Sehat atau Sekadar Terlihat Sehat?: Ketika Olahraga FOMO Menjadi Gaya Hidup Anak Muda

Ilham Aqilah Arrazaqi

3 min read

Pada Juni 2026, kabar duka datang dari ajang BTN Jakarta International Marathon (JAKIM). Seorang peserta, Agus Putranadi, meninggal dunia setelah mengikuti lomba yang berlangsung di tengah kondisi cuaca yang cukup berat. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa di balik ramainya dunia lari, ada tubuh manusia yang tetap memiliki batas.

Kabar semacam itu terasa kontras dengan pemandangan yang belakangan semakin mudah ditemui di media sosial. Anak-anak muda berlari pada Minggu pagi, berkumpul dengan komunitas, memakai sepatu lari yang sedang populer, lalu mengunggah hasil lari mereka ke Instagram atau Strava. Olahraga FOMO seolah menjadi bagian dari kehidupan baru anak muda: bukan hanya soal bergerak, tetapi juga soal menjadi bagian dari sesuatu yang sedang ramai.

Fenomena pelari kalcer kemudian muncul sebagai istilah yang menarik perhatian. Istilah ini biasanya digunakan untuk menyebut pelari yang tidak hanya menjadikan lari sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup, penampilan, komunitas, dan budaya urban. Penelitian mengenai representasi digital pelari kalcer bahkan melihat adanya perubahan makna lari, dari aktivitas kebugaran menjadi ruang untuk membentuk identitas sosial dan gaya hidup.

Baca juga:

Perubahan tersebut sebenarnya tidak datang begitu saja. Media sosial membuat aktivitas yang dahulu bersifat pribadi menjadi sesuatu yang bisa dilihat banyak orang. Jarak lima kilometer, pace, sepatu yang dipakai, tempat berlari, sampai foto setelah finish dapat berubah menjadi semacam cerita tentang siapa diri seseorang.

Data Strava menunjukkan bahwa kecenderungan tersebut memang sedang berkembang. Dalam laporan Year in Sport 2025, lari masih menjadi olahraga yang paling banyak direkam di platform tersebut, sementara aktivitas mengikuti perlombaan meningkat cukup besar, terutama di kalangan Gen Z. Dibandingkan Gen X, Gen Z juga 75 persen lebih mungkin menyebut perlombaan atau event sebagai motivasi utama mereka berolahraga.

Perkembangan komunitas juga menunjukkan hal serupa. Sepanjang 2025, jumlah klub baru di Strava hampir empat kali lipat hingga mencapai satu juta klub, sementara klub lari tumbuh 3,5 kali lipat. Laporan yang sama mencatat bahwa kegiatan yang diorganisasi klub meningkat 1,5 kali dibandingkan tahun sebelumnya.

Di Indonesia sendiri, keberadaan komunitas lari bukan sesuatu yang benar-benar baru. Strava, misalnya, memiliki komunitas seperti INDORUNNERS dengan lebih dari sepuluh ribu anggota dan RIOT Indonesia yang telah memiliki sejumlah cabang di berbagai kota, termasuk Surabaya, Bandung, Malang, dan Yogyakarta. Artinya, budaya berlari secara berkelompok memang telah berkembang menjadi ruang sosial yang cukup besar.

Namun, di sinilah persoalannya mulai menarik. Kalau tujuan awal olahraga adalah menjaga kesehatan, mengapa aktivitas tersebut sekarang juga terasa seperti sesuatu yang harus diperlihatkan? Apakah seseorang benar-benar berlari karena ingin sehat, atau karena takut menjadi satu-satunya orang yang tidak ikut berlari ketika semua orang di sekitarnya sudah melakukannya?

Pertanyaan itu tidak berarti semua pelari kalcer adalah pelari yang hanya mengejar tren. Justru sebaliknya, banyak orang mungkin pertama kali mengenal olahraga karena melihat teman, influencer, atau komunitas lari di media sosial. Sesuatu yang awalnya dilakukan karena penasaran atau ikut-ikutan bisa saja berubah menjadi kebiasaan yang benar-benar menyehatkan.

Masalahnya muncul ketika ukuran keberhasilan olahraga perlahan bergeser. Bukan lagi hanya bagaimana tubuh terasa lebih sehat, tetapi bagaimana hasil lari terlihat di layar: berapa kilometernya, berapa pace-nya, sepatu apa yang digunakan, dan apakah ada foto yang cukup menarik untuk diunggah. Pada titik tertentu, olahraga seperti memiliki dua tujuan sekaligus: memperbaiki tubuh dan membangun citra diri.

Hal tersebut mengingatkan saya pada film Eighth Grade karya Bo Burnham. Film tersebut memang tidak bercerita tentang lari, tetapi menggambarkan kegelisahan seorang remaja yang berusaha menemukan dirinya di tengah tekanan media sosial dan keinginan untuk diterima oleh lingkungan. Apa yang terjadi di dunia lari hari ini dapat dibaca melalui persoalan yang serupa: aktivitas sehari-hari tidak hanya dijalani, tetapi juga dipikirkan berdasarkan bagaimana aktivitas tersebut akan terlihat oleh orang lain.

Dalam konteks ini, olahraga FOMO sebenarnya tidak hanya berbicara tentang rasa takut tertinggal dari sebuah tren. Ada kebutuhan yang lebih manusiawi di belakangnya, yaitu kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok. Bergabung dengan running club, memakai pakaian olahraga yang sama, lalu berlari bersama membuat seseorang memiliki ruang untuk bertemu orang lain dan merasa bahwa dirinya tidak sendirian.

Strava sendiri menunjukkan bahwa alasan sosial dalam olahraga semakin penting. Laporan 2024 mereka mencatat kenaikan 59 persen dalam partisipasi klub lari secara global. Sebanyak 58 persen responden mengatakan mereka mendapatkan teman baru melalui kelompok kebugaran, sementara aktivitas yang dilakukan bersama kelompok beranggotakan lebih dari sepuluh orang memiliki durasi rata-rata 40 persen lebih panjang dibandingkan aktivitas sendirian.

Artinya, menyebut fenomena pelari kalcer sebagai sesuatu yang hanya “ikut-ikutan” juga terlalu sederhana. Di balik foto-foto estetik dan istilah yang terdengar seperti lelucon di media sosial, ada orang-orang yang mungkin menemukan teman, rutinitas, bahkan alasan untuk keluar rumah melalui komunitas tersebut. Lari yang awalnya terlihat seperti tren bisa menjadi pintu masuk menuju kebiasaan yang lebih sehat.

Tetapi tetap ada hal yang perlu dipertanyakan. Ketika olahraga semakin terikat dengan pencitraan, apakah kita masih bisa menikmati aktivitas fisik tanpa merasa harus membuktikan sesuatu kepada orang lain? Jika setiap kilometer harus dicatat dan setiap pencapaian harus diunggah, jangan-jangan kita akhirnya lebih sibuk mendokumentasikan pengalaman daripada benar-benar mengalaminya.

Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada apakah seseorang termasuk pelari kalcer atau bukan. Istilah tersebut boleh saja menjadi bagian dari bahasa populer anak muda. Yang lebih penting adalah alasan seseorang berada di dalamnya. Jika media sosial dan komunitas membuat seseorang lebih aktif, menemukan teman, dan menjaga kesehatan, tren tersebut tentu bisa memiliki sisi yang positif.

Yang perlu dijaga adalah kemampuan untuk membedakan antara berolahraga karena ingin bergerak dan berolahraga karena takut tertinggal. Tidak semua orang harus mengejar pace tertentu, membeli sepatu mahal, mengikuti semua race, atau mengunggah hasil larinya. Berlari pelan, berhenti ketika tubuh sudah lelah, atau bahkan tidak mengunggah apa pun tetap merupakan bentuk olahraga.

Peristiwa meninggalnya peserta dalam JAKIM 2026 juga menunjukkan bahwa tubuh tidak pernah benar-benar mengikuti logika media sosial. Algoritma mungkin menyukai angka, pencapaian, dan konsistensi, tetapi tubuh manusia memiliki batas yang tidak bisa dinegosiasikan. Dokter olahraga yang dikutip dalam pemberitaan setelah kejadian tersebut bahkan mengingatkan pentingnya mendengarkan kondisi tubuh dan berhenti ketika muncul tanda seperti nyeri, pusing, gangguan pernapasan, atau kondisi tubuh yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan.

Baca juga:

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk menentukan siapa yang benar-benar pelari dan siapa yang hanya pelari kalcer. Sebab, bisa jadi keduanya memang tidak selalu berbeda. Seseorang bisa datang karena FOMO, lalu menemukan kesehatan; bisa datang karena ingin terlihat keren, lalu menemukan komunitas; atau datang karena mengikuti teman, lalu akhirnya benar-benar menyukai olahraga.

Yang perlu kita tanyakan justru lebih sederhana: ketika tidak ada kamera, tidak ada Strava, tidak ada Instagram, dan tidak ada orang yang melihat, apakah kita masih ingin berlari? Jika jawabannya iya, mungkin di situlah olahraga kembali menjadi milik kita sendiri. Bukan sekadar tren yang sedang berlangsung, melainkan sebuah pilihan untuk bergerak, hidup, dan mengenal batas tubuh tanpa harus selalu membuktikannya kepada dunia. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Ilham Aqilah Arrazaqi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email