Distorsi Esensi dalam Tubuh Pelari Kalcer

Asrori Pamungkas

3 min read

Tanpa perlu menyewa lapangan, mengumpulkan tim, atau mengeluarkan biaya besar, lari kerap disebut sebagai olahraga paling demokratis. Sepasang kaki, jalanan yang terbentang, dan sedikit niat sudah cukup untuk berkeringat.

Di banyak kampanye kesehatan publik, lari bahkan diposisikan sebagai solusi sederhana atas gaya hidup sedentari kaum urban. Dan, dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun.

Namun, di balik narasi kesederhanaan itu—terdapat realitas lain yang pelan-pelan mengemuka—ternyata tidak sesederhana itu. Dalam kondisi tertentu, lari justru menjelma menjadi olahraga prestisius yang cukup menguras isi dompet.

Baca juga:

Perubahan itu tampak jelas di medan agora, algoritma media sosial, dan berbagai pegiat-komunitas lari. Dari kepala hingga kaki, perlengkapan lari kini bukan lagi sekadar fungsional, melainkan menuju ke arah materialistik-simbolik.

Tren Lari: Olahraga dan Cengkeraman Gaya

Sepatu dengan teknologi terbaru, smartwatch berharga ratusan hingga jutaan rupiah, kaus quick-dry yang kudu berganti tiap hari, celana khusus race day, kacamata running, topi, kaus kaki kompresi, hingga headset nirkabel; semuanya hadir sebagai “paket lengkap” yang seolah wajib dimiliki.

Tak heran jika kemudian muncul istilah pelari “kalcer”—serapan dari kata culture. Istilah kekinian, antara olahraga dengan fesyen dan gaya hidup. Lari tidak lagi berhenti sebagai aktivitas fisik, tetapi menjadi ekspresi identitas.

Sebagai pelari kalcer, tubuh tidak sekadar bergerak; ia didemonstrasikan. Tiap kilometer bukan hanya jarak, tetapi narasi. Setiap unggahan bukan sekadar dokumentasi, melainkan deklarasi eksistensi.

Di sinilah esensi olahraga mulai terdistorsi. Substansi kesehatan bergeser menjadi performativitas. Keringat tidak lagi berfungsi sebagai tanda kerja raga, melainkan sebagai properti estetika.

Merek-merek luar negeri terpampang jelas, bukan sekadar demi kenyamanan, tetapi juga sebagai penanda selera, kelas, dan afiliasi sosial tertentu. Di titik inilah lari memasuki wilayah lifestyle inflation. Biaya yang dikeluarkan terus meningkat seiring naiknya standar gaya hidup yang dianggap “normal” dalam tren kekinian.

Benang Merah Narsistik

Namun, fenomena ini tidak bisa dibaca secara hitam-putih. Tidak ada yang salah menjadi pelari kalcer, sebagaimana tidak ada yang keliru memilih menjadi pelari yang rendah hati dalam urusan perlengkapan.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan secara sinis, misal saja, muncul kalimat nyinyir seperti “lebih baik outfit murah tapi larinya cepat dan jauh, daripada outfit mahal tapi larinya lambat dan kilometer rendah” yang kerap dilontarkan sebagian influencer atau pelari soliter lama.

Masalahnya, fear of missing out (FOMO) tidak hanya hadir tentang aksesoris lari, perdebatan seperti di atas tidak luput menjamur di bibir kalangan gen Z maupun gen milenial saat ini.

Padahal, keduanya sama-sama bermartabat. Semua tetap sah disebut pelari. Bukankah keduanya juga berkontribusi membangun ekosistem hidup sehat? Generasi Indonesia memang harus sehat agar bangsa ini kian maju dan kuat, bukan?

Utopia Kesehatan

Persoalan muncul ketika gaya hidup mulai berubah menjadi standar sosial yang tak tertulis. Kini, lari seolah-olah harus dilakukan dengan pakaian olahraga yang modis, sepatu brand ternama, dan pelengkap seperti smartwatch dan earphone.

Tren ini juga menggeser gaya hidup banyak orang dengan membuat olahraga sebagai dasar dalam bagian kehidupan masyarakat modern.

Tren olahraga lari yang seharusnya menjadi kegiatan positif, justru tereduksi sebagai fenomena FOMO yang negatif apabila membuat hidup menjadi konsumtif untuk ajang flexing di dunia maya dan juga jalanan.

Tidak lupa, tiap jepretan-jepretan di media sosial atau event lari sering kali lebih menonjolkan gear dibanding proses. Perlengkapan mahal dan pencapaian lari dipamerkan bukan semata sebagai catatan pribadi, tetapi sebagai representasi keberhasilan dan disiplin diri. Hal ini menambah krusialitas atmosfer sosial dengan maraknya joki strava yang ramai ditransaksikan.

Di satu sisi, ini bisa memotivasi. Di sisi lain, ia berpotensi menciptakan tekanan sosial baru, seolah berlari tanpa sepatu tertentu atau jam tangan tertentu berarti “kurang serius” berolahraga. Lari, yang semestinya inklusif, perlahan bergerak ke arah simbolik dan materialistik.

Padahal, esensi olahraga tidak sebatas dan sesederhana itu. Seperti yang ditunjukkan dalam publikasi jurnal BMC Public Health tahun 2023 yang berjudul “The impact of sports participation on mental health and social outcomes in adults: a systematic review and the ‘Mental Health through Sport’ conceptual model”.

Partisipasi dalam olahraga berkorelasi kuat dengan kesehatan mental yang lebih baik, termasuk meningkatnya kepercayaan diri dan kesejahteraan psikologis. Di sisi lain, lari mampu memberi ruang bagi pelepasan stres, pembentuk relasi sosial, dan target sehat itu sendiri.

Namun, lahirnya horizon atribut yang elit dan catatan pace terukur demi validasi eksistensial adalah paradoks bagi Kesehatan. Hal ini justru beresiko mengalami tekanan psikologis yang lebih tinggi.

Kompetisi simbolik, tuntutan performa, dan ekspektasi sosial yang melekat pada olahraga prestisius dapat menggerus manfaat mental yang seharusnya diperoleh.

Baca juga:

Kekhawatiran yang lebih besar muncul jika tren eksklusif ini terus berlanjut tanpa refleksi. Olahraga bisa berubah menjadi arena reproduksi kesenjangan ekonomi dan memarginalkan.

Alih-alih merepresentasikan olahraga yang sederhana, lari ditakutkan melahirkan stigma baru, masyarakat dianggap malas berolahraga bukan karena kurangnya kesadaran, tetapi karena ketidakmampuan mengikuti standar gaya hidup yang terlanjur dimahalkan. Teralienasi dan terbelakang oleh medium sosial.

Melawan Arus

Lari, pada akhirnya, adalah tentang bergerak. Tentang napas yang terengah, keringat yang jatuh, dan langkah yang terus maju. Sepatu mahal atau murah, jam tangan canggih atau tidak, seharusnya tidak menentukan nilai seseorang sebagai pelari.

Tantangan ke depan bukan memilih antara prestise atau kesederhanaan, melainkan menjaga agar olahraga tetap inklusif—ruang di mana siapa pun bisa berlari tanpa merasa rendah diri atau terintimidasi.

Sebab, Kesehatan jiwa-raga tidak lahir dari gengsi, melainkan dari niat tulus, memanfaatkan akses yang ada, dan membangun siklus yang positif pun optimal. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Asrori Pamungkas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email