Tujuh yang Tertidur
“mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” (al-kahfi: 3)
guritan huruf-huruf di papan rakim
telah serupa abuk musim
merapuh di sisi bukit
pelarianmu
lorong kecil menyibak tabir
bagi para pertapa suci
melahirkan titah akbar
dan bainah kelahiran sunyi
di celah bukit hizam
geletak tubuh di datar batu
dan bebilah mata ratusan tahun
membelah zirah orang-orang afasus
dan ayat yang kudus
menyelamatkan anjing humron
dari tombak para dayus
tujuh tubuh terlentang
saat sejumlah ingatan menjauh
sejauh sabana tandus
sepanjang ukuran madahan
di gua batu
begitulah waktu bertindak untukmu
hanya melintasi satu malam
yang tak akan pernah terbilang
dalam tarikh anak-cucumu
(Lombok, 2026)
–
Madu Kolonial
setelah bebas, ranting patah dari pohon beringin. dan tidak pernah kembali
sarang lebah turut pecah di atas tanah bekas jajahan
tiap kali tiba malam hari, pucuk senapan membidik. tubuhku mulai bergidik
mengingat siapa aku di masa lalu; dan siapakah ia?
aku baru saja bebas! teriakku
tetapi, siapakah yang peduli akan jeritan setelah yang hidup menghirup bau mati.
dan setelah yang bebas, kini terpejara kembali? terkubur dalam barzah
yang berisi pikiran proklamasi
aku melihat yang dikatakan dalam buku sejarah; telah mati dan terusir. tetapi mataku
melihatnya kembali dalam bentuk lain. ia tak mati maupun terusir dari sini.
ia masih hidup dan membawa segelas madu. disugugkannya madu itu,
sambil meletakkan mocong senapan; tepat di mataku
aku tak ingin merasakan panas peluru. bukan karena aku teramat sakit. tetapi luka
telah kian menganga. dan darahku belum sempat kering. sebab bilah belati
yang tertambat, belum diangkat dari daging pendahulu kami
(Lombok, 2026)
–
Langit Omelas
—Ursula K. Le Guin
aku belum bisa membayangkan sepenuhnya
seperti apa langit omelas ketika hujan;
biji-biji emaskah rerintiknya
atau justru air mata rintihan
aku bertanya dan pertanyaan ini hendak kutanyakan kepada seorang anak kecil
: apa sajakah syarat agar rahasia dapat disebut rahasia?
“di omelas,” katanya, “setiap orang telah merasa bahagia, sehingga syarat pada rahasia
sama sekali tak dibutuhkan.”
setiap orang membiarkan tubuh anak kecil itu tertawan
di sebuah lemari gelap
menjadi tumbal sekaligus takdir menyakitkan
yang sengaja direncanakan
barangkali, pikirku
senyuman baginya, adalah sejarah terakhir
yang telah terkubur baka di antara mayat-mayat pengetahuan
sementara di balik sebuah bukit, segerombolan manusia berjalan
sambil memikul dosa-sosa kecil
meninggalkan anak kecil itu
o, ke manakah orang-orang yang pergi meninggalkan omelas?
(Lombok, 2026)
–
Repatriasi
tidak harus memiliki rencana untuk sekadar tiba
di suatu tempat
hanya perlu memanggil waktu agar kembali
pulang
dan barangkali, seseorang tidak perlu menaklukkannya
agar jinak
sebab segala yang dipaksa tunduk
bakal percuma menjadi sejarah
di mana yang hidup memungut
sisa-sisa sunyi
dan menaburnya perlahan di atas petilasan
orang-orang mati
tetapi waktu perlahan gugur
tanpa perlu dipetik dari tangkai zaman
mengalir seperti sungai-sungai kecil
yang menuntun tangisan bayi baru lahir
mencari ibunya
yang hilang
hingga pada suatu ketika
kita akan menyaksikan
: penaklukan dan kepulangan
lebur
menjadi sepasang mitos yang terlanjur
tenggelam bersama nama-nama yang kalah
di antara mereka
di kepala kita
(Lombok, 2026)
–
Batu Lembah
di atas batu lembah, kau sesap bau basah dari lumpur
yang lebih pekat dari maut
dan sekuntum angin yang semerbak
keluar dari celah bukit
kau melihat mata asing terbuka
membidik jantung batin yang menyendiri
dalam dinginnya luka-luka
pelan-pelan mata asing itu mendekat
dengan setangkai bunga rapuh
yang masih tumbuh
di pinggiran kelopak matanya
: bunga rapuh itukah yang hendak memberi wangi padamu?
entah pada detak yang keberapa
kauhidu segala wangi pada dirinya
hanya untuk memastikan;
apakah masih ada sisa bau dari lembaran kitab suci
tapi kau bergeming, matamu lusuh
serupa kain coklat pembungkus mayat
manakala segala yang pernah kau lihat
pada lembar-lembarnya
tidak pernah kembali
maka untuk yang telah tanggal darimu
kau bakal mengecup rasa sakit
dan sembunyi di balik ratapan orang lain
sambil menyaksikan kata-kata
kian saling perang-memerangi
seperti cerita perang
dalam kitab suci
(Lombok, 2026)
–
Sajak Pulang
kelak, tubuhmu akan tergeletak
seperti gerobak sampah
yang ditinggalkan pemulung kota
di kota kecil ini
tangkapan mata menggigil
melihat maut
alamat pulang tidak menemukanmu
di alun-alun
itulah sebabnya
kau memilih sembunyi
di alam batu
menyendiri bersama semut api
melepas ruh diri
dari ikatan suara-suara
(Lombok, 2026)
–
Mata Biru
1/
kedipan mata
mulai memanjangkan jarak bahasa
di antara kita
ia telah menyerupai separuh kematian
aku kehilangan segala sesuatu
sementara, jarak bulan tak lebih jauh
ketimbang dirimu
aku terpaksa melupakan sejumlah mimpi
yang belum sempat menyatakan dirinya
di zaman ini
sebab di antara kita
setiap yang berani menyatakan cinta
berakhir di sebuah ruang gelap
di mana ia lenyap
dan menderita
2/
itulah sebabnya aku takut menyatakan cinta
aku hanya percakapkan mataku
dengan matamu
dan selain rindu
tidak ada sesuatu yang dapat kuapungkan
ketika keutuhan laut menjadi dirimu
dan di langit
seekor merpati yang bulunya
seputih buih
melingkari awan
sebelum terbang menuju diriku
maka dengan busurpena
yang melepas
panahkata
: aku menangkapnya!
3/
barangkali, di bawah beringin rambutmu itu
aku dapat berteduh
dan di tepi mata biru milikmu
akan kutangkap sebagian pikiran
yang tersisa di zaman ini
o, mata biru berbulu alis lembu
berilah aku bahasa baru
untuk rindu yang lepas purba
dalam diriku
(Lombok, 2024)
–
Almanak
tak ada yang benar-benar mutlak
pada angka-angka itu,
kecuali beberapa kehilangan
begitulah kau bercerita
tubuh letih pada sejumlah waktu
yang gagal nyalakan nyawa
bagi tiap angka
yang melekat pada almanak
dinding ruang tamu
kau kehilangan waktu di situ
sementara angka-angka itu
tetap berganti,
berputar,
lalu kembali seperti sedia kala
kau menatap almanak itu
menunjuk angkanya satu-persatu
lalu berhenti pada angka sembilan
di bulan agustus
telunjukmu pelan-pelan bergerak
menunjuk suatu tahun
kepalamu merunduk, tatapanmu
tumpah di lantai
bersama penanggalan ganjil itu
kau lenyap. sementara,
luka-luka masih ambigu
semenjak hari kelahiranmu
(Lombok, 2026)
*****
