Bukan siapa-siapa—ia sekadar variabel yang tak pernah bisa menjadi konstanta.

Dalam Demam dan Puisi Lainnya

Karst Mawardi

2 min read

Piknik

jangan kelewat sering
melihat berita,
kata ibu

tapi inilah jendela
inilah kaca depan
balasku, sambil berbelok
menghindar dari lubang

lihat
kita hampir celaka

ibu menggeleng
menunjuk ke suatu arah
sebuah jalur alternatif

kau tak lihat peta
sanggahnya

lalu kubilang
itu terbitan lama
jalur sudah berubah

matanya melotot
bicaranya mulai ketus
di sana tak ada lubang-lubang begini
tak ada kelokan curam
dan semua rambunya jelas

aku mendengus—
untuk ke sekian kali

dan ibu berujar lagi
kau terlalu percaya
pada berita

aku mengatur napasku
sambil menginjak rem perlahan
sampai kami berhenti

lalu kubiarkan ia memandang
ke luar jendela
saat misil hilir mudik di udara

ini perlu waktu
sebelum ia benar-benar sadar
keadaan kini sedemikian buruk

dan alternatif yang ia yakini
sekadar jalan buntu
yang tak kan membawa kami
pergi ke mana pun

Ekskavasi

gemetar buat bersaksi
secara lugas, gamblang
bahwa ini adalah ini
tak bisa lain

asap, jarak pandang
bongkaran struktur
tiba-tiba kita relawan
menyibak halaman pustaka
seperti membolak-balik puing

sampai tiba-tiba
salah seorang berseru
Lihat! Lihat!
semua gegas menuju

begitulah kami temukan
sepatah Kata
yang begitu murni
begitu halusnya
rentan dan tersengal

gemetar tangan kami
menjangkaunya
tanpa akta dan surat

ah, kulit balita
ah, denyut nadinya

Eskatologi

siapa yang bisa kuhubungi
buat bicara mitigasi

hal-hal lumrah seperti
garam dan beras
jadi terasa mencekam

siapa yang kelak menjemputku
atau menawarkan pengungsian
di tengah keterbatasan tangki
juga blokade medan

adapun suara manusia
terfermentasi hujan asam
dari kilang minyak terbakar
sampai kepadaku
semata sebagai erang
dan dusta propaganda

di hadapan layar
aku kembali bayi
diajari mengeja oleh mereka
yang gemar berteriak ketika
banyak yang memilih diam

atlas dunia:  kertas kosong
tabula rasa peradaban
yang kembali putih

—dengan bercak genosida

tiga wanita di televisi
berlari seperti Hajar
sementara fosfor putih
berdenyar di belakang

dingin pada telunjuk
saat tersentuh kepingan logam
apakah sisa atap
atau serpih proyektil …

ah, uang koin—
hari keberuntungan!

begitu, seakan-akan telah
kutemu suatu pembanding
vonis yang ekuivalen

bagi akhir dari masa depanku
dan dengan apa mereka membayar

Katarsis

bayi yang terkubur dalam lumpur itu
tadi pagi tiba-tiba bangun
lalu menangis
memanggil ruh kupu-kupu
yang tak lagi berdiang
dalam mimpinya yang gigil

lalu datanglah seorang nenek buta
mendendangkan ninabobo kepadanya
sambil memberinya minum embun
yang menitik dari dasar mendung

ketika bayi itu kembali lelap
tubuhnya dibenamkan kembali
ke dalam lumpur pekat

“kini biarlah ia yang mendiami kuburku
aku masih betah menjadi bocah ingusan”
gumam si nenek buta
sebelum merentangkan tangannya ke udara
tertawa mengejar ruh kupu-kupu
yang beterbangan ke cakrawala

Dalam Demam

larut   mengikut surut
buih     di permukaan            cemburu
pada delta           pada pulau          diri
yang ringkih             lekas terhapus alun
lamun menjelma darat            negeri
sepenuh makmur            gegas        tergerus arus
tinggal          kapal lanun     menjelajah jauh
tinggalkan            buih terhambur
igauan pucat pasi            terberai tiada damai
dalam impian negeri
“kami manusia—
bukan telur ikan laga!”
buih mengombak
menolak kaki    yang cari pijak
suara berkisar        dalam angin
kini mampat
dalam botol            pesan yang
mengarung jauh      tiada            menemu pantai
tiada tersentuh
memulai ulang?
berarak      sebagai gumpalan
mengental        mencari bentuk
: pulau            delta             sekedar atol
Rendra!              alangkah bodoh
betapa konyol       bahwa masih kuimpi
sebentuk dunia             dicipta ulang
di mana setiap           pamflet
yang telah dituliskan            terlelap damai
tanpa dituntut        jadi relevan

Spontaneous Continuity

                 “We don’t like flowers that do not wilt; they must die.”
—Marianne Moore

tahu tiap orang bertendensi
buat tinggal sedikit lebih lama
pada suatu momen
dari mekar merah hibiscus
terjulur, bergoyang
dalam angin tak berjeda
begitu sehingga manis yang
mereka pikir mereka peroleh
tinggal sugesti dari saraf

bahwa “aku kira aku
mendapatkannya jika …”
tak menjamin, bahkan, dalam
nada skeptis seorang Descartes,
menyeret diri ke pusaran
variabel—tetapi ini tidak
menuju pusat yang
deterministik; ini
sepenuhnya entropis

pecahnya sebutir intan
sebagai ihwal absolut
kemudian cemas akan kefanaan
yang tak tertangkap blits kamera
ada, tapi hanya sebagai debu
tersentuh ujung telunjuk dan
sekadar buat memastikan
segala yang hadir di sini
tak lain komplemen—tetapi

apa relevansi sikap begitu
dalam perspektif relasi
antarbagian, yakni: penguasaan
atas material, atas kondisi, dan
sadar “harmoni” sedemikian
politis—aku tak bisa jawab
sekarang, sandburs ini
mengompresi setiap motif dalam
ketergantungannya pada gesekan

Karst Mawardi
Karst Mawardi Bukan siapa-siapa—ia sekadar variabel yang tak pernah bisa menjadi konstanta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email