Cuma Dikasih Tumpangan, Kok Aku yang Baper?

kalista naryama

2 min read

Jadi anak kelas 12 itu capek banget. Pagi sekolah, sore les, malam ngerjain latihan soal sampai mata perih. Yang ada di kepalaku saat itu cuma ada satu target, lolos PTN. Nggak ada ruang atau waktu buat hal-hal lain, apalagi urusan soal perasaan.

Tapi namanya juga hidup, kadang nggak ikut dengan rencana yang udah kita buat.

Awalnya biasa banget. Di bimbel, aku duduk di sebelah anak yang belum kukenal. Kami cuma ngobrolin soal rumus yang nggak ketemu-ketemu. Setelah kelas selesai, aku bingung nunggu ojek online yang tak kunjung kudapat. Tiba-tiba ada salah satu anak kelas yang secara tiba-tiba bilang, “Arah rumahmu searah sama aku, kan? Bareng aja.”

Cuma itu, satu kalimat. Tapi sejak hari itu, jadwal les yang tadinya sangat melelahkan berubah menjadi hal yang diam-diam kutunggu. Berangkat bareng, pulang bareng, ngobrolin seputar rencana kuliah di mana, dan ngobrolin soal SNBT sepanjang jalan. Lama-lama aku menyadari satu hal, aku suka sama dia. Bukan karena dia ganteng banget atau pinter banget, tapi hanya karena aku ditawarin berangkat dan pulang bareng.

Baca juga:

Aku sempat malu sama diri sendiri, segitu doang kok baper? Tapi karena lagi sering baca seputar teori psikologi. Aku coba cari tahu, ternyata semua perasaan ini ada penjelasannya.

“Hadiah” Kecil yang Bikin Nagih

B.F. Skinner terkenal dengan teori operant conditioning. Intinya, perilaku yang diikuti konsekuensi menyenangkan cenderung diulang. Konsekuensi menyenangkan itu disebut reinforcement atau penguatan.

Jika dilihat dari pengalamanku, pas banget. Setiap kali berangkat atau pulang bareng, aku dapat “hadiah” berupa ngobrol seru, perjalanan yang awalnya sepi menjadi nggak sepi, rasa aman, dan perhatian kecil yang dia berikan. Hadiah kecil tapi konsisten, otakku belajar bahwa “ada dia = hal menyenangkan”, jadi aku makin semangat untuk berangkat les. Bahkan dari les yang melelahkan, aku tetap berangkat dengan perasaan yang senang. Jadi mungkin rasa sukaku nggak muncul dari hal besar. Tapi tumbuh dari penguatan kecil yang datang secara berulang-ulang. Pantas saja terasa secara tiba-tiba, prosesnya halus dan nggak aku sadari.

Kenapa Kita Rentan di Usia Segini?

Erik Erikson membagi perkembangan manusia ke dalam beberapa tahap krisis psikososial. Remaja seperti aku ada di tahap identity vs. role confusion, yaitu fase mencari jati diri. Aku ini siapa, mau jadi apa, mau kuliah di mana.

Nah, kelas 12 adalah puncaknya. Aku dituntut untuk memilih jurusan dan kampus, padahal kadang aku sendiri belum yakin sama apa yang aku pilih. Di fase yang penuh tekanan dan keraguan seperti ini, kehadiran seseorang yang konsisten menemaniku terasa sangat berarti. Ada yang mendengarkan keluhanku soal nilai tryout yang turun, yang bilang “udah bagus kok. Santai aja, masih ada waktu,” pas aku hampir menyerah dengan semuanya.

Erikson juga menyebut tahap setelahnya, intimacy vs. Isolation, yaitu kebutuhan membangun kedekatan yang dalam. Mungkin perasaanku adalah tanda awal kebutuhan itu mulai muncul, aku nggak mau ngerasa sendirian menghadapi masa yang berat ini, dan dia datang di waktu yang pas. Tapi ini semua juga bikin aku ngerasa harus hati-hati: apa aku benar-benar suka dia, atau karena aku lagi butuh pegangan saja?

Cinta yang Bukan Cuma Perasaan

Erich Fromm, lewat The Art of Loving, bilang bahwa cinta itu bukan hanya sekedar perasaan yang datang sendiri, tapi sesuatu yang dipraktikkan. Ia menyebut unsur-unsurnya: perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan tentang orang yang dicintai.

Kalau kupikir lagi, justru dia yang lebih dulu mempraktikkan hal tersebut, dia perhatian karena nawarin tumpangan untuk berangkat dan pulang bareng. Dia bertanggung jawab karena nggak pernah ninggalin aku nunggu sendirian, dia bahkan menghormati karena nggak pernah ngeledek dengan target yang ingin aku capai, padahal jurusan yang aku incar susah banget tembusnya.

Dan dari situ aku belajar bahwa perasaan suka nggak boleh berhenti di fase “deg-degan”. Aku juga harus belajar peduli dan menghargai dia, bukan cuma menikmati perhatiannya saja. Dan aku harus ingat, kita sama-sama sedang berjuang untuk tujuan kita masing-masing. Dia punya mimpi dan tekanan sendiri, jadi aku nggak boleh egois.

Jadi, Bagaimana Sekarang?

Setelah mikir panjang, aku memutuskan satu hal: perasaan ini jangan sampai mengganggu proses perjuangan kita. Skinner mengingatkan bahwa aku gampang terikat sama hal yang bikin nyaman secara tidak sengaja. Erikson mengingatkan bahwa aku lagi di fase rawan salah mengira kebutuhan akan pegangan sebagai cinta. Fromm mengingatkan bahwa kalau memang suka, aku harus belajar memperlakukannya dengan baik.

Baca juga:

Jadi, aku mau fokus dulu dengan apa yang ingin aku capai sebelum aku memutuskan untuk memiliki hubungan dengan siapapun. Aku masih mau tetap berangkat bareng, tetap saling semangatin satu sama lain, dan tetap belajar sungguh-sungguh untuk masa depan aku. Dan jika pada akhirnya perasaan ini nyata adanya, dia akan tetap bertahan setelah pengumuman SNBT keluar. Kalau cuma bagian dari masa sulit yang sedang aku hadapi ini, setidaknya aku sudah punya kenangan manis dan teman seperjuangan yang baik.

Buat kamu yang lagi di posisi yang sama, tiba-tiba suka sama orang yang menemani di masa sulit kamu, nggak apa-apa, itu manusiawi. Cuma jangan lupa bahwa kamu juga punya mimpi yang harus dikejar, dan orang yang tepat justru akan ikut mendukungnya. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

kalista naryama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email