Piknik
jangan kelewat sering
melihat berita,
kata ibu
tapi inilah jendela
inilah kaca depan
balasku, sambil berbelok
menghindar dari lubang
lihat
kita hampir celaka
ibu menggeleng
menunjuk ke suatu arah
sebuah jalur alternatif
kau tak lihat peta
sanggahnya
lalu kubilang
itu terbitan lama
jalur sudah berubah
matanya melotot
bicaranya mulai ketus
di sana tak ada lubang-lubang begini
tak ada kelokan curam
dan semua rambunya jelas
aku mendengus—
untuk ke sekian kali
dan ibu berujar lagi
kau terlalu percaya
pada berita
aku mengatur napasku
sambil menginjak rem perlahan
sampai kami berhenti
lalu kubiarkan ia memandang
ke luar jendela
saat misil hilir mudik di udara
ini perlu waktu
sebelum ia benar-benar sadar
keadaan kini sedemikian buruk
dan alternatif yang ia yakini
sekadar jalan buntu
yang tak kan membawa kami
pergi ke mana pun
–
Ekskavasi
gemetar buat bersaksi
secara lugas, gamblang
bahwa ini adalah ini
tak bisa lain
asap, jarak pandang
bongkaran struktur
tiba-tiba kita relawan
menyibak halaman pustaka
seperti membolak-balik puing
sampai tiba-tiba
salah seorang berseru
Lihat! Lihat!
semua gegas menuju
begitulah kami temukan
sepatah Kata
yang begitu murni
begitu halusnya
rentan dan tersengal
gemetar tangan kami
menjangkaunya
tanpa akta dan surat
ah, kulit balita
ah, denyut nadinya
–
Eskatologi
siapa yang bisa kuhubungi
buat bicara mitigasi
hal-hal lumrah seperti
garam dan beras
jadi terasa mencekam
siapa yang kelak menjemputku
atau menawarkan pengungsian
di tengah keterbatasan tangki
juga blokade medan
adapun suara manusia
terfermentasi hujan asam
dari kilang minyak terbakar
sampai kepadaku
semata sebagai erang
dan dusta propaganda
di hadapan layar
aku kembali bayi
diajari mengeja oleh mereka
yang gemar berteriak ketika
banyak yang memilih diam
atlas dunia: kertas kosong
tabula rasa peradaban
yang kembali putih
—dengan bercak genosida
tiga wanita di televisi
berlari seperti Hajar
sementara fosfor putih
berdenyar di belakang
dingin pada telunjuk
saat tersentuh kepingan logam
apakah sisa atap
atau serpih proyektil …
ah, uang koin—
hari keberuntungan!
begitu, seakan-akan telah
kutemu suatu pembanding
vonis yang ekuivalen
bagi akhir dari masa depanku
dan dengan apa mereka membayar
–
Katarsis
bayi yang terkubur dalam lumpur itu
tadi pagi tiba-tiba bangun
lalu menangis
memanggil ruh kupu-kupu
yang tak lagi berdiang
dalam mimpinya yang gigil
lalu datanglah seorang nenek buta
mendendangkan ninabobo kepadanya
sambil memberinya minum embun
yang menitik dari dasar mendung
ketika bayi itu kembali lelap
tubuhnya dibenamkan kembali
ke dalam lumpur pekat
“kini biarlah ia yang mendiami kuburku
aku masih betah menjadi bocah ingusan”
gumam si nenek buta
sebelum merentangkan tangannya ke udara
tertawa mengejar ruh kupu-kupu
yang beterbangan ke cakrawala
–
Dalam Demam
larut mengikut surut
buih di permukaan cemburu
pada delta pada pulau diri
yang ringkih lekas terhapus alun
lamun menjelma darat negeri
sepenuh makmur gegas tergerus arus
tinggal kapal lanun menjelajah jauh
tinggalkan buih terhambur
igauan pucat pasi terberai tiada damai
dalam impian negeri
“kami manusia—
bukan telur ikan laga!”
buih mengombak
menolak kaki yang cari pijak
suara berkisar dalam angin
kini mampat
dalam botol pesan yang
mengarung jauh tiada menemu pantai
tiada tersentuh
memulai ulang?
berarak sebagai gumpalan
mengental mencari bentuk
: pulau delta sekedar atol
Rendra! alangkah bodoh
betapa konyol bahwa masih kuimpi
sebentuk dunia dicipta ulang
di mana setiap pamflet
yang telah dituliskan terlelap damai
tanpa dituntut jadi relevan
–
Spontaneous Continuity
“We don’t like flowers that do not wilt; they must die.”
—Marianne Moore
tahu tiap orang bertendensi
buat tinggal sedikit lebih lama
pada suatu momen
dari mekar merah hibiscus
terjulur, bergoyang
dalam angin tak berjeda
begitu sehingga manis yang
mereka pikir mereka peroleh
tinggal sugesti dari saraf
bahwa “aku kira aku
mendapatkannya jika …”
tak menjamin, bahkan, dalam
nada skeptis seorang Descartes,
menyeret diri ke pusaran
variabel—tetapi ini tidak
menuju pusat yang
deterministik; ini
sepenuhnya entropis
pecahnya sebutir intan
sebagai ihwal absolut
kemudian cemas akan kefanaan
yang tak tertangkap blits kamera
ada, tapi hanya sebagai debu
tersentuh ujung telunjuk dan
sekadar buat memastikan
segala yang hadir di sini
tak lain komplemen—tetapi
apa relevansi sikap begitu
dalam perspektif relasi
antarbagian, yakni: penguasaan
atas material, atas kondisi, dan
sadar “harmoni” sedemikian
politis—aku tak bisa jawab
sekarang, sandburs ini
mengompresi setiap motif dalam
ketergantungannya pada gesekan
