Baca tulisan saya lainnya di akun Medium: tantridp

Tiga Punggung Ibu

Tantri DP

4 min read

Hubunganku dan Ibu seperti bait-bait puisi yang tak pernah usai. Aku menyusun kata demi kata dalam rima, sedang Ibu membiarkannya tak berirama. Sebesar apa pun usahaku untuk tetap bersama Ibu, Ia selalu memilih jalan yang berbeda. Kenangan-kenangan soal Ibu selalu memantul dalam dinding kamar yang kusewa bulanan. Aku sengaja menghukum diri untuk tinggal di luar kota, agar aku memiliki alasan merindukannya. Meski sampai sekarang, alasan itu tak kunjung kutemukan.

Ibu telah melenyapkan mimpiku menjadi seorang penyanyi dan membiarkanku menjalani hari-hari yang penuh kehampaan. Di antara debu dan roda, seringkali aku bertanya. Apakah hidupku akan selamanya seperti ini? Bagaimana dengan nada-nada yang setiap malam menghantuiku, menuntutku?

Sementara Ibu, meski usianya bertambah, tidak menjamin perbaikan pada sikapnya. Bahkan, semakin hari sifat keras kepalanya semakin menjadi. Setiap tanggal satu, Ibu menceramahiku macam-macam. Jangan menghambur-hamburkan uang, ingat sisihkan untuk menabung, belilah emas, belajar hidup mandiri. Kelak kau akan memahami mengapa Ibu berkata seperti ini.

Berulang kali ceramah Ibu menyatu dengan bising suara klakson dan teriakan sopir angkot yang tidak sabaran. Lenyap begitu saja. Sedangkan suara dalam dadaku setiap waktu kian bergemuruh. Setelah bekerja keras sejauh ini, apakah aku masih tak pantas menikmati hasil jerih payahku? Aku berhak untuk menghabiskan uang gajiku yang tak seberapa ini untuk mengikuti tren seperti anak muda lainnya. Membeli tas, sepatu, atau sekedar mengunjungi kafe cantik viral yang banyak dielu-elukan. Bukannya ini adalah bayaranku atas mimpi yang kugadaikan kepada Ibu?

***

“Ibu sakit. Kamu bisa pulang?”

Pada sore hari saat matahari bersiap mengundurkan diri, Ayah menelepon. Semburat senja menyala-nyala di tengah celah gedung. Aku baru saja turun dari kereta yang sesak oleh manusia yang terburu-buru. Tak biasanya Ayah yang selalu abai soal urusan keluarga, repot-repot meneleponku.

“Lihat nanti. Aku harus urus cuti.”

Kalimat ini meluncur sebagai alasan yang kubuat-buat. Tidak ada masalah soal cuti, sebab selama ini aku tak pernah mengambil jatah cutiku. 

“Ya sudah. Kalau bisa pulang, ya. Ibu menunggu.”

Ayah buru-buru menutup telepon. Tak ada kata rindu atau kalimat manis yang biasa orang tua katakan pada anaknya yang sudah lama tak pulang. Seolah-olah Ayah hanya ingin menuntaskan kewajibannya saja. Agar ia terlihat turut berjasa. Sehingga ketika nanti Ibu bertanya, atau orang-orang bertanya, ia akan menjawab, “aku sudah membujuknya pulang, tapi dia sendiri yang tidak mau.”

Seperti biasa, akulah yang akan menjadi tempat menampung segala umpatan. Anak perempuan pertama yang tidak bisa menjaga orangtua, adik-adik, dan keluarganya. 

***

Aku berusaha hidup sebagaimana mestinya. Menjalani hari-hari yang membosankan, mengulang mimpi-mimpi yang gagal kuperjuangkan. Setiap malam, aku mengutuk diriku atas kesempatan yang terlewatkan. Pernah suatu ketika, saat aku baru pertama kali merantau ke kota ini, seseorang menawariku menjadi penyanyi paruh waktu di sebuah kafe. Aku begitu senang mendengarnya. Setidaknya, aku masih bisa menjadikan bernyanyi sebagai hobi.

Namun, baru sekali aku mendapatkan panggung, Ibu mengeluarkan kalimat saktinya.

“Ibu menyekolahkan kamu tinggi-tinggi sampai jadi sarjana bukan untuk jadi penyanyi kafe. Bukan untuk ngamen. Fokus pada pekerjaan kantormu itu. Jadilah direktur kalau bisa.”

Kebahagiaanku seketika tergulung oleh kalimat menyakitkan dari Ibu. Aku menelan kembali rasa senang yang sempat mampir dan memutuskan untuk berhenti. Bodohnya aku. Seharusnya aku lanjutkan saja. Toh, Ibu tak akan tahu. Bisa saja aku berbohong, tapi naluriku sebagai anak baik-baik seolah meronta. 

Jika ditanya apa satu kata untuk Ibu, aku kesulitan menjawab. Mungkin kata “benci” seakan bisa menggambarkan apa yang aku rasakan. Namun, bukankah kebencian itu timbul karena pernah ada rasa cinta? Bagaimana mungkin aku membenci Ibu, sedangkan aku tidak tahu apakah pernah sedikit mencintainya.

Aku tidak sepenuhnya menyalahkan Ibu. Ayahku pun sama. Dia adalah laki-laki tanpa inisiatif yang hidup bagai parasit di keluarga kami. Pekerjaannya tak menentu, berganti-ganti setiap waktu. Hanya kebiasaan merokoknya saja yang selalu konsisten ia lakukan sejak aku kecil hingga sekarang. Setiap kali aku melihat Ayah, rasanya ia hanyalah sebuah bayang-bayang yang bisa hilang kapan saja. 

Ibu sering kali bertengkar dengan Ayah. Saat pagi menjelang aku berangkat sekolah, atau saat petang kala aku bersiap untuk tidur. Jika sudah bertengkar, aku dan adik-adikku harus siap kena semprot Ibu. Amarahnya meledak-ledak bagai petasan. Hal ini juga yang membuat aku merasa bahwa Ayah sebaiknya tidak usah pulang ke rumah. 

***

Ayah kembali menelponku dan berkata bahwa sakit Ibu semakin parah. Meski begitu, aku tetap mengabaikan. Sejauh yang aku tahu, Ibu tak pernah sakit lebih dari satu minggu. Ia hanya butuh istirahat sebentar dan sehat seperti sedia kala. Ibu bisa bekerja dari pagi sampai sore, menyiapkan kebutuhan sekolah kami, sekaligus mengurus Ayah yang payah. Sejauh aku menjadi anaknya, Ibu jarang sekali sakit.

Namun, keteguhanku goyah ketika adikku mengirimkan pesan. Kondisi Ibu begitu lemah. Ia memintaku segera pulang. Khawatir sesuatu yang buruk terjadi.

Kami tiga bersaudara dan hanya adik bungsuku saja yang tertinggal di rumah. Sedangkan si anak tengah sama sepertiku, memilih merantau dan tidak mau pulang. Mungkin karena uang bulanan yang ia kirimkan kepada Ibu jauh lebih besar dari apa yang kuberi, Ibu tak pernah sekali pun protes. Berbeda denganku yang masih saja dituntut banyak hal bahkan ketika aku sudah tidak berada dalam atap yang sama.

Mendengar tangisan adikku, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil cuti beberapa hari. Aku pulang, bukan karena Ibu tapi karena adikku meminta. Aku bisa merasakan betapa tertekan perasaannya saat hanya tinggal berdua dengan Ibu. 

***

Meski sudah dua tahun tidak pulang, rumah ini masih terlihat sama. Remang cahaya lampu menyinari ruang-ruang yang luasnya tak seberapa. Aku mengetuk pintu perlahan dan terdengar derap langkah terburu dari dalam. Saat pintu dibuka, adikku menghambur dan memelukku erat.

“Mbak Nares lama banget pulangnya,” ada air mata yang mengalir di pipinya. Aku menepuk punggungnya perlahan, berharap bisa memberikan sedikit rasa tenang.

“Ibu bagaimana?” aku melempar pertanyaan basa-basi.

“Sudah mau makan, sejak tadi duduk di depan TV menunggu Mbak Nares.”

Adikku menarik tanganku, membawaku menyusuri setiap sudut yang pernah mengukir kenangan. Semakin dekat, aku bisa melihat bayangan Ibu. Ibu duduk ke arah televisi membelakangiku. Mendengar langkah yang mendekat, seketika Ibu menoleh dan sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Ibu wes waras, Nduk.” 

Aku menyalami Ibu dan hidungku menangkap aroma minyak tawon yang menguar. Aroma yang sejak dulu selalu identik dengan bau tubuh Ibu. 

“Rima, tehnya dipanaskan. Biar mbakyumu minum dulu.”

Seketika Ibu menjadi begitu repot. Adikku buru-buru menyiapkan teko dan cangkir. 

“Mbak, minum dulu tehnya. Ibu juga sudah masak soto seger dan tempe goreng buat Mbak Nares.” Adikku menyenggol lenganku.

Ibu tergopoh-gopoh membawa piring dan sendok ke meja makan. Menatanya seolah-olah baru saja kedatangan tamu agung. Kupandangi punggung Ibu yang sedikit membungkuk. Sudah berapa lama aku tak memerhatikannya sampai-sampai kini Ibu terlihat begitu renta? Dalam sekejap pikiranku terbawa pada arus yang memutar kisah masa lalu.

Saat dulu kecil, Ibu pernah bercerita bahwa setiap perempuan mempunyai tiga punggung. Aku memelotot tak percaya. Ibu mengelus rambutku dan tawanya seketika pecah.

“Punggung pertama untuk suaminya, punggung kedua untuk anak-anaknya, dan punggung ketiga untuk seluruh keluarganya. Tidak semua perempuan beruntung. Ada perempuan yang turut bekerja demi keluarganya, mengurus anak-anaknya sekaligus suaminya. Punggung perempuan harus kuat karena di sana ia menanggung seluruh beban.”

Kemudian, Ibu mengusap matanya. Katanya, Ia kelilipan. Kelilipan membuat matanya merah dan berair. Tapi, hidung Ibu juga ikut berair. Ibu hanya berkata, itu karena Ibu terlalu senang.

Aku melihat Ibu yang kerepotan membawa jajanan ke meja makan. Beberapa kali Ibu mengomeli Rima yang lambat dan tidak cermat. Seperti biasa, aku tidak melihat Ayah. Ia selalu sibuk dengan urusan yang tidak pernah selesai.

“Jangan bengong saja, Res. Sini, makan. Cuci tanganmu dulu. Mandinya nanti saja, makan dulu.”

Ibu mulai dengan omelan-omelannya, seolah-olah aku adalah anak kecil yang baru saja pulang bermain dan terlambat makan siang.

Di ujung sana, Rima dengan penuh harap memintaku mendekat ke meja makan. Tentu ia tak mau kena omel Ibu. Aku mengalah dan duduk di kursi yang sebagian busanya menyembul keluar. Aroma soto menguar membuat perutku terasa lapar. Tempe goreng yang terlihat garing dan gurih membuat air liurku tak dapat ditahan. Rima menyodorkan piring dan sendok ke arahku.

Sementara Ibu, masih berkutat dengan sajian yang tak kunjung habis. Ia berulang kali mengangkut satu makanan dan makanan lain dari arah dapur.

“Ini ada bakso goreng, Rima yang buat. Dicoba juga.”

Sepiring bakso goreng terhidang menggoda. Ibu memegang cangkir tehku dan berteriak ke arah Rima,

“Rima. Tehnya kurang panas. Ambilkan air di termos.”

Aku memandangi Ibu yang masih sibuk dengan dirinya sendiri. Memastikan semuanya sempurna tanpa cela. Barangkali Ibu memang selalu seperti itu. Ia selalu senang direpotkan.

Kami menyantap makan malam dalam diam. Terdengar sayup-sayup senandung Ibu bersahutan dengan denting sendok dan piring. Seketika aku terngiang oleh ucapanku di masa lalu, “Ibu … seharusnya bukan tiga punggung, tapi empat. Satu lagi punggung milik Ibu sendiri.”

*****

Editor: Moch Aldy MA

Tantri DP
Tantri DP Baca tulisan saya lainnya di akun Medium: tantridp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email