Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta Angkatan 2022

Fuckboy dan Problematika Seksualitas Lainnya di Sekitar Kita

Muhammad Fariz Akbar

3 min read

Kalau ada orang lewat kemudian lihat buku judulnya Sebab Kita Semua Gila Seks, dapat saya pastikan, orang itu seketika menaruh perhatian yang cukup besar atau setidaknya terkejut. Pertama, kata seks di sana nuansanya sudah terlalu eksplisit. Kedua, rasanya seperti tertuduh. Tapi, di dalam buku dijelaskan bahwa pada abad ke-15, seksualitas bukan sesuatu yang tabu dan ditutupi.

Bisa jadi agama serta perkembangan sosial dan budaya menekan hasrat seksualitas kita, membatasi, dan mengarahkannya supaya tidak terlalu “gila” (mungkin)“. (Hal 16)

Bagian di dalam buku yang “jorok” atau saru boleh saja dilewati, tapi saya harus tetap mengakui kemampuan penulis yang dapat mengubah pengalaman “jorok” tersebut menjadi sebuah narasi yang keras. Kalau belum siap, bisa-bisa Anda, terutama para pria, tersinggung karena Ester banyak membicarakan kebangsatan—tentu kalau ada yang baik juga dibicarakan—para pria yang merugikan.

Baca juga:

Saya tidak menyangka bahwa sudut pandang yang disampaikan akan begitu tajam. Seperti ketika membahas karakter Barney dari sitkom How I Met Your Mother dan Joey dari serial Friends. Sementara kita tertawa karena aksinya mengajak perempuan untuk tidur bersamanya, Ester mengkritisi bagaimana lingkungan sosial memandang kebangsatan laki-laki yang dianggap lumrah. Bahkan, cuma jadi bahan guyonan.

Seperti mungkin kita ketahui, istilah fuckboy yang ternyata secara tidak sengaja terbentuk akibat budaya. Bahwasannya laki-laki itu boleh nakal. Padahal, apalah kita di mata Tuhan?

Membedah Istilah Fuckboy

Kalau ada istilah fuckboy, kenapa tidak ada istilah fuckgirl? Asal kalian tahu, fuckboy resmi terdaftar di Oxford Dictionary sementara fuckgirl tidak ditemukan. Dalam hal ini, sejujurnya saya tidak bisa bersikap apa-apa karena urusan kamus itu bukan urusan aktivis atau apa. Kamus itu bentuk data objektif yang diambil dari lapangan atau proses penuturan bahasa.

Yang saya tahu, bahasa yang ada di kamus didaftarkan berdasarkan penuturannya. Semakin sering bahasa itu dituturkan, semakin besar kemungkinan bahwa kata tersebut akan didaftarkan di dalam kamus. Tugas kamus hanya membakukan kata. Meskipun begitu, kamus tidak pernah mendefinisikan, tapi kamus hanya menyerap definisi dari penutur bahasanya. Dan karena hal itu, definisi atau makna kata seringkali berubah seiring berkembangnya zaman.

Antara fuckboy dan fuckgirl, sejujurnya tidak ada perbedaan. Intinya, manusia-manusia yang suka gonta-ganti pasangan di ranjang. Dan menyoal ini, sepertinya urusan gender tidak ada hubungannya. Manusia bangsat ya bangsat aja. Nggak perlu dibuat pembedaan atau spesialisasi.

Jadi, alasan fuckboy terdaftar di kamus adalah karena penggunaannya yang lebih lazim dan lebih sering dituturkan. Pria–pria yang suka gonta-ganti pasangan di ranjang itu punya sebutan khusus yang diberikan lingkungan sosial. Sementara, kalau ada perempuan yang suka gonta-ganti pasangan di ranjang, cenderung dipandang negatif. Kalau dari istilah yang disematkan, biasanya tidak jauh-jauh dari pelacur, lonte, dsb. Laki-laki kalau nakal, akan jauh lebih diterima di masyarakat ketimbang perempuan. Bukankah bahasa merupakan fakta sosial?

Sebab Kita Semua (Termasuk Pelaku Patriarki) Gila Seks

Buku Sebab Kita Semua Gila Seks merupakan esai yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi serta beberapa rujukan tambahan dari buku maupun artikel ilmiah. Menurut Ester, pendapat yang mengatakan bahwa perempuan lebih menyukai pria yang buruk tidaklah benar. Di antara sifat baik dan buruk pria, keduanya sama-sama dibutuhkan bagi perempuan. Seharusnya, fuckboy cuma miskonsepsi masyarakat yang mudah menggeneralisasi suatu kejadian tertentu.

Tidak heran fuckboy terbudidaya, karena lagi-lagi perempuan yang disalahkan, mulai dari salah bertutur, salah berpakaian, pokoknya serba salah!” (Hal 171)

Saya juga merasa kalau istilah fuckboy cuma indikasi bahwa dunia ini memang didominasi oleh pria. Kalaupun tidak, setidaknya akan tetap terus diusahakan. Budaya patriarki yang mengakar menjadi salah satu penyebabnya. Dalam urusan ranjang, usaha dominasi laki-laki begitu kuatnya bahkan sampai hal-hal yang paling menjijikan, termasuk menganggap hina darah menstruasi.

Apa yang istimewa dengan darah menstruasi? Mengapa kita menganggapnya berbeda dengan jenis darah yang lain? Mengapa darah menstruasi dianggap tabu? Freud bilang, ketakutan kita kepada darah lah yang membuat menstruasi menjadi tabu.” (Hal 51)

Adapun pengalaman Ester yang dituangkan dalam buku Sebab Kita Semua Gila Seks tidak berbicara soal patriarki secara eksplisit. Melainkan, ia hanya berbagi pengalamannya yang menunjukkan kecenderungan pria bersikap patriarki yang maunya mendominasi. Seperti para pria yang tidak mau mengoral pasangannya, minder dengan ukuran miliknya, serta bagaimana penilaian laki-laki terhadap perempuan yang punya penampilan atau kelakuan yang kurang feminin, misalnya bertato, merokok, dan minum alkohol. Begitu juga dengan pria yang terang-terangan mau kangkangan seorang perempuan yang cuma modal kopi susu kekinian.

Baca juga:

Dalam urusan seks, ternyata masih ada usaha untuk mendominasi dari para pria. Padahal, seks merupakan salah satu cara mendekatkan atau menyatukan laki-laki dan perempuan tanpa batasan apapun, bahkan sehelai kain. Misalnya kalau perempuan nggak puas dalam satu malam hubungan seksual, itu tidak melulu menjadi kegagalan seorang pria. Masih banyak faktor yang perlu dipikirkan secara bersama-sama dan tidak dibebankan hanya kepada pria.

Does size really matter? Size doesn’t matter, your act does, cuk!” (Hal 183)

Ester juga mengkritisi para pria yang selalu minder dengan ukuran penisnya. Beberapa pria yang ia temui yang punya ukuran kecil, cenderung sudah ciut di awal, jauh sebelum perempuan melontarkan komentar atau bahkan sekadar melihat. Menurut Ester, ini merupakan bentuk budaya patriarki yang sudah mengakar. Para pria menganggap bahwa dengan ukuran yang besar, memperbesar kemungkinan, atau dapat dipastikan perempuan akan puas. Terlepas benar atau tidak, pertanyaannya adalah apa salahnya kalau barang milik laki-laki ukurannya kecil—karena memang banyak faktor yang menentukan ukuran tersebut—dan tidak mendominasi kegiatan di ranjang?

Tapi kita kan bukan hewan yang sebegitunya main fisik. Penguin jantan saja menunjukkan afeksinya kepada betina dengan memberikan pebble, masa manusia cukup dengan penis raksasa?” (Hal 181)

Menurut saya, kalau urusan ranjang ya selesaikan saja di ranjang. Tidak perlu bawa-bawa norma budaya, sosial, agama, atau apapun. Sudah dikasih kenikmatan bisa dekat dengan manusia tanpa jarak sama sekali, masih saja dibatas-batasi. Saya lupa, ternyata masih ada satu hambatan yang perlu dipikirkan saat di atas ranjang, yaitu urusan hati.

“Apa kamu nggak pernah baper?” tanya saya sambil menyeruput air kelapa.
“Ya, pastilah,” jawabnya.
“Lantas kenapa dilakukan?”
“Kamu tahu cabe pedas tapi tetap kamu makan, kan?” dia balik bertanya dan saya menjawab dengan anggukan.
“Sama halnya dengan seks, ya kita sendiri yang mengukur takarannya. Kalau memang jadinya ‘kepedesan’ ya itu bagian dari risiko melakukan hubungan,” jelasnya. (Hal 91) (*)

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Fariz Akbar
Muhammad Fariz Akbar Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta Angkatan 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email