Di tengah perkembangan zaman modern, subjek Indonesia khususnya generasi muda menghadapi kondisi yang penuh dengan pilihan sekaligus tekanan. Akses terhadap pendidikan, karier, dan gaya hidup semakin terbuka luas, namun tidak selalu diiringi dengan kejelasan arah. Media sosial seperti TikTok dan Instagram memperlihatkan beragam standar keberhasilan yang sering kali tidak realistis, sehingga memicu perasaan tertinggal dan tidak cukup. Di sisi lain, budaya kolektif yang masih kuat menuntut subjek untuk tetap selaras dengan harapan keluarga dan lingkungan. Akibatnya, banyak subjek berada dalam kondisi dilema, antara menjadi diri sendiri atau memenuhi ekspektasi sosial. Dalam situasi ini, muncul sebuah gejala berupa kebingungan diri, kehilangan arah, serta kegelisahan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Kegelisahan ini sering berada dalam bentuk yang sangat konkret, meski kerap dianggap sepele. Seorang mahasiswa yang diam-diam mempertanyakan jurusan yang ia ambil, tetapi tetap bertahan demi memenuhi harapan orang tua. Seorang proletariat yang merasa lelah dengan rutinitasnya, namun takut keluar dari zona aman karena tekanan ekonomi dan penilaian sosial atau subjek yang setiap hari membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain di media sosial, hingga perlahan kehilangan rasa cukup terhadap dirinya sendiri. Kejadian-kejadian ini menunjukkan bahwa kegelisahan bukanlah sesuatu yang abstrak atau jauh dari kehidupan, kegelisahan datang dalam bentuk keputusan-keputusan kecil yang terus diulang. Bearti dapat saya simpulkan bahwa kegelisahan menjadi pengalaman yang kolektif bisa dirasakan banyak subjek, tetapi tetap dijalani secara terselubung.
Di Indonesia, kegelisahan ini diperkuat oleh perubahan sosial yang bergerak cepat namun tidak senantiasa merata. Di satu sisi, modernitas menawarkan kebebasan subjek, tetapi di sisi lain, nilai-nilai tradisional seperti “menjadi anak yang membanggakan keluarga” atau “mengikuti jalur aman” masih sangat dominan. Akibatnya, subjek tidak hanya berhadapan dengan pilihan hidup, tetapi juga dengan beban moral dan kultural yang melekat. Kegelisahan yang muncul bisa berkaitan dengan persoalan personal, bisa juga tentang persimpangan antara identitas modern dan akar kolektif yang belum sepenuhnya ternegosiasi.
Kebingungan terhadap diri sendiri sejatinya merupakan fase penting dalam perjalanan manusia. Ketika subjek mulai bertanya “siapa aku sebenarnya?” atau “ke mana arah hidupku?”, bearti subjek sedang memasuki tahap kesadaran yang lebih dalam. Namun, tanpa pemahaman yang tepat, fase ini dapat berubah menjadi overthinking, keraguan berlebih, bahkan kelelahan emosional. Banyak subjek akhirnya menjalani hidup secara “autopilot” mengikuti arus tanpa benar-benar memahami pilihan yang diambil. Refleksi menjadi kunci untuk membedakan antara keinginan yang lahir dari diri sendiri dengan dorongan yang berasal dari lingkungan. Dengan demikian, kebingungan tidak lagi dipandang sebagai kelemahan, kebingungan dipandang sebagai ruang untuk mengenal diri secara terus terang dan esensial.
Saya melihat bahwa kebingungan diri bukan hanya pengalaman psikologis, kebingungan juga termasuk pengalaman eksistensial yang menuntut keberanian. Tidak semua subjek siap berhadapan dengan dirinya sendiri secara terus terang, karena refleksi sering kali membuka luka, ketakutan, dan ketidaksesuaian antara diri yang diharapkan dan diri yang nyata. Namun justru di situlah letak pertumbuhan. Dalam konteks subjek Indonesia yang cenderung menghindari konflik batin secara terbuka, introspeksi menjadi tindakan yang hampir “melawan arus” sebuah usaha seorang diri untuk tidak hanya hidup, tetapi benar-benar memahami hidup itu sendiri.
Baca juga:
- Menyiksa Diri Sendiri dalam Neraka Paling Sunyi
- Fenomenologi Eksistensial dan Pengalaman Subjek Indonesia Modern
Di tengah tarik-menarik antara kebebasan modern dan tekanan sosial yang begitu kuat, kegelisahan bukan hanya peristiwa yang harus dipahami. Kegelisahan harus diakui sebagai bagian sah dari pengalaman menjadi manusia Indonesia hari ini. Saya tidak melihat kegelisahan sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan atau diselesaikan dengan cepat. Kegelisahan dapat kita jadikan sebagai ruang dialog antara diri dan realitas. Justru ketika subjek berani tinggal sejenak dalam kegelisahannya tanpa terburu-buru mencari pelarian di situlah kemungkinan untuk menemukan kejujuran diri mulai terbuka. Dalam konteks ini, menjadi diri sendiri bukanlah tindakan instan. Menjadi diri sendiri merupakan keberanian yang terus dilatih, terutama di tengah subjek yang sering kali lebih menghargai kesesuaian daripada keaslian.
Kegelisahan yang dialami manusia modern Indonesia dapat dipahami secara lebih mendalam melalui pemikiran Søren Kierkegaard, khususnya tentang kecemasan sebagai konsekuensi dari kebebasan. Kierkegaard memandang bahwa subjek tidak hanya hidup, tetapi terus-menerus dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan yang menuntut pilihan. Dalam situasi inilah kegelisahan muncul bukan sebagai kelemahan, kegelisahan muncul sebagai tanda bahwa subjek sedang berada di ambang kesadaran eksistensialnya.
Ketika subjek merasa bingung, ragu, atau tidak yakin terhadap jalan hidupnya, sejatinya ia sedang berhadapan dengan kebebasannya sendiri, sesuatu yang sekaligus membebaskan dan menakutkan. Dalam konteks subjek Indonesia yang masih kuat dengan tuntutan kolektif, kegelisahan ini sering kali semakin intens karena subjek tidak hanya memilih untuk dirinya sendiri, tapi juga bernegosiasi dengan harapan sosial. Oleh karena itu, kegelisahan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dihadapi sebagai momen penting untuk melakukan “lompatan eksistensial” sebuah keputusan sadar untuk menjadi diri sendiri, meskipun harus meninggalkan kenyamanan yang semu.
Dalam perspektif filsafat eksistensial, Søren Kierkegaard menjelaskan bahwa kegelisahan adalah konsekuensi dari kebebasan manusia. Dalam karyanya The Concept of Anxiety, Kierkegaard menggambarkan kegelisahan sebagai “kemungkinan dari kemungkinan” yakni kesadaran bahwa subjek memiliki banyak pilihan dalam hidupnya. Kegelisahan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, kegelisahan adalah kondisi yang menandai bahwa subjek sedang berada dalam proses menjadi dirinya sendiri. Lebih lanjut, dalam The Sickness Unto Death, Kierkegaard menyebut keputusasaan sebagai bentuk keterasingan dari diri sejati. Artinya, ketika subjek tidak mampu menjadi dirinya sendiri, subjek akan mengalami kegelisahan yang lebih dalam. Pemikiran ini menegaskan bahwa kebingungan diri bukanlah kegagalan, kebingungan adalah bagian dari dinamika eksistensi manusia.
Pemikiran Søren Kierkegaard menjadi relevan dalam konteks Indonesia karena ia tidak berbicara tentang subjek secara abstrak, melainkan subjek yang konkret merasakan gelisah, ragu, dan terjebak dalam pilihan. Subjek yang sering menilai keberhasilan dari standar eksternal, gagasan Kierkegaard tentang “menjadi diri sendiri” justru menjadi kritik yang tajam. Kierkegaard menolak kehidupan yang hanya mengikuti arus dan menekankan pentingnya lompatan iman, keputusan personal yang tidak selalu dapat dijelaskan secara rasional, tetapi harus dijalani secara otentik. Dengan demikian, kegelisahan bukan hanya dijelaskan, tetapi juga diberi makna sebagai jalan menuju keutuhan diri.
Kegelisahan dan kebingungan diri bukanlah sesuatu yang harus segera dihilangkan, hal tersebut harus dipahami dan dijalani dengan kesadaran. Dalam setiap kebingungan, terdapat peluang untuk mengenal diri lebih dekat. Barangkali, yang dibutuhkan bukan jawaban instan, yang dibutuhkan yaitu keberanian untuk tetap berjalan di tengah ketidakpastian. Menjadi diri sendiri bukanlah hasil dari satu keputusan besar, menjadi diri sendiri bisa kita akumulasi dari pilihan-pilihan kecil yang diambil dengan sadar. Oleh karena itu, penting bagi setiap subjek untuk memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk bertanya, meragukan, sekaligus menemukan. Sebab pada akhirnya, kegelisahan bukanlah akhir dari perjalanan. Kegelisahan adalah bagian dari proses menuju pemahaman diri yang lebih utuh dan autentik.
Baca juga:
Maka, dalam kegelisahan yang dirasakan hari ini, saya memandang bahwa subjek Indonesia modern sedang berada dalam fase pencarian identitas yang belum selesai. Di antara tuntutan zaman dan suara batin, setiap subjek dihadapkan pada pilihan yaitu hidup sebagai bayangan dari harapan orang lain, atau berani menjadi dirinya sendiri meski penuh ketidakpastian. Barangkali, kegelisahan itu sendiri adalah tanda bahwa kita masih hidup secara sadar. Selama kegelisahan itu masih ada, harapan untuk menemukan diri yang autentik pun belum sepenuhnya hilang.
Sejatinya kita ingin terlihat baik-baik saja padahal kita sedang mempersoalkan lika-liku kehidupan yang kita jalani setiap harinya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
