Boys Will Be Boys?: Kami Tidak Diciptakan untuk Menguji Mata Pria

Naufalda Hanum

2 min read

“Mata Pria” sering kali menjadi label pemakluman atas bagaimana cara pria melihat dan berpikir. Bahkan sebagian orang percaya, semakin rakus mata pria bekerja, semakin tinggi pula tingkat kejantanannya dapat diakui.

Sialnya, perempuan justru dituntut untuk merasa bangga jika dinilai punya tampilan yang ‘cocok’ bagi mata para pria. Menolak artinya berpikiran sempit. Membatasi artinya kaku dan membosankan. Lalu, lahirlah pemahaman klise berbunyi: “Maklum, namanya juga laki-laki”.

Amat menyedihkan dan menyebalkan bukan? Sebagai perempuan, memaklumi penghinaan atas tubuh kami sendiri adalah tanggung jawab kami.

Kami para perempuan dituntut untuk mempertimbangkan apa yang ada dibalik tatapan pria dalam setiap jengkal pilihan: saat kami memilih pakaian, saat kami berbicara, saat kami menghias diri, bahkan saat kami terdiam. Beban tuntutan itu terasa makin mengikat dan menghimpit.

Tuhan, Bukankah Kami Tidak Diciptakan untuk Menguji Mata Pria?

Dalam kabar-kabar menyakitkan soal kekerasan seksual terhadap perempuan saya sering mendengar ocehan memilukan di ruang publik. “Lihat saja pakaianya”, “Siapa suruh pakai rok mini di tempat umum?”, “Berhijab tapi dadanya diumbar”, “Kucing dikasih ikan, ya diambil”, dan masih banyak kalimat serupa yang malas saya ketik.

Namun, ada dua pernyataan yang paling membuat saya merasa dongkol, marah sampai ubun kepala terasa nyeri, yakni ungkapan “Boys will be boys” dan “Maklum, mata laki-laki”. Kemarahan ini lahir bukan karena pemakluman bodoh seperti itu sering muncul di beranda sosial media, melainkan karena dua hal tersebut memang terjadi nyata. Mulai dari lingkungan saya menimba ilmu hingga di tempat saya bekerja.

Baca juga:

Barangkali sebagian laki-laki mulai terlena dengan pemakluman yang mereka legalkan sendiri. Ironisnya, hal tersebut kerap terpaksa diterima oleh perempuan. Di tempat kami para perempuan menetap, nilai kesopanan kami seolah berlandaskan pada cara kerja mata laki-laki.

Nilai moral, budaya dan agama jelas punya peran penting dalam aturan sopan santun seorang perempuan. Budaya Barat jelas berbeda dengan budaya Timur, namun hal tersebut tidak sedang saya bahas. Hal yang menganggu adalah: kenapa semua ide dan gagasan apik itu mesti dicampur dengan cara mata pria bekerja?

Di lingkungan yang lebih umum, kami para perempuan diajarkan untuk berpakaian sopan. Tidak menunjukan betuk tubuh, terutama area dada dan pantat, pada bagian mata laki-laki sering menaruh fokusnya.

Lalu ketika kami perempuan memilih pakaian yang longgar, sebab kami tertarik pada jenis gaya pakaian longgar (oversize), para pengkoreksi mengalihkan pusat penilaiannya kepada wajah kami yang dipoles riasan (make up).

Mengapa Keahlian dan Keindahan Kami Berubah Jadi Tipuan dan Godaan?

Faktanya, keterampilan seorang perempuan berdandan tidak diraih secara instan. Kami berlajar mengenal warna kulit, memahami produk kecantikan dan menerima momen ketika kami belum lihai memadupadankan warna yang dioles ke wajah kami.

Lebih penting dari warna, kami perlu belajar dan paham bagaimana Tuhan menciptakan bentuk wajah kami, bagaimana kondisi hormon dan lingkungan ikut berpengaruh pada jenis kulit kami, sampai akhirnya kami menemukan produk skincare dan make up yang cocok.

Perkara yang tujuan awalnya kami lakukan untuk menghargai diri kami sendiri, untuk merasa lebih percaya diri dan memaksimalkan apa yang Tuhan berikan kepada kami, redup di tangan juri-juri yang tidak kompeten. Sebagian pria mulai mencetuskan teori yang berasal dari kepercayaan diri berlebih. Barangkali karena mereka tumbuh dengan perasaan lebih superior.

Awalnya skincare dan make up dinilai ribet, tidak begitu peduli pada dua hal itu seperti nilai plus untuk seorang perempuan. Kami yang belum memiliki kesadaran tentang perawatan dan penghargaan, dinilai lebih simple dan menerima apa adanya. Penilaian itu berasal dari laki-laki dan perempuan yang belum mengerti.

Baca juga:

Bagi yang belum paham, baik untuk laki-laki atau perempuan maka ini jadi perkara “pikiran sementara”, tapi bagi yang bebal dan ahli memberi label, ini adalah ide untuk memberi gagasan nyeleneh yang baru. Salah satunya: “Memakai make up adalah menipu”.

Saat gelar menipu dirasa belum cukup liar, maka lahir stigma baru yang lebih menyudutkan: “Memakai make up bertujuan menggoda laki-laki”. Lagi dan lagi sepasang mata itu mengusik pilihan dan keterampilan perempuan.

Segila apapun dunia bekerja, baik lewat mata pria maupun ekspetasi dunia marketing produk kecantikan, perempuan adalah manusia yang utuh. Kita memiliki kebebasan atas tubuh, wajah dan pilihan kita terhadap diri sendiri. Kita perempuan bukanlah media ujian dan piagam untuk menguji keimanana dan memvalidasi ego pria. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Naufalda Hanum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email