Menjelang akhir tahun ini, terdapat suatu panggung atraksi yang diisi oleh para akademisi. Gegap gempitanya memanas di ruang kerja hingga ruang digital pada grup WhatsApp yang biasanya hanya melantangkan ucap bahagia atau duka. Selamat datang di panggung atraksi bernama pengajuan hibah Kemdiktiristek.
Sejak disosialisasikan pada November 2025, hampir semua akademisi di penjuru nusantara lebih banyak berinteraksi pada layar-layar portal BIMA. Ada ruang berpikir dalam keseharian yang disempatkan untuk memenuhi kebutuhan. Tiap kata ditata menjadi judul, kata kunci, dan narasi yang diminta. Skema dipilih seteliti mungkin. Anggota diajak secara bahagia dan tidak jarang pula yang terpaksa. Anggaran ditata sedemikian rupa. Semua dikerjakan secepat mungkin sebelum dentang lonceng tanda berakhirnya skema pendanaan dibunyikan.
Sampai hari ini hibah menjadi upaya negara meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan perluasan dampak sosial. Sebuah upaya agar riset tidak usang di lautan kanal dan agar peran manusia bukan hanya lantang dibicarakan dalam layar salindia. Namun kenyataan di lapangan tidak senantiasa berorientasi pada tujuan mulia tersebut. Hibah menjadi alat bertahan hidup, bahan bakar dapur, dan mantra penyeragaman. Ilmu pengetahuan di masa ini masih bekerja di bawah tekanan.
Meski stigma masyarakat melihat pendapatan seorang akademisi ada pada kategori layak, pada kenyataannya nominal yang diterima tidak sepenuhnya sepadan. Meski sertifikasi digadang menjadi solusi, pada praktiknya banyak pihak akademisi yang masih goyah menyeimbangkan laku keluarga dan Tri Dharma. Realitas ini yang menciptakan perspepsi hibah sebagai penambal terjal. Hibah penelitian dan pengabdian adalah napas bantuan untuk kebanyakan para cendekiawan.
Baca juga:
Kesamaran anggaran bukan lagi rahasia yang tabu dibicarakan. Pos-pos anggaran harus diatur sejeli mungkin selaras dengan nota-nota yang memungkinkan untuk diadakan tanpa pembelanjaan. Semua kriteria pada rancangan anggaran belanja harus disiasati agar ada oleh-oleh yang bisa dibawa pulang. Bukan untuk mencapai kemewahan namun untuk bertahan dalam keadaan.
Di sisi gelap lainnya, bukan menjadi rahasia ketika dana yang seharusnya menjadi hak mitra pun tidak selalu benar-benar tiba di rekening mitra. Nama-nama mitra dapat dihadirkan di atas kertas tanpa pernah sepenuhnya hadir di lapangan. Penerima dana bisa dilaporkan sebagai mitra tanpa perlu mengungkap bahwa itu adalah keluarga. Identitas dicantumkan, tanda tangan direproduksi, cap disematkan, sementara relasi kemitraan berhenti sebagai formalitas administratif. Mitra menjadi figur yang sah secara dokumen, tetapi samar dalam realitas. Manipulasi di tahap ini bukan sebagai pelanggaran etik, melainkan kebutuhan untuk menjadi cerdik.
Kolaborasi Semu
Pemilihan anggota riset yang seharusnya membuka ruang kolaborasi yang humanis, berubah menjadi kolaborasi pemenuhan admnistrasi. Sekadar ada agar bisa submit tahap selanjutnya. Keahlian harus bisa dicocokkan dengan memikirkan kontribusi nyata belakangan. Relasi akademik antarakademisi menjadi sangat transaksional. Belum lagi akademisi yang menjerat mahasiswa untuk dilibatkan dengan upah yang tidak sepadan dan ancaman kelulusan. Mitra-mitra hanya mengangguk ‘iya’ secara transaksi administrasi tanpa ada komitmen keberlanjutan relasi. Kolaborasi yang sama sekali tidak membentuk atmosfer ilmiah jangka panjang, melainkan koalisi akademis yang politis.
Ironisnya akademisi-akademisi ini tetap lantang di kelas soal kualitas integritas. Kejujuran dan etika ilmiah selalu terdengar keras di ruang kelas. Terasa ada jarak antara sesuatu yang diajarkan dan sesuatu yang dilakukan. Namun tentu ada yang harus diabaikan untuk memastikan hidup terus berjalan, termasuk mengesampingkan kemanusiaan.
Lewat pengajarnya di kelas, mahasiswa tumbuh dalam ruang akademik melihat realitas bahwa sistem harus bekerja apapun kondisinya tanpa belajar dasar pemahaman bahwa pengetahuan harus mengedepankan kejujuran. Mereka menjadi saksi idealisme yang bisa dinegosiasi. Perihal kerapian yang sebenarnya berantakan. Di dalam kelas, mahasiswa dituntut menjadi adaptif meski para pengajarnya lebih banyak mengejar catatan numeral pada borang akreditasi
Penghujung atraksi pengajuan hibah ini menghasilkan banyak gagasan-gagasan dalam tabel-tabel format proposal. Bukan peristiwa mengagetkan ketika mendapati semuanya tidak selalu lahir dari kegelisahan intelektual. Beberapa judul memilih untuk berpusat pada popularitas ilmiah, bukan otetisitas. Pengetahuan di kontestasi ini menjadi produk yang mengejar setoran, bukan perbaikan. Asta Cita, SDGs, STEAM harus ditampakkan agar terlihat menjanjikan meski kadang para akademisi ini mengerutkan jidat memaksa keterkaitan. Banyak yang memang selaras dengan keilmuan, namun banyak juga dipaksakan. Atas nama skema, para akademisi harus memahami skena.
Fenomena ini sering kali berdampak pada nihilnya urgensi. Penelitian dan pengabdian terjadi tanpa relasi. Masyarakat hanya objek administrasi, bukan objek inovasi. Luaran-luaran punya masa kedaluwarsa, yang penting masih awet sampai masa monitoring evaluasi berakhir. Antusiasme hanya terjadi pada pemantauan dan pelaporan sebelum kembali menjadi figuran. Artikel-artikel ditulis demi pembelanjaan anggaran, bukan urgensi pengetahuan. Modul-modul disusun setebal mungkin semata agar tim monitoring evaluasi yakin. Produk-produk ditata sefungsional mungkin sebelum kembali ke ruang arsip untuk dibuka lagi ketika akreditasi.
Monitoring evaluasi sendiri diselenggarakan sebagai upaya penjaminan mutu namun tidak jarang menjadi atraksi selanjutnya: panggung administrasi. Presentasi harus disusun sebaik mungkin beserta produk, poster, dan tetek bengek lainnya agar cakap ketika didokumentasi pada laporan kinerja. Semua hanya rangkaian peristiwa di bawah sorot lampu yang menyimpan gelap di sekitarnya. Semua tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan monitoring evaluasi tidak lebih dari memastikan bahwa dana yang digunakan tidak masuk rekening peneliti dan pengabdi. Padahal ada dampak sosial yang harus lebih diselidiki. Ada keberlanjutan yang harus ditelusuri. Ada relasi dengan masyarakat yang harus berlanjut meski anggaran telah berakhir.
Namun nyatanya sistem monitoring dan evaluasi tidak pernah menuntut lebih. Selama semua tercatat diterima oleh orang lain, dokumen yang diminta panduan lengkap, video sesuai ketentuan, selama kalimat-kalimat di atas kertas berbunyi sesuai luaran dan tuntutan pedoman, maka penelitian dan pengabdian yang telah dilakukan dinyatakan berdampak.
Paradoks Tuntutan Akreditasi
Tentu ironi tidak berhenti sampai di sini, ketika mendapati hibah bukan hanya memiliki fungsi sebagai instrumen peningkatan pengetahuan, melainkan menjadi instrumen peningkatan akreditasi. Kondisi ini terasa menjadi permasalahan struktural yang terlanjur kokoh.
Universitas melihat hibah sebagai bukti kerja. Jumlah judul, total dana, jenis skema, luaran-luaran, adalah harta karun untuk borang yang mendukung citra institusi. Kondisi ini menciptakan lingkungan riset dan karya pelayanan di masyarakat sebagai upaya kemanusiaan melainkan target pencapaian.
Akademisi tumbuh sebagai buruh pencetak angka, bukan pencetak manusia yang manusia. Kewajiban meneliti dan mengabdi adalah tugas administrasi yang lebih sering berangkat bukan dari hati nurani. Urgensi yang dirasakan adalah solusi yang perlu ditangani melainkan jumlah hibah yang perlu dicapai.
Sistem akreditasi yang seharusnya menjamin keselarasan mutu dengan kebutuhan zaman, bertransformasi menjadi instrument penyeragaman yang mekanis dan tidak humanis. Visi transformasi berhenti pada standar ketercapaian, bukan standar kemanusiaan. Atas nama isian borang, semua harus berjalan meski tunggang-langgang.
Baca juga:
Padahal kata integritas,berdampak, keberlanjutan, dan kemanusiaan terus menjadi jargon-jargon pada panduan meski jarang dihidupi. Jargon ini sekadar ornamen, bukan komitmen. Tampil sebagai pemanis salindia, namun absen pada realitas sehari-hari. Di titik ini, akademisi ada bukan untuk membentuk rasa namun membentuk angka.
Semua akdemisi tahu proses yang terjadi, dan justru karena memilih memaklumi. Maklum ketika gagasan dipaksakan. Maklum ketika anggaran disiasati. Maklum ketika luaran sebenarnya tidak menjawab kebutuhan lapangan. Dan mungkin di sini letak tragedinya: pengetahuan tidak runtuh karena keengganan orang lain untuk mendapatkannya, tetapi oleh kebiasaan memaklumkan sesuatu yang tidak layak dimaklumi.
Jika suatu hari mahasiswa produk para akademisi ini mengulangi pola yang sama, barangkali bukan karena generasi mereka yang bermasalah dalam belajar, tetapi justru karena mereka belajar dengan sangat baik dari para akademisi yang mengajar mereka.
Selamat berkontestasi. (*)
Editor: Kukuh Basuki
