The Lorax dan Ironi Ekologis Indonesia

Muhammad Zahrudin Afnan

3 min read

Dalam buku anak berjudul The Lorax, seorang tokoh bernama Once-Ler menebang satu pohon truffula untuk membuat sehelai thneed. Satu batang pohon berubah menjadi satu bisnis, satu bisnis berubah menjadi pabrik, pabrik itu kemudian menelan seluruh hutan sampai penjaganya, sang Lorax, meninggalkan hanya satu kata di atas batu: UNLESS.

Dr. Seuss menulis cerita ini pada 1971, jauh sebelum krisis iklim menjadi berita harian. Film adaptasinya, The Lorax (2012) garapan Chris Renaud dan Kyle Balda, memindahkan pesan itu ke layar lebar lewat kota rekaan bernama Thneedville, tempat penduduknya membeli udara bersih dalam kemasan karena tidak ada lagi pohon dan rumput asli yang tersisa. Kota buatan penuh plastik itu terasa berlebihan sebagai fiksi. Data terbaru dari hutan Indonesia menunjukkan jarak antara fiksi itu dan kenyataan semakin tipis.

Dibakarnya Hutan-Hutan

Kebakaran hutan dan lahan menjadi bukti paling telanjang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat luas karhutla nasional mencapai 72.798 hektare per 23 Agustus 2026, dengan Kalimantan Barat menyumbang 38.310,89 hektare, lebih dari separuh total kejadian.

Kementerian Kehutanan mencatat angka yang lebih tinggi untuk Januari–Juli 2026, yaitu 202.004 hektare, tertinggi dibanding periode yang sama dalam dua siklus El Nino sebelumnya, seiring indeks Nino 3.4 yang mendekati kekuatan El Nino 2015. Pejabat Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa karhutla bukan bencana alam murni, sebagian besar berasal dari aktivitas manusia yang disengaja maupun lalai, meruntuhkan alasan klasik “faktor cuaca” yang biasa dipakai untuk menutupi pembukaan lahan dengan cara membakar.

Baca juga:

Laporan harian BNPB memperlihatkan titik api tersebar merata, bukan lagi terkonsentrasi di satu pulau, dan itu terjadi saat lembaga yang sama sedang menangani bencana geologis besar. Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026, memicu ribuan gempa susulan hingga menembus 5.688 kejadian pada 23 Agustus dan menewaskan 91 jiwa di sembilan kabupaten serta satu kota, dengan lebih dari 110 ribu warga mengungsi.

Pada 23–24 Agustus 2026 saja, kebakaran lahan tercatat di Batam (35 hektare), Samosir (5 hektare), Kutai Barat (10 hektare), Halmahera Timur (3,5 hektare), Magetan (7 hektare), hingga Aceh Besar (11 hektare) yang membakar dua kampung, Gampong Lamtamot dan Gampong Data Makmur.

Kondisi paling berat terjadi di Nabire, Papua Tengah, tempat api merambat di tujuh distrik sejak 18 Juli hingga menghanguskan 396,13 hektare lahan, dengan sejumlah titik api yang masih belum terjangkau armada darat.

Kekeringan turut melanda 10.364 jiwa di Kabupaten Malang, membuat warga bergantung pada distribusi air bersih untuk kebutuhan harian. Musim kering yang memanjang bahkan menyulut tragedi budaya. Kebakaran hebat meluluhlantakkan Desa Adat Sade di Lombok Tengah pada malam 22 Agustus 2026, menghanguskan puluhan hingga ratusan rumah adat berbahan bambu dan atap ilalang, memaksa sekitar 320 warga Suku Sasak mengungsi. Penyebabnya diduga korsleting listrik, namun kecepatan api merambat tidak lepas dari bahan bangunan yang mengering akibat cuaca panas berkepanjangan.

Tiga bencana dalam satu pekan yang sama, gempa, karhutla, dan kebakaran permukiman adat, menunjukkan krisis lingkungan Indonesia kini bertumpuk dengan kerentanan struktural lain, sementara kapasitas penanganan bencana nasional dipaksa bekerja di banyak lini sekaligus.

Deforestasi melengkapi gambaran suram itu. Yayasan Auriga Nusantara dalam laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 mencatat kehilangan hutan sebesar 433.751 hektare sepanjang tahun tersebut, melonjak 66 persen dibanding 2024, setara enam kali luas Singapura.

Papua mengalami lonjakan paling tajam akibat proyek strategis nasional dan food estate, sementara Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencatat kenaikan deforestasi hingga 1.034 persen di satu provinsi saja, bersamaan dengan bencana banjir bandang dan longsor di ketiga wilayah itu pada akhir 2025.

Korelasi antara hutan gundul dan bencana beruntun bukan kebetulan. Once-Ler dalam film menebang pohon sedikit demi sedikit sampai hutan truffula benar-benar habis, dan tempat tinggal seluruh penghuninya lenyap bersamanya. Pola yang sama terjadi di Bukit Barisan, hanya dengan skala yang jauh lebih besar.

Ancaman Kepunahan

Dampak paling permanen justru jatuh pada keanekaragaman hayati. Data IUCN Red List per Juli 2026 menempatkan Indonesia di posisi pertama dunia dengan 1.370 spesies hewan berstatus terancam punah, mengalahkan Amerika Serikat, Australia, dan Brasil.

Populasi harimau sumatra tersisa kurang dari 400 individu, badak jawa hanya bertahan sekitar 75 hingga 80 ekor di Ujung Kulon, sementara orang utan kalimantan merosot dari sekitar 288.500 individu pada 1973 menjadi sekitar 47 ribu pada 2025.

Baca juga:

Sebanyak 159 spesies burung Indonesia turut berstatus terancam punah secara global, mayoritas akibat perubahan dan pemanfaatan lahan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik konservasi, melainkan hitungan mundur menuju kiamat biodiversitas, momen ketika suatu spesies berhenti menjadi bagian dari ekosistem dan berubah menjadi entri arsip di museum sejarah alam.

Titik paling menohok dari The Lorax justru bisnis udara bersih milik Aloysius O’Hare, tempat warga Thneedville membayar untuk sesuatu yang seharusnya gratis dan berlimpah. Jakarta dan sejumlah kota besar Indonesia sudah lebih dahulu bergerak ke arah itu lewat maraknya penjualan tabung oksigen portabel dan alat pemurni udara rumahan sebagai respons atas polusi yang memburuk. Skenario Thneedville berhenti menjadi metafora belaka begitu udara bersih diperlakukan sebagai komoditas, bukan hak dasar warga negara.

Kritik terhadap film ini pada masanya menyebut pesannya terlalu eksplisit, hampir seperti propaganda anak-anak melawan industri. Kritik itu masuk akal jika dilihat semata sebagai karya seni, tetapi kehilangan relevansi begitu dibandingkan dengan kecepatan kerusakan ekologis Indonesia dalam satu dekade terakhir. Once-Ler pada akhir cerita menyesal karena tidak mendengarkan peringatan Lorax sejak awal, dan penyesalan itu datang setelah hutan benar-benar habis, bukan sebelumnya.

Kalimat penutup dalam film Dr. Seuss tetap menjadi kalimat paling relevan untuk konteks Indonesia hari ini: unless someone like you cares a whole awful lot, nothing is going to get better, it’s not. Kepedulian yang dimaksud bukan sekadar mematikan lampu satu jam saat Earth Hour, melainkan tekanan publik yang konsisten terhadap kebijakan konsesi lahan, penegakan hukum terhadap pembakar hutan, dan evaluasi proyek strategis nasional yang mengorbankan kawasan hutan lindung.

Thneedville dalam film The Lorax pada akhirnya berhasil menanam kembali satu pohon di pusat kota sebagai awal pemulihan. Indonesia masih memiliki hutan yang jauh lebih luas dari satu bibit pohon untuk diselamatkan, asalkan keputusan untuk peduli itu diambil sebelum angka-angka di atas berubah menjadi catatan penyesalan seperti milik Once-Ler.

 

 

Editor: Prihandini N

Muhammad Zahrudin Afnan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email