Lantunan Merdu, Membujuk Hati
Matahari perlahan menampakkan senyum
Menyinari pasar kecil dalam perputaran waktu
Jejak langkah ibu melaju di atas tanah
Menyusuri peta perjalanan aroma rempah-rempah
Dibeli, dibeli, dibeli, tikar melebar, membuka rezeki
Sayur-mayur menampakkan keanggunan segar
Ikan-ikan berenang memulai aktivitas
Ayam bertengger, bersuara, bersiap mengguncang kelemahan
Tangan itu, tangan telaten
Timbangan dan senyuman merekah di wajah berhijab
Suara alunan tawar-menawar terasa merdu
Di bawah payung besar, tatapan mata pembeli dan penjual
Pasar tradisional hanyut terbawa masa
Orang-orang saling berjalan berbelanja
Makanan dan pakaian jadi tujuan
Arus pasar membuka kebutuhan
Tak ada mesin kasir, hanya suara hitungan
Barang-barang dan uang, berubah cinta
Pembeli suka barang, penjual suka uang
Di tengah kemajuan, kebudayaan tetap lestari
–
Spanduk Memikat
Desir angin dan debu tak kenal lelah
Terbentang sehelai kain
Menggantung di toko-toko kecil
Cat warna-warni mengelupas, bersama perubahan hari
Kata-kata bukan sekadar ajakan
Ada bisikan sunyi berubah riuh dari pemilik
Tentang pakaian, makanan, elektronik
Ditemani lampu-lampu terang
Ia berkibar membawa harapan
Bersama irama jalanan, hilir mudik arus kehidupan
Motor-motor lewat, menengok ajakan
Pejalan kaki memandang toko
Hujan tak diundang, berjatuhan lirih
Membasahi huruf demi huruf
Bagai air mata yang tak diseka
Membuat warna pudar, namun tak menyerah
Spanduk terpampang
Ia serangkaian kata penggugah pembeli
Bentang kain, ditambah ilustrasi memikat
Menunggu para penawar yang memerlukan
–
Timbangan Berharga
Pasar-pasar sunyi di pagi hari
Petani menata barang di atas timbangan
Beras dari sawah, peluh dari keikhlasan
Ditukar uang menambah senang
Ia tak meminta lebih tinggi
Hanya ingin tak menipu
Tangan-tangan tak mengurangi timbangan
Menepis senyum palsu, hadir senyum tulus
Kejujuran tak hanya di tulis
Ia menjelma di kehidupan
Kain-kain yang digunting, tak luput kecermatan
Pedagang tak menindas pembeli
Engkau pedagang, engkau pembeli
Setiap keharuman rupiah ada suara
Setiap transaksi mengundang kepemilikan
Bertukar saling suka-menyukai
Berdagang dengan hati
Menimbang penuh perhatian
Harga tak membebani, tak mengusik ketenangan
Rezeki tak berpindah, rezeki dengan aliran keberkahan
–
Pasar Tak Bersuara
Jempol-jempol menari, pasar pun terbuka
Tanpa debu, tanpa terik matahari menyapa
Cukup kecepatan sentuhan, tak perlu langkah
Hadir rupa-rupa barang dalam genggaman
Dulu ibu menawar berjongkok di pasar
Bercakap dengan penjual, pejuang pertarungan harga
Kini layar toko online, lapak pun sunyi
Harga pasti selalu terpampang, bukan lagi menawar
Keranjang bukan besi-besi
Melainkan ikon bentuk keranjang di pojok layar
Berisi berbagai keinginan dan kebutuhan
Di kirim penjual, diantarkan kurir kesabaran
Ada pakaian dari berbagai kota
Menampilkan hiasan, berkesan di mata
Ada buku-buku baru, memikat kutu buku
Semua dipesan tanpa suara
Aku rindu pasar riuh
Saling tawar-menawar menjadi budaya
Tangan-tangan saling menyapa untuk bertukar
Senyum dan akad membelah sunyi
Zaman terus berlari
Pasar bernapas langit-langit angin berganti
Kini sunyi, rapi dibungkus rapat
Menyimpan denyut online di kehidupan baru
–
Kliklah Aku
Layar mengkilap, memasuki aplikasi
Iklan menari sambil menunjukkan diri
Ada tas menjanjikan pembawa barang
Ada sepatu melangkah ke jalan perubahan
Scroll, scroll tak berjeda
Dunia memasuki etalase tanpa gerbang
Menjual parfum dan ditaburi serbuk cinta
Dikemas diskon dan seikat souvenir
Mereka datang mengundang kekasih
Dengan kata-kata manis tanpa luka
Bunyi-bunyi klik mulai menjalar
Tercipta sentuhan jari setuju
Siapa menjual sunyi?
Siapa yang menjual kecanduan beli?
Tanpa melepas rindu yang hilang
Ingat ada kebutuhan, itulah diperlukan
Media sosial bergelora
Pasar malam menunjukkan streaming live
Mengajak pengikut, mengundang pembeli
Bermacam-macam barang, bermacam-macam toko
Para pencari kemudahan
Terus mencari jalan-jalan makna
Di antara jual beli online
Iklan-iklan yang menempel di beranda, tak kenal tidur
–
Pembeli Cinta
Jari-jari menyusuri hamparan layar
Layar menyala tanpa jeda alam
Ia duduk sunyi, menimbang harga dan kecocokan
Detak jantung di keranjang keraguan dipadu keinginan
Alamat menempel bersama pesanan
Ditulis hati-hati, bagai surat cinta tak ingin salah
Di balik toko menampilkan ketakjuban
Ada sentuhan tangan dan hati
Klik produk, mengharap meluncur segera
Menyusuri kabel tak terlihat, menembus awan
Sepasang baju dan celana
Buku-buku penuh cerita, mengajak suka
Bukan sekadar pembeli
Ia penenun harapan
Setiap kurir lewat, seakan paket datang
Namun, waktu-waktu sampai belum terlihat
Suasana kecewa bercampur bahagia
Notifikasi selalu dinantikan
Pesanan telah dikirim, tanda bermula
Kalbu terbang bersama paket-paket
Pembeli online
Bukan sekadar mengirim angka-angka untuk bertukar
Ia menunggu sebuah paket kiriman kekasih
Dengan cinta bertuliskan kesabaran, dan aroma bunga
*****
Editor: Moch Aldy MA
