Menggugat Kredibilitas Stasiun Televisi Nasional

Ahmad shohibul hikam

2 min read

Baru tadi (14 Oktober 2025), selepas salat Isya, saya membuka salah satu grup WhatsApp saya yang berisi teman-teman dekat saya. Di sana, seorang kawan mengirimkan video tayangan dari Trans7, program Xpose. Saya sangat terkejut melihat siapa yang menjadi sorotan. Dada saya sesak, dan hati ini seperti disayat. Sosok yang saya cintai, guru saya, panutan saya di dunia-akhirat, serta pembimbing ruh saya, KH. M. Anwar Manshur, dijadikan bahan fitnah dan hoaks di layar kaca nasional.

Meskipun kita sama-sama tahu bahwa tayangan itu tentu tak sedikit pun mengurangi kemuliaan beliau. Karena bagaimanapun, kehormatan seorang guru sejati tentu tak akan goyah hanya karena tudingan manusia-manusia “recehan” seperti itu. Namun, nurani saya sebagai santri menjadikan rasa perih itu begitu nyata, terlebih ketika narasi dalam tayangan itu dengan enteng menyindir:

Santrinya minum susu aja kudu jongkok. Emang gini kehidupan pondok? Kiainya kaya raya, tapi umat yang kasih amplop.”

Kalimat semacam itu bukan hanya tidak pantas, tapi juga mencerminkan kemerosotan moral jurnalisme. Miris sekali mengingat bahwa kalimat ini diucapkan bukan sekadar di warung kopi atau media amatir, melainkan di stasiun televisi nasional. Ya, sekali lagi, stasiun TV nasional yang seharusnya menjaga kehormatan penyiaran publik.

Baca juga: 

Lebih dari itu, di luar rasa kecewa pribadi, tayangan tersebut menjadi bukti nyata bahwa kualitas pertelevisian Indonesia sedang menuju atau telah berada di titik nadir. Trans7, melalui tayangan itu, telah mencederai prinsip dasar jurnalistik sebagaimana tertuang dalam Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 02/P/KPI/2009 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3), khususnya Bab XV Pasal 18, yang mengatur bahwa lembaga penyiaran wajib menjunjung tinggi prinsip akurasi, keberimbangan, keadilan, serta menjauhkan diri dari niat buruk, hasutan, dan fitnah.

Faktanya, tayangan itu menampilkan potongan visual dan narasi yang memframing kehidupan pesantren secara timpang: seolah-olah kiai hidup mewah kontras dengan santri hidup dalam keterbatasan. Framing semacam ini bukan hanya tidak berimbang, tapi juga menghasut publik untuk memandang rendah lembaga pesantren dan menumbuhkan prasangka buruk terhadap kiai atau ulama.

Lebih menyedihkan lagi, tidak ada ruang klarifikasi dari pihak pesantren. Tidak ada konteks yang menjelaskan tradisi pemberian amplop sebagai bentuk ta‘zim dan penghormatan. Program tersebut hanya menyajikan satu sisi cerita, menghakimi tanpa menelusuri akar budaya dan makna spiritual di baliknya.

Dengan demikian, Trans7 juga telah melanggar Pasal 18 ayat (4) tentang prinsip praduga tak bersalah. Program tersebut secara eksplisit menggiring opini bahwa sang kiai tamak, tanpa verifikasi dan tanpa ruang dialektika. Ini bukan sekadar pelanggaran etik, tapi juga penghinaan terhadap martabat manusia yang masih harus dianggap tak bersalah hingga terbukti sebaliknya.

Saya sampai detik ini masih sulit memahami bagaimana hal yang begitu fundamental bisa diabaikan oleh media sekelas Trans7. Karena, mengacu pada prinsip analisis isi menurut Rachmat Kristiyantono, ada empat (4) asas yang harus dijaga dalam riset media: sistematik, objektif, kuantitatif, dan berbasis isi yang nyata. Semua prinsip itu runtuh dalam tayangan ini, digantikan oleh subjektivitas, sensasi, dan nafsu rating.

Ini ironis, karena televisi yang seharusnya menjadi benteng terakhir kredibilitas di tengah distorsi informasi media sosial kini justru mengikuti arus murahan. Bukan lagi penjaga kebenaran, melainkan penyembah angka rating. Semua dikacaukan, bahkan nurani jurnalistik digadaikan demi klik, follow, subscribe, dan sensasi.

Baca juga:

Wakhitaman, saya teringat seuntai bait hikmah dalam kitab Al-Wafi bi Syarhi Syathibi:

وهذا زمان الصّبر من لك بالّتي

كقبض على جمر فتنجو من البلا

Inilah zaman kesabaran. Barang siapa yang mampu bertahan di dalamnya, ia seperti menggenggam bara api, maka ia akan selamat dari bala.”

Syekh Abdul Fattah bin Abdul Ghani menjelaskan bait tersebut sebagai berikut:

Zaman kita hari ini adalah zaman untuk bersabar, karena pada zaman ini orang yang berada di jalan kebenaran justru disakiti, sedangkan orang yang berada di jalan kebatilan dimuliakan. Segala yang mungkar dianggap baik, dan yang ma‘ruf dianggap salah. Siapa pun yang bisa tetap teguh dalam zaman ini, maka keteguhan itu ibarat menggenggam api yang menyala. Betapa pun itu sulit, namun akan menyelamatkan kita dari bala akhirat.

Maka, jika fitnah itu datang, ingatlah bahwa kebusukan takkan pernah mengalahkan cahaya.

Dan semoga Allah meneguhkan langkah kita untuk tetap berada di jalan kebenaran Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Agung Muhammad SAW dan diajarkan oleh para masyayikh yang disucikan Allah SWT. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Ahmad shohibul hikam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email