Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Menangis Bulan dan Puisi Lainnya

Salman Alade

1 min read

Menangis Bulan

seseorang lupa mematikan kesedihan
di langit malam takbiran.

bulan meneteskan cahaya
seperti air mata yang terlalu terang.

takbir mengalir
melewati atap rumah
melewati jalan kampung
melewati dada yang baru saja lega.

ramadan pergi
dengan langkah ringan
seperti tamu sopan
yang tidak ingin merepotkan tuan rumah.

tetapi bulan tetap menangis.

karena ia melihat sesuatu
yang bahkan tuhan mungkin sudah tahu:
manusia sangat pandai merindukan sesuatu
setelah ia pergi,
dan sangat cepat
melupakannya
ketika ia kembali.

Takbiran di Dalam Lemari

malam takbiran
aku menemukan gema takbir
tersangkut di dalam lemari baju.

barangkali
ia ikut pulang bersama baju-baju lama
yang jarang kupakai
kecuali saat menjadi anak baik
di depan ibu.

di kantongnya
masih ada debu jalan kampung,
bau karpet masjid,
dan satu kalimat yang belum sempat kupeluk:
maafkan aku, bu.

tetapi lemari itu terlalu sempit
untuk menampung semua yang belum sempat kita maafkan.

Peta Mudik

di peta mudik tahun ini
aku menemukan jalan yang tidak pernah ada.

jalan itu
menuju masa kecil.

di sana
ayah masih pulang membawa
kue rambutan dan kembang api,
ibu belum pernah menangis diam-diam di dapur,
sambil menggoreng kacang telur.

dan aku masih percaya
bahwa semua keluarga
akan selalu lengkap saat lebaran.

kini, peta itu dilipat kembali oleh waktu.

dan kita hanya bisa berjalan
di jalan yang tersisa:
menuju rumah
dengan jumlah kursi yang semakin berkurang.

Kue Kerawang

di meja Lebaran
kue kerawang tersenyum seperti rahasia mahal.

gula warna-warni di tubuhnya
membentuk bunga yang terlalu sabar
untuk dimakan manusia yang terlalu lapar.

seseorang membuatnya semalam suntuk,
dengan tangan yang pernah
memijat punggung anaknya,
menyulam baju,
menghitung harga minyak goreng.

lalu pagi ini
seorang tamu datang,
menggigitnya sekali saja,
dan berkata:
“enak.”

begitu singkat
cara dunia menghargai
kerumitan.

Menu Hari Raya

hari ini kita makan banyak sekali.

ketupat.
opor.
sambal goreng.
rendang yang sabar dimasak berjam-jam.

tetapi sebenarnya
yang paling banyak kita telan
adalah kenangan.

kenangan tentang meja makan yang dulu lebih panjang.
kursi yang dulu lebih ramai.
suara yang dulu lebih keras
ketika tertawa.

dan kita menyebut semuanya
dengan satu kata sederhana:
lebaran.

Nyadran

di kuburan
tanah sebenarnya sedang membaca kita.

kami datang membawa bunga
seperti murid yang terlambat
mengumpulkan tugas cinta.

nama-nama di batu nisan diam
tetapi terasa lebih hidup
daripada sebagian percakapan di rumah.

angin membalik halaman doa
yang bahkan kita sendiri
tidak terlalu yakin artinya.

lalu kami pulang.

tanpa sadar
meninggalkan satu hal yang paling penting
di sana:

bahwa suatu hari
nama kita juga akan belajar
diam di atas batu.

(Yogyakarta, 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email