Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Arus Balik dan Puisi Lainnya

Salman Alade

2 min read

Arus Balik

belum sempat kukecup pagi terakhir di teras rumah,
kereta sudah menunggu di ujung perpisahan.
di dalam koper: baju kusut, kue lebaran sisa,
dan tangis ibu yang kutata rapi agar tak tumpah di bagasi.

aku belum selesai menjadi anak—
belum rampung menyusuri lorong-lorong masa kecil
yang kini dipenuhi suara pamit dan peluk separuh.

namun nama sebuah kota sudah memanggil,
seperti alarm yang tak pernah bisa ditunda:
pekerjaan, tagihan, jadwal rapat,
kelas pagi dan tugas akhir yang belum selesai,
dan wajah-wajah yang menilai keberhasilanku dari berat oleh-oleh.

apa yang kau bawa dari pulangmu?

mereka tak bertanya tentang sisa doa di sajadah tua,
tentang napas terakhir ayam goreng mama,
atau bau tikar yang menyimpan tidur terbaikku.

arus balik bukan sekadar perjalanan mundur—
ia adalah seni melipat rindu ke dalam ransel,
menyisakan sedikit ruang
untuk kopi saset dan dendeng yang dibungkus tergesa.

dan aku,
selalu belajar menjadi peta yang bisa dilipat,
tapi tak pernah kehilangan jejak tanah tempat namaku dilahirkan.

Kardus di Bagasi, Rindu di Kargo

aku dilipat waktu, disegel rindu, dan dilabeli nama yang tak utuh lagi
bukan oleh-oleh,
hanya saksi peluk terakhir yang dibungkus lakban dan isak.

terbang bersamaku:
aroma dapur yang masih menyisakan ikan bakar,
kursi tua yang mengayun masa kecil,
dan nama-nama yang mengucap “hati-hati” tanpa suara.

aku tiba,
dan tak ada lagi lorong sempit yang kuhafal,
hanya trotoar asing
dan kasur yang tak tahu namaku.

mereka tak tahu,
rindu tak bisa dimasukkan ke bagasi,
dan yang paling berat
selalu yang tak terlihat.

Ransel di Gerbong, Rumah di Punggung

di punggungnya, aku menyimpan rumah yang belum siap dilepas
kanvas kusam yang menyimpan lebih dari sekadar pakaian—
ada sisa tawa adik,
ada subuh yang dingin bersama ibu di dapur.

aku tahu setiap guncang punggungnya,
di gerbong yang menjauh dari suara panggilan makan,
dan aroma kopi dari cangkir retak ayah.

lalu seseorang menatapku,
mengira aku hanya bawaan biasa.
mereka tak tahu:
aku menyimpan peta rumah
yang tak bisa dicetak ulang.

dan aku tak dilatih
untuk membawa pulang semua kenangan sekaligus.

Koper di Jok Ojol, Pulang di Ingatan

tak ada yang lebih berat dari diamku—koper yang menyimpan pulang
melewati kota yang bahkan tak menyapaku pagi ini.

dibawa ojol,
melewati gedung-gedung tanpa jendela yang ramah,
dan aku diam saja,
menyimpan bantal rumah yang baunya belum selesai kuhapus.

aku ingin menjawab setiap tanya di jalan:
yang kutinggalkan adalah meja makan,
dinding penuh foto,
dan sepotong bulan yang lebih terang dari sini.

tapi aku dibuka,
dan hanya pakaian kota yang tersisa.
yang paling tak kubawa—
adalah pulang itu sendiri.

Teman yang Tumbuh di Musim Pulang

aku kembali dari tanah yang jauh,
membawa lelah, peluh, dan segenggam waktu yang tinggal separuh.

lalu kau tumbuh,
seperti lumut di tembok yang basah:
tiba-tiba hijau,
tiba-tiba menyapa,
tiba-tiba ramah.

aku tahu,
ini bukan rindu.
ini taktik palsu.

Di Antara Baju Kotor dan Kecewa

aku baru turun dari bus semalaman,
belum sempat buka ransel,
kau sudah bertanya:
apa yang kau bawa selain peluh dan jarak?

aku ingin menjawab:
ada di bawah baju-bajuku yang belum dicuci,
tepat di sebelah kecewa yang aku lipat rapi.

Jika Aku adalah Oleh-Oleh

bagaimana jika
aku sendiri oleh-oleh itu?
bukankah kedatanganku cukup untuk kau sambut
tanpa tanya: “mana titipanku?”

aku datang membawa tubuh letih,
mata sembab karena peluk yang belum lepas,
dan kantong yang hanya berisi sisa perjalanan.

tapi mungkin—
kau hanya suka paket,
bukan pelancong.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

One Reply to “Arus Balik dan Puisi Lainnya”

Leave a Reply to Iin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email