“Bisa kita bertemu?” Pertanyaan itu diajukannya dini hari tadi. Aku yang masih terjaga menjadi makin waspada saat melihat pesan darinya. Ajakan bertemu, diajukan di dini hari yang dingin. Jangan-jangan ini dilakukannya tanpa sadar. Apa yang direncanakannya?
Untuk beberapa waktu aku gugup. Itu membuatku sekaligus jadi keheranan. Mengapa aku harus gugup hanya karena pesan itu? Bukankah aku telah mematikan tanda pesan dibaca hingga aku bisa berpura-pura tak pernah membaca pesan itu? Bukankah aku bisa saja lekas menghapus dan menganggap tidak pernah ada pesan masuk darinya?
Namun, aku ternyata melakukan itu. Kubuka pesan itu dan mulai mengetik balasan. Sebuah jawaban yang sepertinya sengaja tidak kupikirkan baik-baik. “Ya, bisa. Kapan?”
“Tanggal tiga puluh. Ganjuran.” Singkat, jelas, dan tanpa merasa perlu ada basa-basi. Seperti tidak memerlukan penjelasan panjang. Seolah percaya aku pasti paham.
Demikianlah pada tanggal tiga puluh itu aku melangkah ragu memasuki pelataran Ganjuran. Persiapan Paskah sudah terlihat. Kurasa, ini sungguh bukan waktu yang tepat untuk bertemu dengannya, di tempat ini. Aduh, sudah jelas ada sesuatu yang direncanakannya untukku. Jangan-jangan ini semacam jebakan.
Meski pikiranku sempat memberi isyarat agar aku kembali, tapi kakiku memilih mengkhianati. Keraguan ternyata tidak lebih menang dari rasa penasaran. Kakiku berjalan pelan dan akhirnya di dekat jajaran pohon rindang sebelah kanan kutemukan dia.
Dia duduk bersila dan jelas mengabaikan bangku-bangku berwarna merah yang disediakan. Posisinya begitu jauh dari candi. Ia tampak ingin menjaga jarak. Melihatnya begitu, aku disergap tanya. Apa yang membawanya sejauh ini? Apa yang ingin disampaikannya?
“Hai,” sapaku. Ada ribuan kata-kata di kepalaku. Namun, sesuatu seperti menahannya. Seolah tahu bahwa aku datang ke tempat ini hanya untuk melihatnya saja.
Dia menatapku dan senyumnya merekah. Ada sisa air mata yang lekas dihapusnya. Aku tersenyum. Dia masih sama seperti yang kukenal dua puluh tahun lalu: orang yang menangis sambil berdoa, tapi matanya lekas berbinar dengan senyum menawan.
Kami duduk bersisian. Untuk beberapa waktu, kami tenggelam dalam pikiran dan doa-doa yang tak terucapkan. Hingga akhirnya, dia meluruskan kakinya, menoleh padaku dan kembali mengulas senyum.
“Kok kamu mau menemuiku? Bukannya kamu pernah bilang kalau kita ketemu di sini, akan banyak yang mengenalimu?”
Aku tertawa sekilas. “Kita nggak harus bersua diam-diam. Kita boleh ketemu di sini dan dikenali siapa saja.” Itu jawaban yang tidak sama dengan isi hatiku. Sejujurnya aku sangat takut seseorang mengenaliku, menyapaku, atau diam-diam memfotoku untuk kemudian mengirimkannya pada isteriku. Hmm, tampaknya ini alasannya mengajakku bertemu di sini. Dia ingin menyalakan percik perpecahan di antara aku dan istriku.
Dia mengangguk dan tertawa kecil. Jemarinya mengambil cemara kering dan dengan jahilnya membaginya dalam beberapa potongan. Aku mengenali itu sebagai gerak kecil yang selalu dilakukannya jika kami bersua di tempat ini. Dulu. Sudah masa lalu.
“Mau pindah?” Pertanyaan itu kuajukan karena aku mulai merasa bahwa perbincangan di tempat lain mungkin akan lebih menyenangkan. Sejujurnya, aku memang jadi lebih waspada setelah dia bertanya. Di kepalaku jadi penuh dengan bagaimana jika.
Dia menggeleng. Aku seperti terperangkap dan tak punya pilihan. Kami diam dan membiarkan angin membuat rambut kami berantakan.
“Kamu nggak ingin tahu kenapa aku ngajak ketemu di sini?” Dia bertanya dengan suara pelan. “Kenapa di sini, di tanggal ini?”
Aku mencoba mencari memori yang kusimpan tentangnya. Sesuatu memercik seperti kembang api, membuatku ingat bahwa di tanggal tiga puluh, dua puluh tahun silam, kami berjumpa di tempat ini. Aku mulai bertarung dengan makin banyak kemungkinan dan ketakutan.
“Kamu nggak tahu?” Dia mengajukan tanya lagi. Kali ini dia menatapku. Sesuatu berdesir dan aku menyadari bahwa tatapan semacam ini begitu mengusik pikiranku. Dulu.
“Hmm, nggak tahu,” kataku. Isi kepalaku seperti mesin tik yang berbunyi nyaring. Di kertasnya muncul kalimat-kalimat ini: Mungkin kamu ingin mengenang masa lalu. Mungkin kamu mau cerita tentang dirimu yang masih sendiri sampai saat ini. Ah, aku tahu, ini taktikmu untuk balas dendam padaku dan istriku, ‘kan?
“Kamu nggak mencoba menebak? Ada nggak pikiran aku sengaja ngajak ketemu begini biar kamu ribut dengan istrimu?”
Aku terkejut dan jadi buru-buru menyanggah. “Nggaklah. Nggak ada pikiran itu. Aku malah mikirnya kamu ngajak ketemu ke sini buat ngobrolin cadangan energi negara kita dan membandingkannya dengan negara lain. Atau malah kamu mau diskusi kasus penyiraman air keras dan mengajakku menduga-duga pelaku sebenarnya atau skenario di baliknya. Atau kamu mau ghibahin mentri yang kemarin minta ibu-ibu matiin kompor setelah masakan matang,” kataku mengkhianati semua pikiran burukku tentangnya.
Dia memutus beragam tebakanku itu dengan tawa yang riang. Tawa yang begitu renyah, begitu ringan seperti bulu-bulu yang terbang dibawa angin.
Sejujurnya, dadaku berdegup kencang melihatnya tertawa. Tawa itu masih sama seperti tawanya yang dulu. Tawa itu pernah mengikat hatiku dan membuatku ingin melakukan apa saja agar dia terus tertawa seperti itu. Klasik.
“Ini alasan aku ngajakin ketemu,” katanya setelah tawanya reda.
Aku jadi waspada. Sejujurnya aku takut melihat tawanya. Di tempat ini, bertahun lalu, dia masih bisa tertawa usai kulukai hatinya. Kini, bisa saja, dia tengah merencanakan sesuatu, mungkin semacam peringatan agar aku merasakan luka semacam itu.
“Aku ngajakin kamu ketemu karena kamu nggak akan tanya alasannya. Kamu nggak akan tanya kenapa tempatnya di sini. Juga nggak akan bertanya kenapa di tanggal ini. Kamu nggak akan menebak-nebak alasan ajakan bertemu di sini meski kita sama-sama tahu tempat ini menjadi akhir perjalanan kita dulu,” katanya.
“Hmm, aku nggak punya alasan menolak,” kataku.
Dia tersenyum. “Banyak. Ada banyak alasanmu untuk menolak. Tapi, kamu tetap datang dan hadir utuh di sini tanpa prasangka padaku. Kamu tidak menduga sesuatu yang buruk sedang kurencanakan padamu.”
Dia masih sok tahu seperti dulu. Meski begitu, ini terasa begitu lugu. Menyadarinya, sungguh malah menyakiti egoku.
Kami bertatapan. Rasanya jantungku melorot saat senyumnya kembali terulas. “Terima kasih,” katanya lagi dengan suara lebih lirih.
Melihat mata dan suaranya yang seolah menyampaikan ketulusan itu, aku terdiam. Kuulas senyum meski mungkin tampak seperti senyum yang patah.
Kuarahkan pandang pada patung yang ada di dalam candi. Sepertinya, patung itu tersenyum padaku juga. Jangan-jangan karena melihatku menerima ucapan terima kasih dengan sungkan sebab sejatinya aku begitu penuh prasangka dan membuatku tak hadir penuh untuknya.
*****
Editor: Moch Aldy MA
