Menjadi Modern Tanpa Kehilangan Akar

Wanda Purwandari

2 min read

Mengapa Kita Baru Berbicara tentang Ketahanan Pangan Ketika Sawah Mulai Menghilang?

Alih fungsi lahan menjadi area industri, tempat tinggal, hingga pusat belanja semakin  sulit untuk dihindari. Di banyak wilayah, ladang yang dulunya menjadi sumber makanan perlahan-lahan berubah menjadi susunan gedung. Sementara itu, topik mengenai ketahanan pangan kembali hangat dibahas. Kita  mulai merenungkan bagaimana cara memenuhi kebutuhan makanan di  tengah pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak henti-hentinya, sementara lahan pertanian semakin menipis. Sungguh ironis, kepanikan itu hanya muncul ketika dampak mulai dirasakan.

Meskipun, jauh sebelum kata ketahanan pangan menjadi tema umum, komunitas adat telah lebih dahulu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya bisa ditemukan di Kampung Adat Cireundeu, yang terletak di Kota Cimahi. Hasil pembicaraan saya dengan salah satu tokoh masyarakat adat menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi rasi atau nasi singkong bukan disebabkan oleh kekurangan beras, tetapi merupakan warisan dari nenek moyang yang sudah ada sejak 1918. Para pendahulu mereka telah memikirkan bahwa pada suatu saat jumlah penduduk akan terus meningkat, sementara lahan pertanian tidak mungkin bertambah luas. Oleh karena itu, masyarakat diingatkan untuk tidak bergantung hanya pada satu jenis pangan.

Baca juga:

Pandangan itu semakin terasa penting saat ini. Di saat lahan pertanian semakin menurun karena peralihan fungsi lahan, penduduk Cireundeu sebenarnya sudah memiliki sistem ketahanan pangan yang dihasilkan dari tradisi lokal. Ini menimbulkan sebuah pertanyaan: apakah masyarakat adat benar-benar merupakan kelompok yang terbelakang, atau mereka justru telah menemukan metode hidup yang dapat mengatasi tantangan lingkungan saat ini?

Belajar dari Cireundeu: Tradisi yang Tidak Menolak Perubahan

Saat saya berkunjung ke Kampung Adat Cireundeu, saya tidak melihat komunitas yang terpisah dari kemajuan zaman. Pemimpin adat yang saya temui menggunakan ponsel pintar, memanfaatkan internet, dan mengungkapkan bahwa banyak generasi mudanya telah mengenyam pendidikan yang tinggi. Mereka memiliki kartu identitas, berpartisipasi dalam pemilu, serta menjalankan administrasi negara sama seperti warga negara Indonesia yang lainnya.

Namun, meskipun hidup di era modern, mereka tetap berpegang pada nilai-nilai budaya yang sudah ada. Padi tetap menjadi makanan utama yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi tetap dipelihara, demikian pula aturan-aturan budaya yang mengajarkan untuk menghormati alam dan hidup berdampingan.

Salah satu pernyataan yang paling membekas dalam ingatan saya dari wawancara itu adalah, “Kami menghargai nilai-nilai tradisi, namun tidak terjebak pada tradisi. Kami masih menjalankan tradisi, tetapi tidak tertinggal oleh kemajuan zaman.” Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa budaya tidak dilihat sebagai penghalang untuk perubahan, melainkan sebagai landasan dalam menghadapi perkembangan.

Tokoh tradisional juga mengungkapkan bahwa nenek moyang mereka telah memprediksi keadaan yang saat ini sedang berlangsung. Lahan pertanian dapat berubah menjadi area industri, perumahan, bahkan lokasi belanja. Apabila masyarakat hanya mengandalkan nasi sebagai sumber makanan utama, maka ketahanan pangan akan semakin lemah. Oleh karena itu, pola makan singkong tetap dijaga, bukan karena terpaksa, tetapi sebagai upaya untuk bersiap menghadapi masa depan.

Baca juga:

Cara berpikir seperti ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi juga pengetahuan yang dihasilkan dari pengalaman panjang individu berinteraksi dengan lingkungan mereka. Apa yang diwariskan oleh nenek moyang Cireundeu lebih dari seratus tahun yang lalu sekarang justru selaras dengan upaya diversifikasi pangan yang terus dipromosikan oleh pemerintah.

Hal menarik lainnya adalah pandangan mereka terhadap teknologi. Ketika saya mengajukan pertanyaan tentang kemajuan teknologi, sosok adat menjelaskan, “Teknologi itu buruk. ” Namun, ia dengan cepat menambahkan bahwa yang dimaksud bukanlah teknologi itu sendiri, tetapi cara manusia berinteraksi dengannya. Ia berpendapat bahwa setiap orang perlu memiliki “benteng” berupa nilai-nilai dan karakter yang kuat. Mata mesti dilindungi dari apa yang dilihat, telinga dari apa yang didengar, dan tangan dari tindakan yang diambil. Teknologi boleh maju, namun manusia tetap harus bisa menyaring semua pengaruh yang menyertainya.

Pandangan tersebut terkesan sederhana, tetapi sangat relevan. Di tengah arus modernisasi, tantangan terbesar bukanlah menentukan pilihan antara tradisi atau teknologi, melainkan bagaimana bisa memanfaatkan kemajuan tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjaga hubungan antar manusia serta dengan lingkungan sekitar.

Merawat Lingkungan Berarti Merawat Pengetahuan Leluhur

Kampung Adat Cireundeu menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu memerlukan teknologi modern atau kebijakan besar. Seringkali, solusinya muncul dari tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi. Ketahanan pangan, penghormatan terhadap alam, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan telah menjadi bagian integral dari kehidupan mereka jauh sebelum masalah-masalah ini menjadi topik pembicaraan umum.

Saatnya untuk melihat masyarakat adat bukan sebagai simbol masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi untuk masa depan. Mereka menunjukkan bahwa menjadi modern tidak selalu berarti mengabaikan warisan budaya. Sebaliknya, warisan budaya itulah yang memungkinkan mereka untuk menghadapi perubahan tanpa kehilangan identitas.

Mungkin tantangan terbesar yang kita hadapi bukan karena masyarakat adat tertinggal, melainkan karena kita telah lama mengabaikan pengetahuan yang mereka simpan. Di tengah-tengah krisis lingkungan dan ancaman terhadap ketahanan pangan, Kampung Adat Cireundeu mengingatkan kita bahwa perkembangan tidak selalu identik dengan penciptaan hal baru. Kadang-kadang, kemajuan dimulai dengan kemauan untuk kembali belajar dari kebijaksanaan yang telah ada dan hidup berdampingan dengan alam. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Wanda Purwandari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email