Saya membaca Beyond Mars and Venus bukan sebagai seseorang yang sedang mencari jawaban tentang cinta, melainkan sebagai perempuan yang mengamati arti berdamai dengan kelelahan. Wajarkah jika perempuan bekerja, mandiri, mengurus hidup sendiri, dan belajar berdiri tanpa sandaran, menjadikan itu bekal untuk menjelajahi berbagai bacaan? Di titik tertentu, semua itu terasa wajar, bahkan dibanggakan. Bukankah perempuan modern memang seharusnya seperti itu?
Namun, halaman demi halaman buku ini justru membuat saya berhenti. Bukan karena saya tidak setuju, melainkan karena merasa sedang dibaca balik. Seolah-olah John Gray tidak sedang menjelaskan relasi laki-laki dan perempuan, tetapi menunjuk satu kenyataan yang sering kita abaikan: modernitas tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga cara kita mencintai dan kelelahan yang menyertainya.
Gray sendiri mengakui bahwa dunia telah berubah drastis sejak Men Are from Mars, Women Are from Venus diterbitkan dua dekade lalu. Stres meningkat, ritme hidup semakin cepat, dan relasi tidak lagi berdiri di atas peran yang jelas, melainkan negosiasi yang terus-menerus.
“Dunia telah berubah, dan hubungan pun ikut berubah.”
Dari Belahan Peran ke Belahan Jiwa
Jika generasi sebelumnya membangun relasi berbasis belahan peran siapa bekerja, siapa mengurus rumah maka relasi hari ini bergerak ke arah belahan jiwa. Kita tidak lagi hanya mencari pasangan yang fungsional, tetapi juga yang mampu memahami kebutuhan emosional kita secara personal.
Baca juga:
Dalam Beyond Mars and Venus, relasi tidak digambarkan sebagai pertemuan dua peran yang saling melengkapi, melainkan pertemuan dua individu yang sama-sama berjuang menjaga identitasnya.
“Hubungan modern membutuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang kebutuhan emosional masing-masing individu.”
Di sinilah relasi menjadi lebih intim, tetapi sekaligus lebih rapuh. Karena yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar pembagian tugas, melainkan keberlangsungan diri kita di dalam hubungan itu sendiri.
Perempuan Mandiri dan Maskulinitas yang Harus Dipelajari
Sebagai perempuan yang bekerja, saya sangat mengenali bagian ini. Perempuan hari ini semakin mandiri, rasional, dan terbiasa memegang kendali. Tanpa sadar, ia mengaktifkan sisi maskulinnya setiap hari, mengambil keputusan, menahan emosi, menyelesaikan masalah sendiri. Bukan karena ingin melawan kodrat, tetapi karena hidup memang menuntutnya demikian.
Gray menyebut bahwa perempuan modern sering berada dalam tekanan ganda: tetap berfungsi secara profesional, sekaligus diharapkan tetap hangat secara emosional.
“Wanita masa kini sering menuntut dirinya terlalu banyak, hingga lupa mengisi kembali kebutuhan emosionalnya sendiri.”
Di titik ini, kelelahan bukan lagi soal fisik, melainkan kehabisan ruang untuk menjadi rapuh. Misalnya, kala perempuan pulang kerja, mereka tidak lagi mengeluh tentang betapa capeknya hari ini, mengomel bahkan bercerita panjang lebar tentang apa yang dialami. Ia lebih memilih berdiam, mengurung diri, dan kembali bekerja lagi besoknya. Secara tidak langsung perempuan mengeluarkan sisi maskulinnya.
Sedangkan, saat mereka menjalin hubungan, mereka berharap sisi feminim tersebut bisa tertransfer ke pasangan melalui bercerita, berbagi perasaan, ingin didengarkan dan dipahami secara emosional. Namun, semakin ke sini, sisi tersebut tidak harus dilampiaskan ke arah pasangan, dan semakin kaburlah tingkat kebutuhan dan ketertarikan dari dua planet ini, Mars and Venus.
Laki-laki yang Ingin Dipahami, tapi Tidak Diajari Bahasa Emosi
Di sisi lain, buku ini juga menyoroti fenomena laki-laki modern yang jarang dibicarakan: keinginan untuk didengar dan dimengerti. Banyak laki-laki ingin validasi emosional, tetapi tumbuh tanpa kosa kata untuk mengungkapkannya. Gray menulis bahwa laki-laki dan perempuan merespons stres secara berbeda laki-laki cenderung menarik diri, sementara perempuan ingin berbagi cerita.
“Pria cenderung masuk ke ‘gua’ saat stres, sementara wanita merasa lega dengan berbicara.”
Masalahnya, ketika peran sosial berubah, respons emosional ini sering disalahpahami. Laki-laki dianggap dingin, perempuan dianggap menuntut. Padahal yang terjadi adalah dua orang yang sama-sama ingin dimengerti, tetapi berbicara dengan bahasa yang berbeda.
Relasi sebagai Krisis Eksistensi Kedua
Di titik inilah relasi berubah menjadi ruang krisis eksistensi kedua. Jika sebelumnya kita berjuang menemukan diri lewat pendidikan dan pekerjaan, maka dalam relasi kita kembali bertanya:
“Siapa saya ketika harus mencintai? Apakah saya masih boleh lelah?
Apakah saya masih boleh rapuh? Atau justru harus terus kuat agar relasi ini bertahan?”
Cinta menjadi paradoksal. Ia tidak selalu menyelamatkan, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Ia hadir, namun tidak selalu mampu menanggung beban ekspektasi yang kita titipkan padanya.
“Hubungan tidak gagal karena kurang cinta, tetapi karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.”
Maka tidak heran jika banyak hubungan hari ini terasa seperti kerja tambahan, bukan karena tidak ada rasa, melainkan karena terlalu banyak yang harus dipertahankan.
Mengapa Generasi Hari Ini Takut Menikah?
Mungkin inilah sebabnya mengapa banyak generasi hari ini, termasuk Gen Z, ragu melangkah ke pernikahan. Bukan karena mereka anti-cinta, tetapi karena mereka melihat relasi sebagai ruang penuh tuntutan emosional, bukan sebagai tempat aman.
Baca juga:
- Pernikahan Dini tak Seindah Harapan
- Kehendak adalah Derita: Argumentasi Filosofis dan Ideologis untuk Childfree
Beyond Mars and Venus tidak menawarkan solusi instan. Ia tidak menjanjikan relasi yang selalu harmonis, yang ia tawarkan justru kesadaran: bahwa relasi modern menuntut kejujuran emosional yang lebih dalam, bukan sekadar kompromi peran.
Membaca buku ini membuat saya sadar bahwa kelelahan dalam relasi bukan tanda kegagalan, melainkan sinyal bahwa kita sedang hidup di zaman yang kompleks. Dan mungkin, alih-alih mencari siapa yang harus mengalah, kita justru perlu belajar duduk bersama di tengah kelelahan itu mengaku bahwa kita sama-sama manusia yang sedang belajar mencintai tanpa kehilangan diri. (*)
Editor: Kukuh Basuki
