Part of Paralegal Depok

Backburner: Kutukan bagi Anak Perempuan

Nayla Wulandari

3 min read

Maybe I’m just not better than this, I haven’t tried

‘Cause maybe you’ll finally choose me after you’ve had more time

I thought I was a fast learner

But guess I won’t ever mind, guess I won’t ever mind

Maybe I blame my mother bleeding into my stride

Maybe it was my father and his wandering eyes

(It’s their fault that) I’ll always be in your corner

‘Cause I don’t feel alive ’til I’m burnin’ on your backburner

(“Backburner” –  Niki Zefanya)

Saat Kekerasan dalam rumah tangga terjadi, masyarakat kerap menyalahkan perempuan sebagai pihak yang ‘salah memilih pasangan’ alih-alih menggaris tebal laki-laki sebagai pelaku utama. Kekerasan bukan perihal benar-salah memilih pasangan, ia adalah konsep yang setara sebagai manusia. 

Lagi-lagi, sinistik tercurah kepada perempuan yang gagal dibaca sebagai korban. Tak dapat disanggah, masyarakat kita masih didera kemiskinan perspektif akan korban kekerasan. Kita masih memanjakan diri untuk sebatas melihat sebuah fenomena sebatas melalui kacamata elang yang mengawang. 

Penggalan lirik Backburner yang ditulis Niki Zefanya berusaha memecah gelembung lengket tersebut dan mengajak pendengar menyelami point of view perempuan yang selama ini dianggap salah memilih pasangan: Mereka yang memilih tenggelam dalam circle tak sehat, alih-alih memutus rangkaian kekerasan meskipun ia sendiri tahu kesesatan apa yang dijalaninya. 

Baca juga:

Niki meggeret pandangan tokoh utama ke ingatan intim keluarga, menemukan kesamaan ‘nasib’ atau ‘pilihan’ ia dan ibunya yang sama sama memilih laki-laki tak setia. Terdengar tak masuk akal ketika tokoh utama menyambungkan fenomena tersebut sebagai sesuatu yang “turun-temurun”. 

Sehingga, seandainya saja ibu tak memilih lelaki tak setia, aku tak akan terjebak dalam situasi serupa. Terkutuklah kutukan yang mendarah daging ini, terkutuklah ayah yang mengkhianati. 

Electra Complex: Simbol Cinta Pertama Anak Perempuan

Carl Jung memaparkan electra complex sebagai persamaan fenomena oedipus dalam kerangka anak perempuan kepada ayahnya. Jika Freud memaparkan ketertarikan biologis anak laki-laki dimulai pada ibu mereka, maka electra complex menjadi simbol yang memaparkan secara sederhana ungkapan “ayah adalah cinta pertama anak perempuan”.

Dalam mitologi Yunani, Electra digambarkan sebagai anak perempuan yang sangat mencintai ayahnya. Sejak ayahnya dibunuh oleh Clymentria, ibu kandungnya sendiri, Electra hidup dalam kemarahan dan dendam. Di ujung jalan, ia kemudian membalaskan dendam pembunuhan ayahnya dengan membunuh ibunya sendiri. 

Kecintaan Electra pada ayahnya kemudian dijadikan Carl Jung sebagai simbol ketertarikan biologis anak perempuan kepada ayahnya. Menurut Jung, ketertarikan ini kerap dapat disadari saat anak perempuan berusia 3-6 tahun. Ia mengamati dalam rentang usia tersebut, anak perempuan memiliki kedekatan emosional yang lebih mendalam terhadap sang ayah daripada sang ibu. Bahkan sering kita jumpai antara anak perempuan berlomba-lomba meraih atensi ayahnya dan cemburu akan cinta yang dimiliki sang ayah pada ibunya. 

Jung menarik fenomena ini bersamaan dengan teori Penis Envy. Mulanya, anak perempuan memiliki kedekatan emosional yang lebih kuat pada ibu mereka sebelum usia 3 tahun. Kemudian, saat menyadari dirinya tidak memiliki penis sehingga tak dapat memproses kondisi sensual yang tak sepenuhnya ia mengerti—kekecewaan terjadi pada sang ibu yang sama-sama tidak memiliki penis.

Berkebalikan dengan Oedipus yang langsung dapat menghempaskan hasrat mereka langsung pada ibu mereka—hasrat anak perempuan bergeser pada ayah mereka—yang ditemukan berbeda dengan ibu mereka karena memiliki penis. Maka, kerap kita temukan anak perempuan begitu ‘lengket’ ketika berada di sekitaran ayah mereka saat usia 3-6 tahun.

Hal ini sebetulnya tak menjadi bingkai yang negatif, dalam fenomena itu, anak perempuan secara alamiah belajar memahami perbedaan antar gender yang kelak menjadi bekalnya memahami cinta di masa dewasa. Pola ini juga dibaca sebagai titik awal ketertarikan heteroseksual seorang perempuan. 

Permulaan ketertarikan biologis anak perempuan bisa kita potret dengan lebih dalam seiring beragamnya pola didik, karakter ayah, dan warna antar keluarga. Tak dapat dipungkiri, bahwa cinta pertama itu bisa jadi jatuh pada karakter ayah–sebagai laki-laki yang tidak tepat. 

Teori Electra complex oleh Carl Jung menjadi alternatif lensa untuk mengingat kembali bagaimana peran ayah menjadi paparan paling utama yang menjadi konstruk laki-laki di kepala anak. Sebab, ia yang paling utama hadir dan muncul. Tanpa disadari, ayah menjadi sosok ideal laki-laki yang paling pertama dikenal anak perempuan. 

Perlu kita catat, anak adalah “cangkir kosong”. Lingkungan sekitar berperan penting dalam membentuk definisi pertama seorang anak sebagai individu.

Baca juga:

Dalam teori psikoanalisis tumbuh kembangnya, Anna Freud berpendapat bahwa pada rentan usia 3 hingga 6 tahun, seorang anak memulai perjalanannya untuk memperhatikan lingkungan, mengembangkan ego, kontrol diri, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain.

Kekerasan dalam rumah tangga di mata seorang anak yang masih tertatih memulai perjalanannya membaca lingkungan, tidak langsung bisa dibaca sebagai kecacatan hubungan olehnya. Hal itu malah menjadi sumber normalisasi utama yang hadir. Barulah, ketika dewasa dan membaca paparan informasi beragam, anak bertransformasi memilah mana baik dan benar. 

Seperti tokoh dalam lagu Backburner, kesamaan kondisi ia dan ibunya sebagai korban dari laki-laki tak setia dalam lirik,

Maybe I blame my mother bleeding into my stride

Maybe it was my father and his wandering eyes

Tidak lepas sebagai trauma masa lalu anak perempuan yang menjadikan ayah sebagai cinta pertama.

Tragisnya, beban konsep ideal yang salah ini terlanjur mengkonstruksi pikiran, merasuk dalam perasaan intim yang kita sebut cinta. Sangat memungkinkan ketertarikan psikologis yang seharusnya tertuju pada manusia yang dapat berperilaku manusiawi, justru berbelok pada luka serupa bayang-bayang masa lalu yang didera titel cinta.

Jangan “Kadung di Ujung Jalan”

Kadung di ujung akan terdengar klise. Mudah saja mendikte perempuan yang dilabeli sebagai “fatherless behavior” dan “daddy issue” untuk tak punya jalan lain selain “membenahi sendiri” atas kesalahan ayah mereka di masa lalu dengan berobat ke psikolog, putus rantai toxic, dan hidup lebih baik.

Fenomena psikologis bagaimana Carl Jung mengemukakan cara baru seorang anak perempuan mereproduksi rasa cinta di masa depan lewat teori Electra Complex. Hal itu tidak dimaksudkan penulis untuk menjadi menara gading kebenaran, melainkan menjadi salah satu alternatif sudut pandang bagaimana cara trauma bekerja untuk kemudian lahir kembali di masa dewasa.

Domino cinta yang salah memang bisa sedemikian kompleksnya. Sudah menjadi tanggung jawab orang dewasa yang memilih menikah dan punya anak untuk menjalani pilihan mereka secara sadar. Kesetiaan dalam hubungan, juga keluarga tanpa kekerasan yang konstan, adalah bare minimum perilaku sebagai manusia, bukan sekadar standar sebuah titel hubungan saja.

Perlu kita insyafi, orang tua adalah jendela pertama seorang anak. Maka, sebelum memutuskan menghadirkan individu baru bak cangkir kosong, perlulah berpikir isi seperti apa yang akan tertuang dalam cangkir yang mencari proses makna.

“Kadung di tengah jalan” akan semakin tak berujung bila kesadaran tanggung jawab sebegitu kompleks sebagai manusia tidak dipahami secara sadar. Pahamilah, cinta bukan sekadar naturalitas perjalanan, melainkan sebuah pilihan yang dapat selalu dipertimbangkan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 








 

 

Nayla Wulandari
Nayla Wulandari Part of Paralegal Depok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email