut.

Perbedaannya terletak pada satu kata: pilihan.

Sebuah Cermin untuk Negara

Keberhasilan industri bimbingan belajar semestinya tidak hanya menginspirasi para pengusaha. Ia seharusnya juga membuat pemerintah merasa tidak nyaman.

Setiap keluarga yang membayar les karena sekolah gagal menjelaskan pelajaran pada dasarnya sedang membayar pajak pendidikan untuk kedua kalinya. Pertama melalui pajak dan anggaran negara, kemudian melalui biaya tambahan yang dikeluarkan dari kantong sendiri.

Sementara itu, perdebatan pendidikan kita terlalu sering berhenti pada pergantian kurikulum, istilah baru, seragam, ujian, aplikasi, dan slogan. Kita sibuk mengubah nama program, tetapi tidak cukup tekun memastikan apakah seorang anak kelas empat benar-benar dapat membaca dengan pemahaman. Kita merayakan siswa yang berhasil menembus universitas ternama, tetapi jarang membicarakan jutaan anak yang perlahan menyerah karena sejak awal tidak pernah memperoleh fondasi belajar yang kuat.

Clash of Champions memperlihatkan betapa mengagumkannya manusia ketika kecerdasan diasah dengan baik. Tetapi justru karena itu, acara tersebut juga memunculkan pertanyaan yang lebih sunyi: berapa banyak potensi anak Indonesia yang tidak pernah sempat muncul karena mereka lahir di tempat yang salah, bersekolah di ruang kelas yang terlalu padat, atau tidak memiliki uang untuk membeli pendidikan tambahan?

Barangkali itulah benturan yang sebenarnya.

Bukan sekadar benturan antarmahasiswa pintar dalam sebuah permainan, melainkan benturan antara janji pendidikan publik dan kenyataan bahwa semakin banyak keluarga yang merasa bahwa mengandalkan sekolah saja tidak akan cukup.

Kita boleh menikmati pertunjukannya. Kita boleh mengagumi para pesertanya. Kita bahkan boleh mengakui kecerdikan Ruangguru dalam membuat belajar terasa menarik. Namun, setelah layar ditutup, kita perlu mengingat satu hal: semakin sebuah masyarakat bergantung pada pendidikan bayangan, semakin terang terlihat lubang dalam pendidikan utamanya.

Bimbel yang tumbuh besar mungkin merupakan keberhasilan bisnis. Tetapi ketika ia dianggap wajib bagi siapa pun yang ingin memperoleh masa depan, keberhasilan itu sekaligus menjadi rapor merah bagi sistem pendidikan negara. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Adrian Janitra Putra
Adrian Janitra Putra Empirical? Nah, vibes only.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email