Belakangan ini, rasa percaya terhadap orang lain menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Bahkan mungkin dapat dikatakan hampir punah. Kepercayaan—yang seharusnya menjadi pondasi kuat dalam membangun kehidupan sosial—perlahan makin retak.
Menariknya, hal ini bukan hanya terjadi dalam skala besar seperti masyarakat yang tidak percaya pada gerombolan pemerintah saja, melainkan juga terjadi dalam skala kecil, misalnya dalam lingkungan pertemanan, atau bahkan lingkungan keluarga. Krisis kepercayaan bukan sekadar persoalan psikologis seseorang, melainkan masalah struktural yang serius.
Mengapa demikian? Kita tentu sama-sama tahu bahwa krisis kepercayaan dapat memengaruhi cara masyarakat berpikir, bertindak, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Ketika kepercayaan melemah, ruang publik perlahan menjadi rapuh, dan kebenaran akan kehilangan tempat untuk berpijak.
Ketika Janji Tidak Lagi Bermakna
Fenomena krisis kepercayaan tidak mungkin terjadi begitu saja. Ia tumbuh dan berkembang dari pengalaman panjang masyarakat yang seringkali berhadapan dengan janji-janji yang tak kunjung dipenuhi. Janji, yang seharusnya menjadi kontrak moral antara pengucap janji dengan pihak yang diberikan janji semakin hari semakin mengalami pemudaran makna. Ia sangat mudah untuk diucapkan, tetapi di sisi lain sangat sulit pula untuk dibuktikan.
Baca juga:
Ketika jarak antara kata dan tindakan terlalu lebar, di situ kepercayaan perlahan terkikis. Masyarakat belajar untuk tidak berharap, sebab menaruh harapan berarti bersiap untuk kecewa. Dalam situasi seperti ini, pengabaian terhadap janji bukan lagi bersifat insidental, melainkan telah menjadi pola yang terus terulang dan akhirnya membentuk sikap sosial.
Di titik ini, ketidakpercayaan berkembang menjadi mekanisme pertahanan. Meragukan segala sesuatu kini dianggap lebih aman dibandingkan mempercayai dan kembali dikecewakan.
Skeptis vs Sinis
Ironisnya, ketidakpercayaan tidak selalu melahirkan sikap skeptis. Dalam banyak kasus, krisis kepercayaan justru melahirkan sinisisme.Kedua sikap ini memiliki perbedaan yang cukup jelas.
Seseorang dengan sikap skeptis akan menahan dirinya untuk percaya terhadap suatu hal sambil berupaya mencari untuk membuktikan kebenaran. Sementara itu, seseorang dengan sikap sinis secara otomatis akan beranggapan bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh orang lain hanya ditujukan untuk kepentingan lain yang menguntungkan orang tersebut.
Orang-orang dengan sikap sinis akan berhenti mencari kebenaran karena merasa semua pihak sama saja. Ketika kepercayaan telah hilang, maka yang tersisa hanyalah kebisingan opini tanpa ada landasan kepercayaan.
Memudarnya Solidaritas
Krisis kepercayaan yang dibiarkan dalam jangka waktu berkepanjangan bukan hanya akan berdampak buruk pada hubungan masyarakat dengan institusi atau pemerintah, melainkan juga pada hubungan antarmanusia. Ketika ketidakpercayaan telah mendarah daging dalam kehidupan sosial, maka rasa empati pun perlahan akan ikut terkikis. Dalam kondisi tersebut, setiap tindakan cenderung dibaca melalui kacamata curiga, bahkan setiap bantuan yang diberikan orang lain akan dipertanyakan motifnya.
Jika hal semacam ini dibiarkan semakin lama, solidaritas sosial pun akan semakin melemah, sebab rasa saling percaya adalah syarat paling penting untuk membangun kerja sama yang baik. Tanpa rasa saling percaya, manusia akan mudah dibenturkan atau diadu domba oleh isu-isu yang seharusnya dapat diselesaikan secara kolektif. Perbedaan pendapat yang seyogyanya dapat diselesaikan melalui komunikasi sederhana justru berkembang menjadi pertikaian yang berkepanjangan.
Ruang kompromi juga akan semakin menyempit, bahkan benar-benar menghilang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa krisis kepercayaan bukan hanya persoalan moral atau psikologis, melainkan ancaman nyata bagi kohesi sosial dan keberlangsungan hidup manusia sebagai makhluk sosial.
Membangun Kembali Kepercayaan
Kini pertanyaannya adalah bagaimana cara membangun kembali kepercayaan umat manusia di tengah gempuran krisis kepercayaan?
Kepercayaan tentu tidak dapat dipulihkan hanya dengan kampanye atau sosialisasi semata. Kepercayaan dibangun melalui proses yang panjang dan menuntut konsistensi di dalam prosesnya. Perjalanan untuk membangun kepercayaan tidak selalu harus dimulai dari hal-hal yang besar, tetapi harus dimulai dari diri kita sendiri.
Sebagai langkah awal, kita secara pribadi harus memiliki transparansi dan kejujuran terhadap orang lain dan lingkungan kita, sebab hal itu adalah fondasi yang paling penting dan utama. Keterbukaan terhadap orang lain akan membantu untuk mengurangi timbulnya kecurigaan. Transparansi bukan berarti membuka segala hal tentang diri kita kepada orang lain tanpa ada batasan, melainkan kesediaan untuk tidak menyembunyikan kebenaran demi keuntungan diri sendiri.
Selain itu, diperlukan juga keberanian untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan dan tindakan yang diambil. Di tengah fenomena kehidupan masa kini yang sering kali mengkambinghitamkan orang lain atas kesalahan kita, sikap bertanggung jawab justru menjadi hal yang langka. Tanpa akuntabilitas, transparansi akan kehilangan maknanya, sebab keterbukaan yang tidak diiringi tanggung jawab hanya akan menjadi formalitas semata.
Lebih dari itu, kepercayaan dapat tumbuh ketika seseorang memiliki keberanian dan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan. Mengakui kesalahan bukan berarti menunjukkan bahwa kita lemah, melainkan menunjukkan bahwa kita telah dewasa secara moral. Sikap ini menandakan bahwa kebenaran lebih penting dibandingkan ego pribadi, dan perbaikan lebih penting dibandingkan pembenaran diri.
Baca juga:
Pada akhirnya, krisis kepercayaan yang dibiarkan dalam jangka waktu berkepanjangan akan menyebabkan kata-kata kehilangan nilai, tindakan kehilangan makna, dan kehidupan sosial kehilangan arah. Namun, sejauh kepercayaan tersebut dibangun oleh manusia, sejauh itu pula kepercayaan dapat dipulihkan.
Proses pemulihan tersebut menuntut kesadaran, kejujuran, dan konsistensi yang harus dimulai dari diri sendiri dan kemudian diperluas ke ruang sosial yang lebih luas. Di tengah dunia yang kian dipenuhi kecurigaan, menjaga dan merawat kepercayaan mungkin terasa sulit. Akan tetapi justru di sanalah letak tanggung jawab moral kita bersama: agar kehidupan sosial tidak hanya terus berjalan, tetapi juga tetap manusiawi. (*)
Editor: Kukuh Basuki
