Ada ironi yang jarang dibicarakan dalam dunia pendidikan kita: semakin tinggi seseorang bersekolah, semakin jauh ia dari bahasa ibunya sendiri.
Di Gorontalo, generasi yang dahulu sulit mengakses pendidikan justru tumbuh sebagai penutur bahasa Gorontalo yang paling fasih. Mereka menggunakan bahasa itu di rumah, di kebun, di pasar, di acara adat, bahkan dalam pertengkaran dan kasih sayang sehari-hari. Bahasa Gorontalo bukan sekadar alat komunikasi bagi mereka, melainkan ruang hidup tempat ingatan, nilai, dan cara memandang dunia dibentuk.
Sebaliknya, hari ini, ketika sekolah semakin mudah dijangkau, ketika gelar akademik semakin lazim dimiliki, dan ketika pendidikan dianggap sebagai tanda kemajuan sosial, bahasa Gorontalo justru perlahan kehilangan tempat paling pentingnya: keluarga.
Kita mungkin berhasil memperluas akses pendidikan. Namun diam-diam, kita juga sedang mempersempit ruang hidup bahasa daerah.
Baca juga:
Dulu, bahasa Indonesia memiliki jarak sosial yang sangat jelas. Ia terasa formal, prestisius, dan nyaris eksklusif. Tidak semua orang mampu menggunakannya dengan fasih. Pada masa ketika pendidikan masih mahal dan sulit diakses, orang-orang yang mampu berbicara bahasa Indonesia dengan baik biasanya adalah guru, pegawai, atau mereka yang berhasil mencapai pendidikan tinggi. Menjadi sarjana pada masa itu bahkan sering dianggap sebagai simbol kecendekiaan yang langka. Bahasa Indonesia kemudian tumbuh bukan hanya sebagai bahasa nasional, tetapi juga sebagai simbol status pendidikan.
Sementara itu, masyarakat yang hidup di luar akses pendidikan formal tetap bertahan dengan bahasa Gorontalo sebagai bahasa utama kehidupan mereka. Mereka mungkin tidak fasih menjelaskan teori dalam bahasa Indonesia, tetapi sangat kaya dalam kosakata lokal, ungkapan adat, dan cara bertutur yang diwariskan turun-temurun.
Mereka hidup sepenuhnya di dalam bahasa ibu mereka. Justru karena dunia pendidikan belum terlalu masuk ke ruang domestik mereka, bahasa Gorontalo masih hidup sangat kuat.
Ketika Pendidikan Menentukan Bahasa Masa Depan
Hari ini, situasinya berbalik. Sekolah menjadi ruang yang sangat dominan dalam membentuk cara berpikir generasi muda. Anak-anak mengenal bahasa Indonesia sejak usia dini melalui buku pelajaran, media digital, ruang kelas, bahkan percakapan sehari-hari. Pendidikan modern menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama pengetahuan, mobilitas sosial, dan keberhasilan akademik.
Bahasa daerah perlahan tersingkir ke pinggir. Ia tidak lagi menjadi bahasa utama untuk menjelaskan pelajaran, membangun prestasi, atau mengejar masa depan. Akibatnya, banyak keluarga mulai menganggap bahasa Indonesia lebih “berguna” untuk diwariskan kepada anak-anak dibanding bahasa Gorontalo.
Baca juga:
Di titik ini, sistem pendidikan tidak lagi sekadar mengajarkan bahasa. Ia ikut menentukan bahasa mana yang dianggap bernilai untuk masa depan. Tidak hanya itu, sering kali, bahasa daerah kalah sebelum sempat dipertahankan.
Perubahan itu terasa sangat nyata di rumah-rumah orang Gorontalo hari ini. Orang tua yang tidak menempuh pendidikan tinggi umumnya masih sangat fasih berbahasa Gorontalo, tetapi kesulitan mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia ketika diminta menjelaskan maknanya. Dunia berpikir mereka tumbuh utuh di dalam bahasa daerah.
Sebaliknya, orang tua yang memiliki pendidikan tinggi biasanya lebih mudah berpindah antara bahasa Gorontalo dan bahasa Indonesia. Mereka terbiasa hidup di antara dua sistem bahasa sekaligus.
Namun yang menarik, anak-anak mereka justru sering lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya. Di sinilah ironi itu semakin terasa: pendidikan melahirkan generasi yang semakin fasih berbahasa nasional, tetapi tidak selalu berhasil mempertahankan bahasa ibunya sendiri.
Sekolah memang berhasil membuat anak-anak mampu berbicara kepada dunia luar, tetapi pada saat yang sama, perlahan mereka kehilangan kemampuan untuk pulang sepenuhnya ke bahasa rumahnya sendiri.
Bahasa Daerah yang Tidak Semua Diperlakukan Sama
Persoalan bahasa ibu di Gorontalo juga tidak bisa disamakan begitu saja dengan daerah lain di Indonesia. Di sejumlah provinsi di Pulau Jawa, bahasa daerah masih memiliki ruang yang cukup kuat dalam sistem pendidikan formal. Bahasa Jawa, misalnya, diajarkan secara lebih serius sebagai mata pelajaran tersendiri. Bahkan beberapa perguruan tinggi membuka program studi Pendidikan Bahasa Jawa yang memang dirancang untuk mencetak tenaga pendidik profesional.
Artinya, regenerasi pengajar sudah dipikirkan sejak awal. Bahasa daerah di sana tidak hanya hidup di rumah, tetapi juga mendapat legitimasi akademik di sekolah dan kampus.
Sementara di Gorontalo, situasinya jauh lebih rapuh. Memang ada pembelajaran muatan lokal di sekolah. Namun dalam praktiknya, materi yang diajarkan tidak sepenuhnya berfokus pada pembelajaran bahasa Gorontalo secara utuh. Pembelajaran bahasa daerah sering kali hadir sekadarnya, tidak memiliki kurikulum yang kuat, dan kadang bergantung pada kemampuan masing-masing guru.
Lebih rumit lagi, Gorontalo sampai hari ini belum memiliki program studi khusus Pendidikan Bahasa Gorontalo di perguruan tinggi. Akibatnya, daerah ini mengalami persoalan mendasar: siapa yang benar-benar disiapkan untuk menjadi pengajar bahasa Gorontalo?
Ketika Bahasa Tidak Punya Guru
Kita sering berbicara tentang pentingnya melestarikan bahasa daerah, tetapi lupa menyiapkan manusianya. Tidak cukup hanya meminta sekolah mengajarkan bahasa Gorontalo jika sumber daya pengajarnya sendiri terbatas. Banyak guru muatan lokal akhirnya mengajar berdasarkan kemampuan seadanya, bukan karena mereka memang dipersiapkan secara akademik untuk menjadi pengajar bahasa daerah.
Padahal bahasa bukan sekadar hafalan kosakata. Ia membutuhkan pendekatan pedagogis, metode pengajaran, dokumentasi linguistik, hingga penguasaan budaya yang menyertainya.
Ketika negara serius mempertahankan bahasa, yang dipersiapkan bukan hanya bukunya, tetapi juga gurunya. Di titik ini, Gorontalo tampaknya masih tertinggal. Bahasa Gorontalo seolah masih dibebankan sepenuhnya kepada keluarga, sementara keluarga sendiri sedang kehilangan ruang untuk mempertahankannya.
Orang tua semakin sibuk bekerja. Anak-anak semakin lama hidup di lingkungan pendidikan formal dan media digital berbahasa Indonesia. Sementara sekolah belum cukup kuat menjadi benteng kedua.
Pendidikan Tidak Seharusnya Menghapus Akar
Kita tentu tidak sedang menyalahkan pendidikan. Pendidikan tetap penting, bahkan mutlak. Persoalannya adalah ketika sistem pendidikan secara tidak sadar membentuk hierarki bahasa: bahasa Indonesia dianggap modern dan menjanjikan masa depan, sementara bahasa daerah diposisikan sekadar sebagai identitas budaya pelengkap.
Bahasa Gorontalo akhirnya hanya hidup pada ruang-ruang simbolik: di festival budaya, di pakaian adat, di seremoni, atau di mulut generasi tua yang perlahan menua sendirian bersama bahasanya. Padahal bahasa tidak hidup karena dipamerkan. Bahasa hidup karena digunakan. Ia hidup ketika menjadi bahasa ibu yang pertama kali didengar anak-anak. Ia hidup ketika dipakai untuk bercanda, marah, menasihati, dan menyampaikan kasih sayang. Ia hidup ketika rumah masih memberi ruang bagi bahasa itu untuk tumbuh secara alami.
Masalahnya, hari ini banyak rumah justru berubah menjadi perpanjangan tangan sistem pendidikan formal. Anak-anak dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia sejak kecil demi dianggap lebih siap menghadapi sekolah dan masa depan. Bahasa daerah perlahan dianggap tidak cukup penting untuk diwariskan secara aktif.
Kita sedang membangun generasi yang semakin terdidik, tetapi semakin asing terhadap akar bahasanya sendiri. Barangkali, itulah ironi terbesar pendidikan hari ini: ia berhasil mencerdaskan banyak anak, tetapi diam-diam membuat mereka kehilangan bahasa pertama yang dulu mengajarkan cara merasa. Sebab pada akhirnya, bahasa ibu bukan hanya soal kata. Ia adalah tempat sebuah komunitas menyimpan ingatan, cara mencintai, cara menasihati, bahkan cara berduka.
Ketika sekolah membuat seorang anak semakin fasih berbicara kepada dunia, tetapi semakin sulit berbicara dalam bahasa rumahnya sendiri, maka yang sedang bergeser bukan sekadar bahasa. Melainkan arah masa depan sebuah kebudayaan. (*)
Editor: Kukuh Basuki
