Perempuan pecinta nasi padang.

Menonton Bola Bersama Bapak

Surya Rahmah Labetubun

3 min read

Piala Dunia 2026 sudah selesai.

Stadion kembali sunyi. Jersey para pendukung mulai disimpan. Linimasa yang selama beberapa minggu dipenuhi prediksi, perdebatan, dan selebrasi perlahan kembali membicarakan hal-hal lain. Piala Dunia memang selalu begitu. Ia datang seperti pesta besar yang hanya berlangsung sebentar, lalu pergi meninggalkan sesuatu yang tidak selalu terlihat di papan skor. Bagi sebagian orang, yang tersisa mungkin adalah nama pemain terbaik, gol paling indah, keputusan wasit yang kontroversial, atau tim yang pulang dengan kemenangan.

Bagi sebagian lainnya, yang tersisa justru hal-hal kecil: begadang, berkumpul bersama teman, saling mengejek pendukung lawan, atau cerita tentang bagaimana sebuah pertandingan ditonton bersama orang-orang tertentu. Bagi saya, Piala Dunia selalu meninggalkan satu hal yang jauh lebih personal. Ia membawa saya kembali kepada seseorang yang pertama kali memperkenalkan saya pada sepak bola: bapak.

Saya tidak pernah benar-benar paham bola. Dan anehnya, saya tidak pernah merasa itu masalah sampai saya sadar bahwa banyak orang menganggapnya masalah. Terutama ketika yang tidak paham itu adalah perempuan. Sebab sepak bola bukan hanya permainan. Ia juga sebuah ruang sosial. Dan ruang itu sejak lama sering diberi tanda sebagai ruang laki-laki.

Baca juga:

Ada anggapan yang bekerja diam-diam: laki-laki dianggap lebih wajar memahami sepak bola, sementara perempuan yang tertarik padanya sering harus melewati semacam ujian tidak tertulis. Kalau tidak tahu, dianggap ikut-ikutan. Kalau bertanya, dianggap tidak paham. Kalau berpendapat, sering diminta membuktikan bahwa ia benar-benar mengerti.

Perempuan boleh hadir, tetapi sering ditempatkan sebagai penonton kedua. Boleh melihat pertandingan, tetapi jangan terlalu banyak bicara. Boleh menyukai sepak bola, tetapi jangan sampai mengambil ruang.

Saya mengenal dunia itu.

Tapi kemudian, Piala Dunia datang dan mengubah cara saya melihatnya. Kalau harus jujur, saya tidak belajar sepak bola dari bapak. Saya belajar bapak dari sepak bola.

Semua bermula pada 2002. Saya berusia 15 tahun waktu itu. Usia ketika seseorang mulai merasa cukup dewasa untuk memiliki pendapat sendiri, tetapi masih cukup muda untuk bertanya tentang banyak hal. Bapak bukan orang yang pendiam. Justru sebaliknya, beliau adalah orang yang senang berdiskusi dan berdialog tentang banyak hal.

Namun Piala Dunia memperlihatkan sisi lain dari bapak.

Bukan hanya sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan tentang sepak bola, tetapi sebagai seseorang yang membuka ruang agar saya ikut memahami sesuatu yang selama ini dianggap bukan wilayah saya.

Kami menonton bersama di ruang keluarga. Dan seperti kebiasaan saya, saya banyak bertanya. “Kenapa dia diberi kartu?”, “Kenapa itu bisa penalti?”, “Kenapa ada tambahan waktu?” Pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang terdengar sederhana. Tapi bapak tidak pernah membuat saya merasa pertanyaan itu tidak penting.

Beliau menjawab. Menjelaskan. Mengajak berdiskusi.

Kadang jawabannya panjang. Kadang malah melebar ke cerita lain. Tapi dari situlah saya belajar sesuatu: bahwa memahami sesuatu tidak selalu dimulai dari tahu.

Kadang dimulai dari diberi kesempatan untuk bertanya. Dan mungkin itulah hal paling penting yang diberikan bapak kepada saya. Bukan sekadar pengetahuan tentang sepak bola. Tapi keyakinan bahwa saya juga berhak berada di ruang itu.

Dari sana saya mulai mengenal nama-nama. Miroslav Klose. Michael Ballack. Oliver Kahn.

Saya tidak tahu posisi mereka. Tidak hafal statistik mereka. Saya bahkan belum benar-benar memahami mengapa sebuah tim bisa menang atau kalah. Tapi nama-nama itu punya tempat dalam ingatan saya. Dan entah bagaimana, saya memilih Jerman. Pilihan yang tidak sepenuhnya rasional. Bahkan ketika Jerman kalah dari Brasil di final Piala Dunia 2002.

Baca juga:

Jika sepak bola hanya tentang kemenangan, mungkin saya sudah memilih tim lain. Tapi ternyata tidak semua pilihan lahir dari logika. Belakangan saya baru menyadari, ada alasan kecil yang membuat pilihan itu terasa dekat: mama mendukung Jerman waktu itu. Jadi mungkin, sejak awal, saya tidak hanya memilih sebuah negara. Saya memilih sebuah kenangan keluarga.

Tahun-tahun berikutnya berlalu. Saya mengenal nama-nama baru. Thomas Müller. Bastian Schweinsteiger. Philipp Lahm. Toni Kroos. Mesut Özil. Lukas Podolski. Mario Götze. Jens Lehmann. Saya tetap bukan penggemar sepak bola yang hafal semua detail pertandingan. Saya tidak mengikuti liga setiap minggu. Tetapi setiap empat tahun sekali, saya selalu kembali. Bukan karena saya tiba-tiba menjadi ahli. Tetapi karena Piala Dunia selalu membawa saya pulang kepada sesuatu.

Bagi saya, Piala Dunia bukan hanya tentang sepak bola. Ia adalah tentang keluarga. Tentang ruang keluarga yang tiba-tiba menjadi tempat berkumpul. Tentang televisi yang menyala lebih lama. Tentang orang-orang yang mungkin sehari-hari sibuk dengan urusannya masing-masing, tetapi tiba-tiba duduk bersama karena satu pertandingan.

Piala Dunia membuat orang berhenti sejenak. Dan mungkin itu kekuatan sepak bola yang sering dilupakan. Ia bukan hanya tentang kompetisi. Ia tentang pertemuan.

Namun zaman berubah. Hari ini, kita tidak lagi harus menunggu televisi rumah untuk menonton pertandingan.Piala Dunia bisa hadir di genggaman tangan. Setiap orang bisa memilih layar sendiri. Memilih waktu sendiri. Bahkan memilih ruang sendiri. Teknologi membuat sepak bola semakin mudah diakses. Tetapi kemudahan itu membawa paradoks. Kita semakin dekat dengan pertandingan, tetapi semakin jauh dari orang-orang yang menontonnya bersama kita.

Dulu, keterbatasan membuat kita berkumpul. Sekarang, kemudahan justru membuat kita bisa berpisah. Kita menonton pertandingan yang sama, tetapi dari ruang yang berbeda. Kita melihat gol yang sama, tetapi tidak selalu berbagi reaksi yang sama. Tidak ada lagi pertanyaan spontan. Tidak ada lagi penjelasan kecil di tengah pertandingan. Tidak ada lagi momen menoleh kepada orang di sebelah kita dan berkata, “lihat tadi?

Dan mungkin, tanpa sadar, teknologi tidak mengambil sepak bola dari kita. Ia hanya mengambil alasan untuk bersama.

Karena itu, budaya nonton bareng menjadi sesuatu yang menarik. Di tengah dunia yang semakin individual, nobar seperti usaha kecil untuk merebut kembali sepak bola sebagai ruang bersama. Di sana, orang-orang yang berbeda latar belakang duduk di tempat yang sama.

Pendukung yang berbeda klub bisa tertawa bersama. Orang yang memahami sepak bola dan orang yang baru belajar memahaminya berada dalam ruang yang sama. Di sana, perempuan tidak harus datang membawa sertifikat pengetahuan agar diterima. Tidak harus membuktikan bahwa ia cukup paham untuk ikut bersorak.

Sebab sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya milik mereka yang paling tahu. Ia juga milik mereka yang punya cerita.

Mungkin itu sebabnya sampai sekarang saya masih menunggu Piala Dunia. Bukan semata untuk melihat siapa yang menang. Bukan hanya untuk mendukung Jerman. Tetapi untuk mengingat kembali ruang kecil di rumah, televisi yang menyala, dan seseorang yang tidak pernah membuat saya merasa asing di dunia yang katanya bukan milik saya.

Karena pada akhirnya, saya tidak pernah benar-benar belajar sepak bola. Saya hanya belajar bahwa di tengah riuhnya sebuah permainan, selalu ada cara untuk saling memahami. Dan saya belajar itu dari bapak. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Surya Rahmah Labetubun
Surya Rahmah Labetubun Perempuan pecinta nasi padang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email