Saat membuka mata dari tidur yang pulas, sambil menahan rasa sakit di punggung akibat cambukan, bocah itu mencoba membangunkan tubuhnya perlahan. Ia mengusap kedua matanya dan melihat sekeliling, memastikan dirinya sudah berada di surga yang sempat diceritakan ayahnya saat masih hidup. Saat itu umur si bocah baru lima tahun.
Namun, kekecewaan memaksanya segera bergegas bangun dari gubuk reyot itu, lalu pulang ke neraka. Ya, bocah itu menyebut rumahnya sebagai neraka, sama seperti saat ia menyebut sekolahnya. Tapi mungkin kali ini kemenangan berpihak kepadanya, karena selama sebulan penuh ia tidak akan berangkat ke sekolah akibat kejadian tadi pagi.
Sebenarnya, si bocah tak ingin berangkat ke sekolah, tetapi juga enggan berdiam di rumahnya. Sebagaimana yang sudah disebutkan, kedua tempat itu baginya adalah neraka. Ia lebih senang berada di jalanan, meski hanya sekadar memungut botol-botol bekas untuk dijual atau mendengkur seharian di gubuk reyot pinggir sawah. Itu adalah kebebasan baginya, bebas dari aturan-aturan hidup yang begitu membosankan dan sangat menyebalkan.
Namun, tadi pagi ia tetap harus berangkat ke sekolah dan bertemu dengan orang-orang yang begitu menyebalkan—guru-guru yang bukan membuatnya semakin pintar, melainkan sebaliknya. Seharusnya para pendidik di sekolah itu mengajarkan murid-muridnya untuk gemar membaca dan berpikir, bukan hanya memberikan materi dan menyuruh mereka menghafal seperti mesin.
Apalagi, ia juga harus bertemu dengan teman-temannya yang seharusnya tak pantas berada di dunia pendidikan—sekelompok manusia yang tak memiliki moral. Dan selalu saja, setiap di sekolah mereka merundung dan memaki-maki bocah itu. Tentu saja, “hanya orang bodoh yang menanggapi orang bodoh berbicara”. Begitulah kira-kira isi hati si bocah saat berada di samping mereka, karena ia tak pernah melawan saat diolok-olok.
Dan ketika bocah itu menginjakkan kaki di ruang kelas, prakkk! Sebuah kotak pensil berbahan besi membentur kepalanya, lalu seisi kelas tertawa. Matanya melirik kepada anak yang melemparkan kotak pensil itu. Tangan bocah itu mulai mengepal, urat-urat di lehernya mengeras, giginya gemeletak, dan ia menggeram.
Anak pelempar kotak pensil itu mengira bahwa bocah itu tak akan melawan bila diganggu secara fisik. Namun, dugaannya keliru. Tiba-tiba bocah itu sudah berada di depannya, lalu mencekik leher si pelempar kotak pensil.
“Kau boleh mengolokku sesukamu. Aku hanya akan diam dan tak akan menanggapimu. Tapi jangan kira aku juga akan—”
Bhuk!
Satu pukulan dengan tangan kanan membuat si pelempar kotak pensil terjatuh.
“—diam saat kau menyakiti tubuhku. Dan ini akibatnya.”
Dengan tangan yang masih terkepal, bocah itu mendekati si pelempar kotak pensil yang terjatuh. Ia melanjutkan hantamannya, kira-kira sampai sembilan pukulan, hingga membuat pelipis anak itu mengucurkan darah.
Akibatnya, wali dari bocah itu dipanggil ke ruang kepala sekolah dan si bocah diskors selama satu bulan. Menurutnya, itu bukanlah hukuman, melainkan sebuah anugerah karena ia bisa terbebas dari kerangkeng aturan yang menjerat jiwanya.
Namun, malapetaka seakan ingin selalu bersahabat dengannya. Neraka yang ada di rumahnya semakin mengobarkan api kekejaman. Tiga belas cambukan rotan membuat punggung si bocah memiliki tato berwarna merah dengan pola garis-garis yang berantakan.
***
Bukan hal yang menyenangkan menjadi seorang anak yang tidak dibesarkan oleh orang tua kandungnya sendiri. Meski sang pemelihara merupakan orang yang baik, ada tekanan batin tersendiri yang sulit dijelaskan dan entah dari mana datangnya. Dan bocah itu memiliki dua malapetaka sekaligus: tidak dibesarkan oleh orang tuanya sendiri dan dipelihara oleh orang tua yang buruk.
Semenjak ayah si bocah, yang merupakan seorang ustaz kampung, meninggal dunia akibat kecelakaan, lalu ibunya yang sering mabuk-mabukan dan membawa lelaki lain ke rumah minggat entah ke mana, terpaksa bocah itu dipelihara oleh adik ibunya. Sebagaimana seorang penggembala yang mengharapkan keuntungan dari ternaknya, orang tua angkat itu berharap keuntungan dari si bocah.
Ia disekolahkan agar suatu saat bisa memiliki gaji yang layak dari ijazahnya dan menyetorkannya kepada orang tua angkat tersebut. Sebab, memang tak banyak yang bisa diharapkan dari pekerjaan tanpa ijazah pada masa sekarang. Maka, sementara menunggu hasil dari “ternaknya” itu, orang tua angkatnya menyuruh si bocah memulung botol-botol bekas, dan hasilnya harus diberikan kepadanya.
Jenius bila tergelincir sedikit memang akan jatuh menjadi kekejaman.
Saat umur si bocah masih lima tahun, ayah kandungnya yang kala itu masih hidup sering menceritakan tentang surga dan neraka sebagai ganjaran atas perbuatan manusia selama di dunia. Sang ayah menggambarkan bagaimana neraka menyiksa orang-orang berdosa dan bagaimana surga memberikan upah kepada orang-orang saleh dan beriman. Cerita-cerita itu terus direnungkan si bocah hingga sekarang.
Bagaimana bisa ia mendapatkan dua neraka sekaligus tanpa harus mati terlebih dahulu, sementara surga tak pernah ia rasakan sama sekali?
Maka dari itu, ia bercita-cita untuk mati agar bisa merasakan surga yang diceritakan ayahnya. Namun, si bocah tak ingin bunuh diri karena ayahnya juga pernah mengatakan bahwa bunuh diri adalah dosa, dan orang berdosa akan masuk neraka.
Yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa. Berdoa agar bisa mati dan masuk surga. Meski tak tahu kepada siapa ia berdoa. Bocah itu hanya sedikit mengerti dari cerita ayahnya bahwa yang mencabut nyawa bernama Izrail.
Setiap hari bocah itu berdoa agar cepat mati. Berdoa dan terus berdoa, termasuk saat ia dicambuk menggunakan rotan oleh orang tua angkatnya sebanyak tiga belas kali.
“Izrail, bunuhlah aku dan masukkan aku ke surga.”
Tetapi tetap tak ada gunanya. Cambukan itu tak membuatnya mati, hanya menciptakan rasa perih di punggung dan tato berwarna merah.
Bocah itu sedikit merintih saat terbangun dari tidurnya. Ia mencoba menurunkan kaki dari gubuk reyot itu ke tanah, tetapi seketika terkejut ketika sesuatu yang ganjal tersentuh oleh kakinya.
Seekor babi bertubuh gembrot yang dipenuhi lumpur.
Babi itu menguik, mengisyaratkan agar bocah itu segera menaiki punggungnya dan ikut pergi ke suatu tempat.
Si bocah masih mematung dan tak percaya. Mengapa ia bisa memahami bahasa babi?
Ia mencoba menepuk pipinya beberapa kali, memastikan bahwa semua ini hanyalah mimpi. Namun, usahanya gagal. Kini sang babi mengeluarkan dua sayap dari sisi kanan dan kiri tubuhnya, lalu menerbangkan dirinya sedikit hingga tingginya menyamai tinggi si bocah.
Bocah itu masih tercengang dan tak percaya.
“Kau tak usah takut dan tak perlu bertanya mengapa kau bisa mengerti bahasaku. Ikut saja denganku. Akan kubawa kau ke suatu tempat,” ucap sang babi.
Si bocah mencoba memberanikan diri dan menganggukkan kepala perlahan. Sang babi lalu membalikkan arah seratus delapan puluh derajat agar si bocah mudah menaiki punggungnya.
Kemudian sang babi membawa bocah itu terbang begitu cepat. Secepat cahaya. Hingga akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang membentang tanpa batas ruang.
Sang babi menyuruh bocah itu turun dari punggungnya.
“Tempat apa ini?” tanya si bocah.
“Kau tak perlu bertanya-tanya. Akan kutunjukkan sesuatu padamu.”
Tiba-tiba muncul cahaya hologram di hadapan mereka. Menampilkan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia: seorang perempuan yang mencekik bayinya sendiri karena merasa tak sanggup membesarkannya tanpa seorang ayah; seorang gelandangan kurus kering yang memutus urat nadi di pergelangan tangannya dengan pecahan botol karena tak tahan menahan lapar; seorang gadis yang menyetrika wajahnya sendiri dan menusuk selangkangannya dengan besi panas agar tak bisa dilecehkan oleh lingkungannya yang dipenuhi orang-orang cabul.
Dan banyak lagi peristiwa mencekam yang ditampilkan oleh cahaya hologram itu, membuat mata si bocah membelalak dan kedua tangannya menutup mulut.
“Kau pikir dunia ini hanya untuk mereka yang menjilati sumpah serapah?” ucap sang babi sambil tertawa kecil.
Si bocah tak mengerti perkataan sang babi. Ia mencoba tertawa untuk menghargainya, tetapi tak bisa karena masih dilawan oleh rasa takut dan tak percaya terhadap apa yang baru saja ia lihat.
“Dunia ini kutukan,” kata sang babi meneruskan. “Kau pikir aku diciptakan menjadi hewan yang najis hanya sebagai kutukan untukku?”
Sang babi bertanya, lalu menjawab sendiri.
“Aku diciptakan menjadi hewan yang haram dan najis juga merupakan kutukan bagi mereka. Agar mereka beriman dan meyakini. Tapi apa yang terjadi? Mereka hanya menjadikanku bahan bagi perbuatan-perbuatan mereka.”
Si bocah mengernyitkan dahi dan memicingkan mata. Ia tak paham dengan semua ucapan sang babi.
“Apa kau tahu cara menikmati kutukan?”
Si bocah menggelengkan kepala.
“Cara menikmati kutukan adalah dengan tertawa. Tertawa dan terus tertawa.”
Sang babi tertawa terbahak-bahak. Menarik si bocah agar ikut tertawa, hingga akhirnya bocah itu benar-benar tertawa juga. Tertawa begitu keras dan begitu lama sampai memunculkan setitik air di sudut kelopak matanya.
Bocah itu terus tertawa dan tertawa.
Hingga tanpa sadar, ketika hari yang remang-remang mulai dihampiri gelap, di ujung penglihatannya muncul bayangan samar seseorang yang berjalan tergesa menghampirinya. Semakin dekat hingga terlihat jelas.
Seorang pria bertelanjang dada dengan tato yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya, menggenggam sebilah rotan di tangan kanan.
Orang tua angkat si bocah.
*****
Editor: Moch Aldy MA
