Memilih Menjadi Guru Honorer di Tengah Ketidakpastian

Anisatul Afita

2 min read

Banyak orang melihat profesi guru honorer hanya dari sisi ekonomi. Padahal keputusan seseorang menjadi guru sering lahir dari kombinasi idealisme, panggilan batin, dan proses pembentukan profesionalitas.

Belakangan ini, pembahasan mengenai guru honorer kembali ramai diperbincangkan. Status pekerjaan yang tidak pasti, persoalan kesejahteraan, hingga kebijakan penataan tenaga non-ASN membuat profesi ini semakin sering dipandang sebagai pilihan yang tidak menjanjikan. Tidak sedikit yang mempertanyakan mengapa masih ada generasi muda yang memilih menjadi guru honorer di tengah kondisi seperti sekarang.

Pandangan tersebut sebenarnya wajar. Secara regulasi, pemerintah memang telah membatasi pengangkatan honorer baru di instansi pemerintah. Artinya, posisi guru honorer memang bukan kondisi ideal dalam sistem pendidikan saat ini. Karena itu, banyak orang menilai bahwa memilih jalur tersebut merupakan keputusan yang kurang realistis, terutama jika dibandingkan dengan pekerjaan lain yang menawarkan kepastian dan penghasilan lebih baik.

Namun, persoalan ini sebenarnya tidak sesederhana soal benar atau salah memilih status pekerjaan. Ada sisi lain yang sering luput dari pembahasan, yaitu bagaimana dunia pendidikan membutuhkan proses pembentukan kemampuan yang tidak bisa diperoleh secara instan.

Profesi guru memiliki tuntutan yang cukup kompleks. Guru tidak hanya ditugaskan menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mengelola kelas, memahami karakter siswa, menjaga suasana belajar tetap kondusif, membangun komunikasi dengan orang tua, hingga menghadapi berbagai persoalan sosial peserta didik di sekolah.

Di era sekarang, tantangan tersebut bahkan semakin besar. Guru berhadapan dengan perubahan perilaku anak akibat media sosial, rendahnya fokus belajar, budaya instan, hingga persoalan disiplin dan karakter. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan akademik saja sering kali tidak cukup. Di banyak sekolah, guru bukan hanya menghadapi persoalan akademik, tetapi juga berbagai persoalan sosial yang dibawa siswa dari lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi tertentu, guru bahkan menjadi pihak yang pertama kali berusaha memahami perubahan perilaku anak di sekolah.

Pendidikan perkuliahan dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) tentu memiliki peran penting dalam membentuk kompetensi guru. Keduanya menjadi fondasi utama dalam memahami pedagogi, strategi pembelajaran, dan profesionalitas pendidik. Namun dalam praktiknya, dunia pendidikan juga membutuhkan pengalaman nyata agar kemampuan tersebut dapat berkembang secara lebih matang.

Pengalaman menghadapi kondisi kelas yang sebenarnya, memahami dinamika siswa, hingga belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah menjadi proses yang membentuk kesiapan seorang guru. Karena itu, sebagian generasi muda tetap memilih berada di dunia pendidikan karena merasa pengalaman mengajar memberi pemahaman yang lebih utuh mengenai profesi guru itu sendiri. Bagi sebagian dari mereka, pengalaman tersebut juga menjadi proses untuk membangun kemampuan profesional sebelum memasuki jenjang karier pendidikan yang lebih stabil.

Menariknya, di tengah banyaknya kritik terhadap profesi guru honorer, sekolah-sekolah di berbagai daerah masih tetap membutuhkan tenaga pendidik agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan regulasi, tetapi juga kebutuhan nyata di lapangan yang masih terus dihadapi sekolah.

Hal ini juga berkaitan dengan posisi guru dalam masyarakat Indonesia yang sejak dahulu memiliki peran cukup penting. Tokoh pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan bukan hanya sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan cara berpikir generasi muda.

Peran tersebut masih relevan hingga saat ini. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar mata pelajaran, tetapi juga ruang sosial tempat anak belajar disiplin, komunikasi, tanggung jawab, dan cara bersikap. Dalam proses itu, guru memiliki peran yang tidak kecil. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuat peran guru semakin berubah. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi bagi siswa, tetapi tetap memiliki peran penting dalam membantu siswa memahami cara berpikir, menyaring informasi, dan membangun sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, fenomena masih adanya generasi muda yang memilih menjadi guru honorer seharusnya tidak hanya dilihat dari persoalan status pekerjaan semata. Ada faktor lain yang juga perlu dipahami, yaitu bahwa profesi guru memang membutuhkan proses pembelajaran dan pengalaman yang panjang untuk membentuk kemampuan mengajar dan mendidik secara utuh.

Tentu saja, hal ini bukan berarti kondisi guru honorer harus dianggap wajar atau dipertahankan. Sistem pendidikan tetap membutuhkan pembenahan agar profesi guru memiliki kepastian dan kesejahteraan yang lebih baik. Namun di tengah berbagai perdebatan yang muncul hari ini, setidaknya perlu dipahami bahwa sebagian orang memilih tetap berada di dunia pendidikan bukan karena tidak mengetahui risikonya, melainkan karena mereka melihat profesi guru sebagai bidang yang memang membutuhkan proses, pengalaman, dan kesiapan yang tidak sederhana.

Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan sistem, tetapi juga oleh kesiapan manusia yang menjalankan proses pendidikan itu sendiri. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Anisatul Afita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email