Dulu saat sekolah, beberapa anak yang kecerdasannya biasa saja, tetapi nilainya di atas rata-rata. Saya merasa tidak kalah pintar dengan mereka. Hanya saja mungkin kalah rajin. Bukan rajin belajar yang memang harus dilakukan. Namun, mereka punya kesempatan untuk bisa les.
Saya tidak tahu harga pastinya berapa untuk satu bulan les. Mata pelajaran yang ditawarkan biasanya memiliki pengaruh terhadap kenaikan kelas. Juara kelas saya waktu itu tidak ikut les sama sekali. Dia memang sudah sangat pintar dan tidak satu pun orang-orang yang ikut les bisa melampaui nilainya.
Kecenderungan orang untuk mengeluarkan sejumlah uang demi mempermudah hidup sebenarnya terjadi di banyak hal. Mulai dari hal yang serius seperti les atau bimbingan belajar, hingga soal menjadi yang terbaik di dalam game.
Baca juga:
Saya ingat ketika kuliah saya bisa mengeluarkan uang satu juta rupiah untuk top up. Ada satu pemain yang bikin gregetan karena dia banyak bacot. Dia merasa lebih jago dan suka menantang sana-sini. Karakter yang dia kembangkan memang jago, saya pun terpancing untuk “melukai” kehebatannya.
Sebagai anak kuliah yang uangnya tidak seberapa, uang lima ratus ribu tentu sangat besar. Bagi saya, jauh lebih penting hebat di dalam game karena waktu itu skripsi saya molor tiga semester.
Meski sudah mengeluarkan uang banyak, saya masih belum bisa menang. Dia juga ternyata tidak berhenti top up yang lebih gila dari saya. Mungkin dia sudah habis puluhan juta, tetapi dia bisa dengan bangga meledek siapa saja termasuk saya. Istilah di dalam game tersebut biasanya disebut dengan pay to win.
Butuh uang? Cari kerja juga keluar uang
Saat lulus kuliah, fokus setiap orang tentu mencari uang. Entah menjadi pengusaha atau bekerja di suatu perusahaan. Jika pilihannya adalah bekerja dengan orang lain, maka perlu membuat lamaran dalam bentuk curriculum vitae (CV). Ketika awal-awal cari kerja dulu, ada beberapa orang yang membuka berbagai macam jasa untuk mempermudah pengangguran dapat kerja. Salah satunya pembuatan CV.
Waktu itu saya penasaran dengan jasa ini. Penyedia jasa memberi fasilitas yang lumayan banyak. Mulai dari template dan jasa review CV, hingga fasilitas kelas untuk peningkatan keterampilan kerja. Harganya saat itu bisa mencapai dua ratus hingga ratus ribu. Angka itu tentu sangat besar untuk seseorang yang belum menghasilkan uang sama sekali.
Untuk pekerja paruh waktu atau freelance juga mengalami kesulitan yang sama. Platform Upwork yang sangat terkenal itu juga sudah membatasi freelancer untuk apply pada sebuah pekerjaan. Mereka perlu membeli connect, semacam poin yang dibutuhkan untuk mengajukan proposal. Seratus connect harganya bisa ratusan ribu. Itu pun belum tentu kita berhasil mendapatkan proyek di sana. Hanya sekadar menunjukkan keseriusan seseorang untuk mencari pekerjaan.
Untuk terkenal juga butuh modal
Waktu pandemi Covid-19, jadi kesempatan saya mencoba beberapa hal menarik. Saya cukup sering membuat konten di sosial media, tetapi kurang mendapat jangkauan yang luas. Pilihannya waktu itu adalah membuat iklan atau nebeng nama di akun yang sudah eksis dan punya banyak pengikut (endorse). Itu pun perlu membayar sejumlah uang.
Saat sudah banyak orang yang menyukai karya saya, tuntutan mereka semakin besar pula. Maka saya perlu membeli alat-alat tambahan. Ponsel baru khusus untuk konten, segala hal untuk livestream, meja, kursi, dan banyak lagi. Pendapatan saya dari buat konten, sudah habis dulu buat alat-alat itu. Jika tidak begitu, bisa jadi saya kehilangan banyak pengikut.
Menulis juga butuh modal
Untuk kasus menulis mungkin cukup kompleks karena ada banyak variabel. Namun, saya yakin menulis bukan hanya persoalan bakat semata. Seorang penulis yang baik pasti telah menghasilkan banyak tulisan yang buruk sebagai bentuk latihan.
Setelah lama bergelut di sini, menjadi penulis yang baik itu sederhana saja. Kita hanya perlu menulis dengan baik. Jika tidak tahu caranya, tinggal lihat dan amati tulisan yang baik saja. Jika tidak bisa membedakan mana tulisan yang baik dan tidak, di sanalah kita harus membayar kelas menulis.
Baca juga:
Dari analogi itu saja sebenarnya terlihat, bahwa pay to win sebenarnya membayar ketidaktahuan saja. Mungkin juga membayar ketidakmampuan seseorang untuk bisa tahu. Maka, pengetahuan (mengenai apa saja) sebenarnya adalah sebuah privilese.
Meski begitu, pengetahuan yang acak atau terpencar ke mana saja juga perlu dirapikan. Mengelompokkan pengetahuan satu dengan pengetahun sejenis juga perlu pengetahuan lagi. Sebenarnya kita sudah tahu, tetapi kita membayar untuk memudahkan hidup saja. Singkatnya hidup ini ruwet, kitanya saja yang malas merapikan.
Maka, skema pay to win ini akan terjadi di mana saja dan kapan saja. Untuk mendapat jodoh, atau jangankan jodoh, untuk berkenalan dengan lawan jenis kita perlu membayar. Pada beberapa aplikasi kencan online, untuk meningkatkan peluang mendapat pasangan bisa dengan upgrade ke premium. Tawaran pada akses premium memudahkan pengguna dalam mendapat lawan jenis atau seseorang yang mereka harapkan.
Dari sekolah hingga jodoh, semua ada celah pengetahuan yang diisi dengan cara “bayar”. Ini tentu jadi tidak adil bagi orang yang uangnya tidak banyak. Realitas yang terjadi bisa saja yang kaya semakin kaya karena suatu sistem. Pada akhirnya kerja keras tetap menjadi hal penting, tetapi top up membuat isi dompet jadi genting. (*)
Editor: Kukuh Basuki
