Bagi para penggemar film perang mungkin membayangkan bahwa film peraih penghargaan sutradara terbaik Montreal World Film Festival 2025 ini akan sama spektakulernya dengan film blockbuster Hollywood. Apalagi film ini untuk pertama kalinya menampilkan kemenangan (victory) masa lalu tentara Indonesia terhadap gerilyawan di tanah Timor Timur (sekarang Timor Leste) ke layar lebar melalui sudut pandang prajurit militer dan dipromosikan secara langsung oleh Puspen TNI lewat akun media sosialnya.
Kita bisa bertanya-tanya, apakah film tersebut mencerminkan secara utuh realitas yang pernah terjadi. Mengapa tentara Indonesia masih gandrung berinteraksi dalam ranah budaya pop seperti film. Adakah narasi baru yang disuguhkan film ini kepada penonton baik dari segi narasi dan aspek sinematik ataukah hanya mereproduksi kembali film-film serupa yang pernah ada sebelumnya di mana tentara kita selalu keluar sebagai pemenang.
Believe : The Ultimate Battle (2025) adalah film yang terinspirasi dari memoar Believe: Based on True Story About Faith, Dream, and Courage karya Jenderal Agus Subiyanto. Film ini menceritakan tentang perjalanan hidup Agus Subiyanto sejak kecil sampai menjadi perwira TNI-AD. Selain itu, Film ini juga mengangkat kisah ayah Agus Subiyanto, Serka Dedy Unadi yang diperankan oleh Wafda Saifan Lubis. Sedangkan karakter Agus diperankan oleh Ajil Ditto. Napak tilas dari keseluruhan cerita ini adalah memvisualisasikan kembali perjalanan Agus dan Ayahnya berpuluh tahun silam sewaktu diterjunkan ke Timtim (Timor Timur) dengan rentang waktu berbeda melawan gerilyawan pro kemerdekaan Timor Leste di desa dan hutan rimba.
Baca juga:
Bagaimana penggambaran militer Indonesia terlihat powerful, berbanding terbalik dengan gerilyawan fretilin sebagai villain yang kejam dan sadis. Terdapat dua contoh scene dari beberapa potongan film yang menegasikan stereotip bias tersebut. Misalnya, di awal film Dedy bersama pasukannya terlibat kontak senjata dengan gerilyawan lalu berhasil menyelamatkan seorang ibu dan anaknya yang terjebak di dalam bangunan. Begitu pula di akhir film, Agus juga menyelamatkan satu keluarga saat kontak senjata dengan musuh di Pos Yonif. Karakter Agus menyempurnakan perannya dengan memenangkan duel melawan pemimpin Fretilin, Abel Freitas dan Miro Freitas menggunakan sangkur.
Tidak hanya itu, di pertengahan film, salah satu scene komandan tentara melabeli gerilyawan sebagai GPK. Di masa orde baru akronim Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) populer digunakan penguasa waktu itu dan acap kali dimuat di berbagai media massa untuk memberikan konotasi buruk bagi rakyat Timtim yang anti-integrasi.
Selain itu, ada dua momen mencolok dengan munculnya Prabowo Subianto: ketika memberikan pengarahan kepada Agus dan para perwira muda lainnya di barak sebelum berangkat ke Timtim, dan dalam scene upacara pelantikan prajurit Kopassus di tepi Pantai Permisan.
Alih-alih menemukan kebaruan baik dari segi plot, sinematografi, dan pengembangan karakter utama. Sejujurnya tidak ada perbedaan signifikan baik dari segi narasi film-film bertema sejarah maupun perang yang didukung atau didanai oleh institusi militer sejak Orde Baru hingga pasca Orde Baru. Konflik dominannya berkutat seputar karir, cinta, dan keluarga.
Meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa Believe: The Ultimate Battle adalah film Indonesia yang pertama kali mengangkat peristiwa kelam di Timor Leste dari sudut pandang tentara Indonesia sebagai pemenang perang, kendati hal ini masih debatable dan memerlukan pembahasan mendalam.
Konteks historisnya pertama kali bermula pada bulan Desember 1975 sewaktu militer Indonesia dengan kekuatan besar dari darat, laut, dan udara menginvasi Timtim yang dikenal sebagai Operasi Seroja. Tidak sedikit korban berjatuhan baik dari militer, gerilyawan, dan warga sipil. TNI menduduki Timtim selama dua puluh empat tahun dan melakukan berbagai operasi militer hingga tahun 1999. Hasil referendum menunjukkan pilihan rakyat untuk merdeka. PBB lalu mengakui kedaulatan Timor Leste secara resmi pada tahun 2002.
Baca juga:
Sebagai antitesis dari film ini kita bisa nonton Beatriz’s War (2013) yang menceritakan tentang pendudukan militer Indonesia dari sudut pandang perempuan dan gerilyawan pembebasan pro-kemerdekaan Timor Leste. Sehingga kita bisa berefleksi, apakah tentara Indonesia memang berperang ke wilayah teritorial Timtim sebagaimana diceritakan dalam film Believe atau justru sebaliknya, menginvasi negara yang mula-mula memproklamirkan kemerdekaannya dari kolonial Portugis tahun 1974.
Saya jadi tiba-tiba teringat buku George Junus Aditjondro, Menyongsong Matahari Terbit di Puncak Ramelau:
“Timtim bagi kelompok militer ternyata bukan hanya sebuah ajang latihan dan pertempuran yang bisa membuat seorang tentara naik pangkat berkali-kali. Wilayah Timtim yang kaya dengan sumberdaya alam ternyata juga merupakan sumber uang yang cukup menjanjikan. Ada banyak jendral yang dilahirkan dari 24 tahun penguasaan Indonesia atas wilayah Timor Timur.”
Pada akhirnya, terlepas dari berbagai kelebihan dan kekurangannya, Believe melengkapi historiografi militer Indonesia khususnya dalam ranah kebudayaan populer yang mudah menjangkau berbagai kalangan. (*)
Editor: Kukuh Basuki
