Madiun Putra: Klub yang Diselamatkan oleh Suporternya

Rizhal Putra

3 min read

Bagi sebagian orang, Madiun hanyalah kota kecil di Jawa Timur. Tapi bagi para pendukung setia klub lokalnya, Madiun adalah tempat lahir cinta pertama pada sepak bola yang bertahan meski sering tak diberi panggung. Di kota ini, sepak bola hidup di tengah keterbatasan, tapi tak pernah kehilangan gairah. Dua klub, PSM Madiun yang menyandang nama besar sebagai salah satu pionir sepak bola nasional dan Madiun Putra yang lahir dari semangat baru generasi muda menjadi simbol betapa kota ini tak pernah benar-benar jauh dari sepak bola.

Meski keduanya tak berlaga di kasta atas, kehadiran PSM dan Madiun Putra tetap punya tempat penting di hati warga. Dari tribun Stadion Wilis yang kadang sepi, kadang riuh, hingga ke gang-gang sempit tempat anak-anak bermain bola dengan mengenakan seragam kebanggaan mereka, semangat mendukung klub lokal terus terjaga. Ada kisah-kisah sederhana tapi bermakna, yaitu tentang suporter yang tetap hadir meski tim kalah beruntun, tentang relawan yang mengurus klub tanpa pamrih, dan tentang komunitas yang menolak menyerah pada keadaan.

Di tengah gempuran industri sepak bola, cerita sepak bola Madiun mungkin terlihat kecil. Tapi justru di situlah kekuatannya mereka bertahan, berjalan pelan, namun tidak pernah padam. Karena selama masih ada yang menyebut nama PSM dan Madiun Putra dengan bangga, maka selama itu pula, sepak bola Madiun akan tetap hidup.

Baca juga:

Saya lahir di awal tahun 2000-an, ketika stadion Wilis masih sering dipakai untuk pertandingan-pertandingan besar, meski bukan milik klub Madiun. Pertandingan pertama yang saya saksikan langsung di sana adalah Persekabpas Pasuruan melawan Arema Malang tahun 2005 dengan laga yang berakhir ricuh.

Setelah pengalaman ricuh itu, pertandingan kedua yang saya tonton di Stadion Wilis jauh berbeda suasananya. Kali ini, saya menyaksikan Madiun Putra bertanding dalam momen penting menjelang lolos ke Divisi Utama di akhir 2010-an. Saya masih ingat betul bagaimana rasanya hari itu bukan hanya soal siapa lawannya atau berapa skor akhirnya, tapi bagaimana kami sampai ke stadion. Boncengan berempat naik motor Honda Astrea bersama Pak Puh (paman) dan dua saudara lainnya, berdesakan masuk tribun VIP, dan bawa bekal makanan ringan dari rumah. Kami hanya punya dua lembar tiket VIP, tapi entah bagaimana, itu cukup untuk membawa kami semua masuk.

Suasananya masih tertanam jelas di ingatan: tribun VIP yang penuh, suara drum dan teriakan suporter, bau rumput yang samar-samar terbawa angin malam, dan harapan besar yang terasa menguap ke langit-langit stadion. Hari itu, untuk pertama kalinya, saya melihat Madiun Putra bukan hanya sebagai klub, tapi sebagai bagian dari identitas kota. Klub ini bukan milik pemain atau manajemen semata, tapi milik siapa saja yang rela boncengan berempat demi masuk stadion, siapa saja yang bersedia bersorak dari awal sampai akhir meski tidak tahu nama semua pemainnya. Hari itu, saya mulai merasa menjadi bagian dari sesuatu, sekecil apa pun itu.

Solidaritas Suporter

Tapi sekarang, suasananya jauh berbeda dari apa yang dulu saya alami. Kalau dulu saya datang ke stadion dengan harapan menyaksikan tim kebanggaan berjuang naik kasta, kini justru bayang-bayang ketidakpastian yang menyelimuti setiap awal musim. Menjelang kompetisi, para suporter harus bertanya-tanya sendiri: apakah Madiun Putra akan bermain atau tidak? Dan kalau pun bermain, siapa yang akan mengelola klub ini? Tidak ada kejelasan, tidak ada komunikasi terbuka, dan yang tersisa hanyalah rasa khawatir dari mereka yang masih peduli.

Baca juga:

Madiun Putra kini berada di kasta terbawah sepak bola Indonesia, Liga 4, sebuah posisi yang menyakitkan mengingat betapa besarnya potensi dan semangat yang pernah dimiliki klub ini. Pada tahun 2022, Madiun Putra dihadapkan pada sanksi administratif berupa denda sebesar Rp25 juta rupiah akibat pengunduran diri secara sepihak lanjutan Liga 3 Jawa Timur 2019. Tidak adanya kejelasan dari pihak manajemen membuat posisi klub saat itu benar-benar berada di ujung tanduk. Tidak hanya terancam gagal tampil musim berikutnya, tetapi juga bisa kehilangan status keanggotaannya secara permanen.

Namun ketika pihak klub diam, suporter tidak tinggal diam. Alih-alih menunggu inisiatif dari pengurus klub yang tidak jelas keberadaannya, justru suporter yang turun tangan langsung. Mereka membuka donasi secara terbuka melalui media sosial dan jaringan pertemanan, mengajak siapa pun yang peduli untuk ikut urunan demi satu tujuan agar Madiun Putra bisa kembali terdaftar dalam kompetisi.

Selama kurang lebih dua minggu, pengumpulan dana dilakukan secara swadaya, transparan, dan dicatat terbuka oleh media komunitas Madiun Football. Donasi itu kemudian diserahkan langsung ke Asprov PSSI Jawa Timur sebagai pelunasan denda administrasi. Dan dari keberhasilan itu, tidak ada sambutan dari pengurus klub. Namun bagi para suporter yang terlibat, momen itu adalah bukti nyata dari rasa memiliki. Mereka menyebut gerakan ini #DibayariCahCah sebuah ungkapan yang berarti “dibayari oleh anak-anak sendiri”. Bukan sekadar soal uang yang terkumpul, tapi tentang solidaritas yang tumbuh di antara orang-orang yang bahkan tidak selalu saling mengenal.

Menunggu Kepastian

Bayang-bayang suram musim ini kembali menggerogoti. Setelah Madiun Putra absen di Liga 4 musim lalu, kekhawatiran serupa kembali muncul. Tidak ada kabar resmi, tidak ada penjelasan dari pihak klub, hanya diam yang terus berulang. Padahal tahun ini, mau tidak mau, bisa tidak bisa, klub harus mengikuti kompetisi. Bukan karena ambisi juara, tetapi demi menghindari sanksi paling berat: pencoretan dari keanggotaan Liga 4. Jika sampai itu terjadi, bukan hanya hak untuk bertanding yang hilang, tapi juga eksistensi klub secara struktural di bawah naungan federasi.

Dan seperti musim-musim sebelumnya, tekanan itu kembali jatuh bukan di pundak pengurus yang tak terlihat, melainkan di pundak suporter. Klub bisa kalah, bisa turun kasta, bisa terseok. Tapi kalau dibiarkan mati, maka yang mati bukan hanya tim, tapi juga harapan yang pernah tumbuh yang ada di benak para masyarakat dan suporter Madiun Putra.

 

Rizhal Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email