Kualitas pendidikan Indonesia yang “bobrok” tak akan merealisasikan program Indonesia Emas 2045. Bobrok dalam artian tidak efisien secara sistemik, melekat pada seluruh aspek pendidikan, dan dapat memundurkan kuantitas dan kualitas berbagai sektor dalam negara.
Kualitas pendidikan dapat diukur dari kurikulum yang digunakan. Sejak merdeka, Indonesia telah mengalami 12 kali perubahan kurikulum pendidikan nasional. Beberapa di antaranya, seperti Kurikulum 1984, 1994, dan 1997, merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975 dengan menekankan keaktifan siswa dalam belajar [Alhamuddin, 2014]. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala, seperti beban mata pelajaran yang berat dan metode pembelajaran satu arah. Akibatnya, banyak siswa yang hanya berfokus pada hafalan tanpa memahami makna atau penerapannya, sementara pengawasan orang tua yang minim memberi kemungkinan untuk memperburuk tingkat efektivitas kurikulum tersebut.
Perubahan kurikulum tanpa memperhatikan kemampuan siswa dan guru dalam beradaptasi. Jika diibaratkan sebagai sebuah rumah, kurikulum merupakan tanah dan pondasi dari rumah itu sendiri: tempat sebuah pendidikan berdiri dan menyokong kegiatan belajar mengajar. Kurikulum pendidikan diharuskan bersifat dinamis, berubah sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kebutuhan murid untuk bertarung demi masa depannya. Namun, bagaimana jika perubahan itu hanyalah sebuah formalitas belaka tanpa memberi dampak signifikan kepada guru dan murid itu sendiri?
Perubahan kurikulum berhubungan langsung dengan kecenderungan guru mengalami ketidaktepatan metode penyampaian materi kepada siswa, sehingga murid ikut merasakan seluruh efek jera. Seperti tidak tergalinya potensi siswa, bekerja untuk pekerjaan yang tidak sesuai minat bakatnya, bahkan menjadi pengangguran. Guru sebagai pengajar dipaksa beradaptasi dengan imbalan yang tidak setimpal. Isu ini mengundang banyak kontroversi dari kedua belah pihak. Di satu sisi, perubahan merupakan langkah awal yang baik untuk memajukan bangsa, khususnya jika didasari dengan ide-ide berkualitas seperti Kurikulum Merdeka yang menerapkan prinsip bukan hanya mempelajari teori namun diiringi oleh praktik. Namun, perubahan tanpa melihat situasi-kondisi suatu negara dan tanpa diiringi pengawasan yang saksama takkan memberikan hasil optimal bagi pelajar dan pengajar itu sendiri.
PISA dan Perbandingan Skala Internasional
PISA (Programme for International Student Assessment) adalah suatu lembaga yang melakukan survei triwulanan untuk menilai kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, sains, domain inovatif, serta kesejahteraan siswa. Skor murid Indonesia sendiri menduduki peringkat 70 dari 80 negara yang berpartisipasi dengan nilai kemampuan membaca atau literasi berada di skor 359 dari skor rata-rata dunia 469, matematika dengan skor 366 dari skor rata-rata dunia 358, dan sains dengan skor 383 dari skor rata-rata dunia 384 pada PISA 2022 [OECD, 2022].
Selain Indonesia, terdapat pula Vietnam sebagai salah satu negara berkembang yang diketahui memiliki perkembangan pesat terutama dalam pendidikan. Tercatat, negara ini berpartisipasi dalam PISA tahun 2022 dengan memperoleh skor 469 poin dalam matematika, 462 poin dalam pemahaman membaca, dan 472 poin dalam sains. Oleh karena itu, Vietnam meraih peringkat 32 dari 80 negara dan peringkat ke-2 dalam Asia Tenggara setelah Singapura. Perbedaan yang besar ini disebabkan oleh dukungan pendidikan yang diberikan pemerintah yang sangat besar. Fasilitas sekolah yang layak di seluruh wilayah kota maupun pinggiran, pendidik yang telah dipersiapkan dengan baik dan sangat dihargai jerih payah mengajarnya oleh pemerintah, serta mindset orang Vietnam yang menjunjung tinggi dan mementingkan nilai pendidikan.
Meski juga termasuk dalam negara berkembang, Vietnam dalam hal pendidikan memberikan gap yang sangat jauh dengan Indonesia jika berdasarkan skor PISA 2022. Dua negara sebelumnya merupakan golongan negara berkembang. Dibandingkan dengan Singapura yang merupakan golongan negara maju dengan mengemban peringkat 8 dalam kualitas pendidikan terbaik di dunia pada tahun 2025. Singapura mendapatkan skor PISA 575 dalam matematika, 561 dalam sains, dan 543 dalam skor membaca. Peringkat ke-8 ini tak hanya dari segi sumber daya manusia yang menjanjikan, namun kurikulum mereka yang mendukung pondasi dasar siswa sejak duduk di bangku SD serta fasilitas yang merata dan memadai sehingga mampu untuk menampung serta menggali potensi dari siswa.
Kurikulum pendidikan di Singapura dirancang untuk membangun dasar akademik yang kuat serta mengembangkan karakter dan keterampilan hidup siswa. Pada tingkat dasar, siswa mempelajari mata pelajaran inti seperti Bahasa Inggris, Matematika, Sains, dan Pendidikan Moral, disertai kegiatan pengembangan minat seperti Outdoor Education. Di tingkat menengah, sistemnya terbagi menjadi jalur Express, Normal (Academic), dan Normal (Technical), yang memberikan fleksibilitas sesuai kemampuan dan minat siswa.
Indonesia Emas 2045: Dapatkah Tercapai?
Indonesia Emas 2045 merupakan suatu visi misi negara Indonesia untuk menjadi negara maju, adil, dan makmur tepat 100 tahun kemerdekaan negara Indonesia. Diprediksi adanya bonus demografi pada tahun 2030–2045, yaitu lebih banyak warga berusia di bawah 30 tahun (usia produktif) hingga mencapai 60% dari seluruh total penduduk Indonesia (Badan Riset dan Inovasi Nasional, 2023). Dengan prediksi ini, dapat disimpulkan juga bahwa ekonomi Indonesia dapat meningkat dengan meningginya tingkat keproduktifitasan warga Indonesia.
Tetapi, bonus demografi yang tidak dikontrol dapat membawa Indonesia ke ‘jurang’. Menurut Badan Pusat Statistik 2025, tingkat pengangguran yang meningkat di Indonesia sebesar 7,46 juta warga dan secara langsung mempengaruhi sektor perekonomian dengan rata-rata gaji warga Indonesia sebesar 3 juta per bulannya di tengah kebutuhan yang semakin meningkat dengan harga barang yang juga melonjak.
Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya tingkat kriminalitas akibat perekonomian Indonesia yang rendah (Pusiknas Bareskrim Polri, 2025). Selama Januari–Oktober 2025 tercatat 8.356 orang dilaporkan terkait kasus kriminal di Indonesia, membuat Indonesia mengemban peringkat ke-2 dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Asia Tenggara dengan 3 kota yang dominan yaitu Medan, DKI Jakarta, dan Palembang. Kasus kejahatan yang paling marak adalah bermotif ekonomi mencapai 35,84% dan salah satunya aktivitas kriminalnya merupakan kejahatan pencurian kelas berat sekitar 178 kasus per minggunya di seluruh wilayah Indonesia.
Pada akhirnya, jika ‘kebobrokan’ ini diteruskan akan mengarahkan Indonesia bukan kepada Indonesia Emas 2045, melainkan Indonesia Cemas 2045. Mengingat potensi setiap individu sangat beragam dan berkembang dengan cara yang berbeda juga. Sehingga, jika potensi yang ada tidak dikembangkan akan mengakibatkan bakat yang ada tidak tumbuh secara optimal. Semakin banyak orang yang mengalami hal ini dapat mempengaruhi rata-rata kualitas sumber daya manusia Indonesia. Padahal, jika kualitas sumber daya manusia di suatu negara baik, terutama jika negara tersebut memiliki sumber daya alam yang kaya, akan mendorong pertumbuhan kualitas negara itu sendiri. Sayangnya, Indonesia Emas 2045 yang digadang-gadangkan itu masih tertutup kabut pekat sampai ketika pemerintah dan rakyat ingin bekerja sama membangun masa depan Indonesia cerah, Indonesia Emas 2045.
Nahisa Suci Maharani adalah siswa SMU Kemala Taruna Bhayangkara. Tulisan ini adalah hasil dari program ekstra kurikuler penulisan kreatif yang merupakan kerjasama SMU Global Darussalam/SMU Kemala Taruna Bhayangkara dan OM Institute tahun ajaran 2025/2026.
