Tak Ada Ucapan Selamat Ulang Tahun untukku di Paris

Hasan Aspahani

3 min read

aku menunggu
bayangan yang tak tiba,
di Champs-Élysées

guillotine memenggal sejarah,
tinggal gema janjinya

Pagi itu aku keluar dari lobi Four Seasons George V dengan langkah santai. Udara Paris terasa ringan, seperti menyisakan dingin yang belum sepenuhnya pergi.

Jalanan Avenue George V masih setengah terbangun; beberapa orang berjas melangkah cepat, sementara wisatawan mengangkat kamera ke arah balkon-balkon besi tempa yang elegan.

Aku berjalan menuju Champs-Élysées. Deretan toko mewah berkilau di kiri kanan, kaca-kaca besar memantulkan langit pucat. Mobil-mobil lewat tanpa gesa, seolah kota ini tahu ia tidak perlu terburu-buru untuk terlihat penting.

Aku ikut arus pejalan kaki, menyusuri trotoar lebar yang ditanami pohon-pohon rapi, hingga jalan itu membuka diri ke sebuah ruang yang luas.

Di sanalah Place de la Concorde. Aku teringat percakapanku dulu dengannya.

“Di tempat ini,” kataku pelan, “lebih dari dua abad lalu, seorang raja berdiri menunggu ajalnya.”

“Kau selalu dramatis kalau bicara sejarah,” jawabnya, setengah tersenyum.

“Aku serius,” kataku. “Raja itu berdiri di bawah bayangan guillotine. Rakyat berkumpul. Ada yang marah, ada yang penasaran, ada juga yang mungkin cuma ikut-ikutan. Lalu pisau besar itu jatuh… dan kepala seorang raja—yang dulu dianggap wakil Tuhan—terpisah dari tubuhnya.”

Dia menatap lapangan itu, seolah mencoba membayangkan sesuatu yang tak terlihat.

“Sulit dipercaya,” katanya, “tempat setenang ini pernah sekeras itu.”

“Tak lama kemudian,” lanjutku, “ratunya juga menyusul. Marie Antoinette. Dari istana Versailles, ke lapangan terbuka. Dari kemewahan, ke kerumunan yang tak lagi memberi hormat.”

“Kedengarannya seperti jatuh yang terlalu jauh,” katanya.

“Ya,” jawabku, “mungkin sejarah selalu tentang itu—tentang betapa cepatnya sesuatu yang tampak abadi bisa berakhir.”

Dia diam sejenak. Lalu berkata pelan, “… tapi orang-orang tetap hidup setelahnya.”

Aku mengangguk. “Dan kota ini tetap bercahaya.”

Angin tipis lewat. Aku melihat turis tertawa, seorang anak mengejar burung merpati, dan seorang pengemudi taksi menyalakan rokok di dekat trotoar. Paris hari ini terasa tenang, terlalu tenang untuk sebuah tempat yang pernah dipenuhi teriakan.

Aku berdiri sejenak lebih lama. Merenungkan tempat ini. Mengenang percakapan kami. Dari hotel mewah ke lapangan sejarah berdarah, dengan jarak yang hanya seperjalanan kaki.

Tetapi di antara dua titik itu, aku seperti berjalan melintasi berabad-abad—dari kemewahan, menuju ingatan tentang bagaimana kekuasaan bisa runtuh, dan bagaimana sebuah kota tetap berdiri, seolah semua itu hanyalah gema yang perlahan memudar.

Aku lalu duduk di tepi pembatas batu, menghadap lapangan. Jam tanganku menunjukkan waktu yang sudah lewat dari yang dijanjikan.

Orang-orang datang dan pergi, pasangan bergandengan tangan, rombongan turis bergerak mengikuti pemandu, dan aku tetap di sana, menunggu seseorang yang sudah lama kutunggu tapi sudah lama juga aku tahu bahwa dia tidak akan datang.

Ia pernah berjanji akan mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung. Pada pertemuan kami terakhir kali—dan itu bertahun-tahun yang lalu, “tahun depan, kita bertemu lagi di sini ya, di Paris ini.”

Kalimat itu terdengar ringan sewaktu diucapkan, seperti janji yang bisa ditunda tanpa beban.

Dan aku, entah kenapa, mempercayainya dan menyimpannya terlalu serius.

Hari ini adalah hari ulang tahunku.

Aku memandang ke arah Champs-Élysées, jalan panjang yang baru saja kulewati. Aku membayangkan ia muncul dari ujung sana, berjalan cepat, sedikit terengah, lalu tersenyum seperti dulu.

Tapi bayangan itu cepat menguap, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia tidak datang. Tidak ke sini. Tidak ke Champs-Élysées. Tidak ke mana pun yang pernah kami janjikan.

Angin kembali berembus, kali ini lebih dingin. Aku menarik napas panjang, mencoba menertawakan diri sendiri. Paris tetap indah, bahkan ketika seseorang memilih untuk tidak hadir di dalamnya.

Air mancur tetap memercik, langit tetap terang, dan kota ini tidak peduli apakah seseorang menepati janji atau tidak.

Aku menyadari sesuatu: menunggu seseorang kadang seperti menunggu masa lalu untuk kembali hidup. Kita tahu itu mustahil, tapi kita tetap duduk, tetap melihat ke arah yang sama, seolah waktu bisa berjalan mundur.

Aku berdiri perlahan. Ulang tahun kali ini terasa sunyi dan jernih. Di tempat di mana seorang raja kehilangan mahkotanya dan seorang ratu kehilangan hidupnya, aku hanya kehilangan sebuah harapan kecil.

Mungkin itu cara sejarah menghiburku—selalu ada kehilangan yang lebih besar, dan selalu ada alasan untuk tetap berjalan pulang.

Aku melangkah kembali menelusuri Champs-Élysées, meninggalkan lapangan itu di belakang. Tanpa pesan, tanpa kejutan, tanpa suara yang memanggil namaku. Hanya bunyi langkah sendiri, yang akhirnya terdengar cukup untuk menemani.

Langkahku terdengar berulang di trotoar, ritmis seperti metronom yang mengukur sesuatu yang tak lagi perlu diukur. Orang-orang mulai bertambah. Pagi berubah menjadi siang tanpa perayaan apa pun, tanpa tanda bahwa hari ini berbeda dari hari lain—kecuali bagiku.

Di salah satu bangku, sepasang kekasih tertawa sambil berbagi croissant. Mereka memotret satu sama lain, lalu memeriksa hasilnya dengan wajah puas. Aku menoleh sebentar, lalu berjalan lagi. Ada semacam kelegaan yang aneh ketika menyadari bahwa kebahagiaan orang lain tidak lagi terasa seperti ancaman.

Di etalase sebuah toko bunga, aku berhenti. Mawar putih disusun rapi, diikat pita sederhana. Untuk sesaat aku berpikir, mungkin aku bisa membeli satu, seolah-olah itu hadiah darinya. Tapi aku mengurungkan niat. Ada hal-hal yang tidak bisa dipalsukan, bahkan oleh kota seindah Paris.

Aku melanjutkan langkah. Langit mulai lebih terang, bayangan pohon jatuh panjang di trotoar. Aku sadar, tanpa benar-benar memilih, aku berjalan kembali ke arah hotel. Jalan yang sama, tapi terasa berbeda. Tidak lagi ada harapan bahwa ia akan muncul dari tikungan mana pun.

Di depan sebuah persimpangan, aku berhenti menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau. Seorang perempuan tua berdiri di sampingku, membawa tas belanja kecil. Ia tersenyum singkat, senyum sopan tanpa alasan khusus. Aku membalasnya. Lampu berubah, kami menyeberang bersama, lalu berpisah tanpa kata-kata.

Sesederhana itu, pikirku. Orang-orang datang dan pergi. Tidak semua harus menjadi cerita besar. Tidak semua harus meninggalkan luka.

Ketika lobi Four Seasons George V kembali terlihat di depan, aku merasa seperti menyelesaikan sebuah lingkaran. Dari kemewahan menuju sejarah, dari sejarah menuju penantian, dari penantian menuju penerimaan.

Aku berhenti sebentar sebelum masuk. Ponselku tetap sunyi. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada “selamat ulang tahun.”

Paris bercahaya —

mengelamkan hatiku yang
ah, kenapa masih saja mau menyala!

(Jakarta, 16 April 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Hasan Aspahani

Pemandu Wisata Maut

Galih Santoso Galih Santoso
4 min read

Telan

May Wagiman May Wagiman
4 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email