Arsip Duka dan Puisi Lainnya

salman aristo

1 min read

Arsip Duka

Duka kami
dicuri—

lalu dicatat rapi.

Air mata disimpan sebagai statistik.
Isak dipindahkan ke arsip.

Orang-orang dipanggil,
suaranya disegel
di bawah stempel yang sah.

Kami mengenal luka tanpa gema,
seperti tanah yang digali
tanpa pernah mengadukan liang.

Duka kami
tidak lagi milik kami—
ia berdiri di podium,
mengenakan seragam,
membacakan angka-angka
yang tak pernah menangis.

Tatami yang Tidak Menahan Siapa Pun

Hidup itu,
mengecewakan, bukan?

Kita berangkat jauh untuk memastikan
bahwa jarak memang ada,
yang berubah bukan hanya jendela.

Di rumah yang pernah kita bangun dari suara,
jam dinding masih berdetak
meski tak ada lagi yang menunggu bunyinya.

Anak-anak duduk di depan kita
dengan sopan,
seperti tamu yang tahu batas waktu.
Mereka menanyakan perjalanan,
bukan soal pulang.

Di meja makan,
nasi mengepul sebentar
lalu menjadi biasa.
Tak ada yang salah.
Sendok terdengar sesekali.

Kita tidur lebih cepat dari biasanya.
Malam lebih mudah
daripada percakapan.
Ada nama yang hampir disebut,
lalu tidak.

Pagi datang tanpa peristiwa.
Cahaya masuk
tanpa perlu izin.

Sebelum kembali,
kita melihat laut.
Air bergerak pelan.
Wajah terbelah riak,
lalu menyatu lagi.

Tatami tetap rata.
Hangat cepat hilang.

Di perjalanan pulang
kita tidak membicarakan apa-apa.

Hidup itu,
mengecewakan, bukan?

Kereta tetap berjalan.
Langit tetap rendah.

Di antara dua kota
yang sama-sama pernah kita sebut rumah,
kita duduk berdampingan.

Seseorang lelap lebih dulu.

Kita membiarkannya.

Stasiun lewat.

Februari ’26
kelar mengulang-ulang Tokyo Story

Tak Bercampur

Pagi lebur
tapi menolak bercampur.

Cahaya turun tipis
di atas lantai yang lama.
Uap kopi naik.

Orang-orang menyebutnya orde baru.
Tanda berderak, berbaris.
Pintu-pintu terbuka.

Di sela terang ada kursi
mendingin
tak disentuh.

Pagi Biasa

Semalam,
dari getar tanganku
ada piring memecah lantai.

Bunyi itu sebentar saja, lalu diam.
Kilap serpihannya tersebar di bawah lampu,
memantulkan bias yang tak lagi utuh.

Aku memungutnya satu-satu.
Retak itu kembali sunyi.

Pagi datang dengan cahaya biasa.
Lantai lebih bersih.
Telapakku masih ingat
bagaimana ia bergetar.

******

Editor: Moch Aldy MA

salman aristo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email