Mencari Esensi dari Eksistensi dalam “The Long and Winding Road” karya The Beatles

DD Alija Ariansyah

2 min read

Lagu The Long and Winding Road karya The Beatles bukan sekadar balada penutup dari sebuah era, melainkan semacam meditasi tentang perjalanan manusia yang tak pernah benar-benar lurus. Dirilis dalam album “Let It Be”, lagu ini sering dipahami sebagai refleksi personal Paul McCartney, tetapi jika didengar lebih dalam, ia melampaui konteks autobiografis dan menjelma menjadi pengalaman universal: tentang rindu, pencarian, dan kelelahan eksistensial.

Secara musikal, lagu ini sederhana—bahkan nyaris minimalis dalam struktur dasarnya. Piano menjadi tulang punggung, sementara melodi vokal berjalan perlahan, seolah meniru langkah kaki yang menapaki jalan panjang dan berliku. Namun kesederhanaan ini justru menjadi kekuatannya. Tidak ada distraksi berlebih; yang tersisa hanyalah ruang bagi pendengar untuk masuk ke dalam dirinya sendiri. Di sini, musik bukan sekadar hiburan, tetapi medium kontemplasi.

Baca juga:

Liriknya berbicara tentang sebuah jalan panjang yang berkelok, yang selalu membawa kembali pada “pintu” yang sama. Secara literal, ini bisa dibaca sebagai kisah tentang seseorang yang terus kembali pada cinta lama. Namun secara filosofis, “jalan panjang dan berliku” itu dapat dimaknai sebagai metafora kehidupan itu sendiri. Kita berjalan, tersesat, mencoba arah baru, namun seringkali berujung pada pertanyaan yang sama: ke mana sebenarnya kita menuju?

Ada semacam absurditas halus dalam pengulangan itu. Seperti dalam pemikiran eksistensialis, manusia terus bergerak meskipun tidak selalu memahami tujuan akhirnya. Jalan itu panjang, tetapi bukan berarti ia memberi kejelasan. Ia berliku, tetapi bukan berarti ia menawarkan makna. Di titik ini, lagu ini tidak menawarkan jawaban, melainkan justru mengafirmasi kebingungan sebagai bagian dari pengalaman manusia.

Namun, di balik nuansa eksistensial tersebut, ada lapisan emosional yang lebih dalam—sesuatu yang mendekati spiritualitas. Dalam tradisi sufistik, perjalanan panjang sering kali dilihat sebagai perjalanan jiwa menuju asalnya. Jalan yang berliku bukanlah hambatan, melainkan proses penyucian. Dalam konteks ini, “pintu” yang terus muncul bisa diartikan sebagai simbol dari sesuatu yang lebih tinggi: kebenaran, cinta sejati, atau bahkan Tuhan. Lagu ini, dengan caranya yang halus, membuka kemungkinan interpretasi semacam itu tanpa pernah menyatakannya secara eksplisit.

Baca juga:

Menariknya, lagu ini juga lahir di tengah ketegangan internal The Beatles menjelang perpisahan mereka. Versi yang dirilis bahkan mendapat sentuhan orkestrasi dari Phil Spector yang sempat menuai kontroversi, karena dianggap terlalu “menghias” kesederhanaan asli yang diinginkan Paul McCartney. Konflik ini justru menambah dimensi lain pada lagu tersebut: bahwa bahkan dalam proses penciptaannya, ada “jalan panjang dan berliku” yang harus dilalui.

Jika kita tarik ke konteks modern, lagu ini terasa semakin relevan. Di era di mana segala sesuatu dituntut untuk cepat, jelas, dan instan, The Long and Winding Road hadir sebagai pengingat bahwa tidak semua perjalanan bisa dipercepat atau disederhanakan. Ada nilai dalam kebingungan, ada makna dalam proses yang tidak efisien. Lagu ini seolah menolak logika produktivitas modern yang mengukur segalanya dengan hasil akhir.

Secara emosional, lagu ini bekerja dengan cara yang subtil. Ia tidak memaksa pendengar untuk merasa sedih, tetapi perlahan menuntun ke arah refleksi yang dalam. Ada rasa lelah, tetapi juga ada harapan yang samar. Seperti seseorang yang terus berjalan meskipun tidak yakin apakah di ujung jalan ada sesuatu yang menunggunya. Di sinilah letak kekuatan utamanya: ia jujur tanpa menjadi putus asa.

Dari sudut pandang estetika, lagu ini juga menunjukkan bagaimana kesederhanaan bisa menjadi bentuk keindahan yang paling murni. Tidak ada eksplorasi musikal yang rumit, tidak ada eksperimen yang mencolok. Namun justru karena itu, ia terasa timeless. Ia tidak terikat pada tren tertentu, sehingga tetap relevan lintas generasi.

Pada akhirnya, The Long and Winding Road bukan hanya tentang perjalanan menuju seseorang, tetapi tentang perjalanan menuju diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa dalam hidup, kita mungkin akan berkali-kali kembali ke titik yang sama—bukan karena kita gagal, tetapi karena kita belum selesai memahami. Jalan itu panjang dan berliku bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk membentuk.

Dan mungkin, seperti yang disiratkan lagu ini, tujuan bukanlah untuk menemukan akhir dari perjalanan, melainkan untuk terus berjalan dengan kesadaran. Karena dalam setiap langkah yang tampak berulang, ada kemungkinan kecil untuk melihat sesuatu yang sebelumnya terlewat. Sesuatu yang, pada akhirnya, membuat perjalanan itu sendiri menjadi bermakna. (*)

Editor: Kukuh Basuki

DD Alija Ariansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email