UMR
Seorang gadis yang riang dan gembira, sepagi itu terburu-buru mengenakan seragam batik coklat sebab, seperti cinta picisan yang mudah ditebak akhirannya, ia sedang dicari jam buka hotel. Seorang gadis dengan bibir merah muda, cepat mengenakan blues juga jas pendek khas pelayan resepsionis. Dan memaksa ia tersenyum manis sebab kata si manajer: resepsionis adalah wajah hotel, maka harus selalu terlihat menyenangkan, meskipun hidupnya hancur dan berantakan.
Seorang gadis yang riang dan gembira, selalu mengeluh menjelang akhir bulan. Bukan hanya sebab cicilan ponsel keluaran terbaru, atau di hari minggu, ia dan kawan-kawannya sering nangkring di starbuck. Diam-diam ia juga berkirim ke kampung untuk perbaikan rumahnya yang hampir jadi atau adik kecilnya yang merengek minta mainan baru. Maka setiap akhir bulan, ia akan bekerja alternatif. Setelah mengunduh aplikasi “hijau” di ponselnya, ia mencoba peruntungan baru.
Seorang gadis yang riang dan gembira itu terlihat makin bersahaja. Pekerjaan alternatifnya memberikan kebahagiaan baru. Ia bisa merasai tidur di hotel-hotel yang bahkan lebih mewah dari tempat kerjanya. Dan rekeningnya, yang dulu sering kempes di akhir bulan, kini selalu bergelimang. Tetapi suatu petang, di kamar kostnya yang mulai mewah, ia panik lalu buru-buru menelpon lalu berujar, “Om, aku hamil. Bagaimana ini?”
Tak ada suara. Tak ada jawaban. Hanya sepi yang terus mengerubungi dadanya dari luar jendela.
–
CIU
Segala yang terhisap dari masa muda bersumber dari kesepian-kesepian yang ganjil dari perasaan. Sebab itu, telah dicuri kami, dari setiap lapis demi lapis hangat rumah: kamar masa kecil, kolong meja, dapur Ibu, jendela hari tua, dan segala hal yang dicintai mereka.
Lalu kami pergi dan berkenalan dan mencintai gelap jalan dan mencintai sumpek kamar kost dan berhambur pada kios-kios yang hanya buka ketika larut. Bergerombol dan melingkar seperti ular, lalu belajar mengumpati kota.
Ah, masa muda, gerutu kami ketika melihat gadis-gadis—yang hanya menggunakan rok pendek, melintas lalu saling berbagi gelas. Seseorang dari kami, sebagai pemandu, mencengkram erat botol lalu menuangkan setiap kesepian.
Seperti suara-suara pendek surga, yang kami bayangkan hanya lesatan pendek umur dengan sayap gadis langit, menjemput kami ke kamarnya. Seumpama doa-doa pendek pak haji, menerbangkan kami menuju sesuatu yang dipungkiri dunia.
Ah, masa muda, gerutu kami bergantian, bergantian.
–
Diskifunque
Dengan tangga lagu yang sering bersembunyi ketika wifi tetangga mati, ponsel saya sering berkicau dalam bahasa-bahasa dunia. Kadang, kicauannya, seperti bibir Ibu yang tiap kali saya menunda ibadah, penuh-penuh sumpah serapah dan kalimat yang disetir dari kitab agama mengambang di sekitar saya. Dengan sedikit kesal, biasanya saya banting ponsel yang rewel itu, lalu cepat-cepat ke kamar mandi untuk persiapan beribadah puisi.
Tetapi sekarang, ponsel saya hilang dicuri pacar. Baru-baru ini ia mengaku sudah siap mengantikan posisi ponsel saya itu. Dan sebabnya ia berujar, “Kapan kau akan menikahiku?” dan saya limbung dan berujar pendek, “Ah, dasar perempuan sialan.”
–
Hari Tua
Bila kelak hari tua tiba-tiba menimpa tubuh, kesalahan apa yang ingin kau akui pada anak cucu yang berebut warisan baik dan buruk dari hidupmu?
–
Tugu
Ia yang riang dan murah hati, sebetulnya ingin cepat-cepat tidur. Tetapi, kesepian memaksa mata sipitnya untuk lembur. Maka ia termenung di atas motor dan membelokkannya ke jalan ramai menuju tugu. Di perempatan, perempuan berbaris rapi. dan pelan-pelan, ada suara dalam dirinya yang bertanya datar, “tugu, apa yang kau benci dariku?” dan tubuh ia gemetar, sebab tugu hening dan cuek memandang wajah ia yang berengsek. “Ah tugu,” katanya pelan dan bersahaja, “meski aku mendua, tak pernah aku melupakanmu. Sebab, setia adalah kisah panjang yang hanya dimiliki orang beriman.”
*****
Editor: Moch Aldy MA
