Teolog partikelir yang menulis kadang-kadang, dan suka ngopi

Pemain 001

Heski Dewabrata

4 min read

Sore hari menjelang malam. Langit tidak menunjukkan cuaca yang buruk, tetapi terlihat berawan. Aku menyusuri Pasar Wilijan untuk mencari angin segar setelah mengisi perutku di warung Bu Lis. Aku menelusuri pertokoan yang terlihat kuno dan sudah usang di samping Pasar Wilijan. Namun, di tengah pertokoan itu terdapat toko yang menarik perhatianku. Langkah kakiku seakan dituntun untuk memasuki toko tersebut. Di depan toko terpampang papan nama yang nyaris tidak dapat dibaca: Toko Gim & Konsol Koh Tien.

Ketika aku melangkah masuk ke toko, bau lembap, kayu tua, dan kaset gim berdebu langsung menyambutku. Toko ini berhasil membuatku melintasi waktu. Rak-rak yang berdebu dan mulai reyot banyak dipenuhi oleh konsol-konsol dan kaset gim lawas, bahkan terdapat kaset yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mungkin akan membawa pulang satu kaset untuk kumainkan menggunakan konsol lawas yang kusimpan di kamar kosku. Aku semakin melangkah masuk. Aku melihat seorang pria paruh baya yang mungkin berusia sekitar 65 tahun, matanya sipit, menggunakan kemeja kotak-kotak dan topi yang agak lusuh. Ia duduk di balik meja kasir.

“Sedang mencari apa?” suaranya lirih tapi tajam.

“Hanya melihat-lihat, mungkin ada kaset yang bisa kubawa pulang,” balasku sambil melihat-lihat kaset yang dipajang di tiap rak.

Ketika melihat kaset-kaset yang ada di rak, aku menggeser-geser tiap kaset dengan tanganku. Lalu, tanganku terhenti di satu kaset. Kaset itu tidak memiliki sampul seperti kaset lain, hanya kotak abu-abu kusam dengan kertas yang ditulis tangan dan tertempel di kotak tersebut: Terlempar ke Pukul 2 Pagi. Aku mengambil kaset itu dan membawanya menuju meja kasir.

“Kaset itu hanya untuk orang terpilih saja,” kata pria tua tadi dengan suara yang pelan. “Tapi mungkin kau adalah orang terpilih itu.”

Pria tua itu tidak menjelaskan lebih lanjut, dan entah mengapa aku tidak ingin bertanya juga. Aku tidak mengerti mengapa aku merasa yakin untuk membeli kaset ini. Kaset ini serasa memilihku untuk menjadi pemainnya. Aku mulai mengeluarkan dompetku dari kantong celana untuk membayar kaset ini. Ketika aku mengeluarkan dompetku, pria tua tadi tersenyum dan berkata padaku,
“Kau tidak perlu membayarnya. Bawa pulang saja kaset ini dan bersenang-senanglah.”

Aku memasukkan kembali dompetku ke kantong celana dan membawa kaset itu pulang dengan perasaan tidak sabar untuk memainkannya.

Sesampainya di kamar kos, aku langsung menyiapkan konsol lawasku. Kunyalakan TV dan konsolku, kaset juga kupasang ke konsol. Lampu indikator menyala, tapi layarnya hanya gelap. Tidak ada suara terdengar, tidak ada gambar terlihat. Tombol power kupencet berkali-kali, dan tidak ada reaksi sama sekali. Aku berpikir, “Pantas saja pria tua tadi memberinya secara cuma-cuma.” Dengan perasaan frustrasi, aku membiarkan konsol dan TV-ku yang masih menyala, dan aku pun beranjak ke tempat tidur. Tanpa sadar, aku mulai tertidur.

***

Ting. Suara kecil seperti suara bel membangunkanku. Aku sedikit menegakkan tubuhku dari kasur. Penglihatanku masih sedikit buram. Aku melihat ke arah jam dinding dan melihat waktu menunjukkan pukul 2 pagi. Aku menengok ke arah TV dan sedikit terkejut. Aku menyadari dari mana asal suara yang membangunkanku tadi. Aku melihat layar TV yang tadinya hanya gelap sekarang menampilkan lingkaran spiral yang bergerak dengan tulisan merah. Gim yang kubeli sore tadi ternyata tidak rusak.

Aku beranjak dari kasurku dan menuju ke konsol untuk memulai permainanku. Namun, hal aneh yang kulihat di layar adalah gim ini tidak memiliki mode lain selain story mode, bahkan saved game pun tidak ada. Aku menekan story mode untuk memulai permainan. Muncul tulisan di layar, “Aku telah menunggumu sangat lama. Siap untuk memulai permainan?” Aku menelan ludah dan merasa sedikit gelisah, tetapi aku menekan tombol “YA”.

Layar tiba-tiba berubah. Musik latar bersuara pelan tapi intens dan mengganggu, seperti suara bisikan samar-samar dan musik-musik etnis. Karakter gim berdiri di tengah jalanan kosong. Penampilan karakter tersebut kulihat dari bagian punggung, dengan rambut, baju, dan seluruh penampilannya mirip dengan diriku. Terlalu mirip.

Aku mulai berjalan di gim tersebut. Tidak ada petunjuk, hanya jalanan kosong. Ketika berjalan semakin jauh, aku menemukan rumah-rumah yang terkunci. Aku mencoba untuk memasukinya, tetapi tidak bisa. Kemudian aku mendekat ke salah satu rumah yang membuatku sedikit gemetaran. Penampilan depan rumah tersebut sangat mirip dengan rumah masa kecilku. Aku mulai kehilangan identitasku sebagai pemain. Sebenarnya aku sedang memainkan, atau aku yang mulai dimainkan?

Aku masuk ke rumah tersebut. Interior dalamnya menunjukkan rumah tua yang tidak terawat. Di bagian ruang tamu aku menemukan sebuah laci tua. Aku menekan tombol untuk membuka laci tersebut. Di dalamnya aku menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan berwarna merah. Ketika aku menekannya, terlihat jelas tulisan dari kertas tersebut, “Kau sudah mengetahui kenapa kau berada di sini.” Hal ini membuat tubuhku semakin gemetaran.

Aku beralih dari ruang tamu dan berjalan lagi. Aku menemukan sebuah ruangan. Ketika aku membuka ruangan tersebut, aku menemukan ruangan kosong yang gelap dan hanya terdapat satu cermin. Ketika aku mendekati cermin tersebut, badanku terasa lemas karena mengetahui wajah asli dari karakter gim yang kumainkan. Wajahnya sangat mirip denganku, bahkan terlalu mirip, dengan memar di wajahnya.

Aku beralih dengan cepat dari ruangan tersebut. Aku berjalan lagi menyusuri rumah itu dan menemukan satu ruangan lagi. Ketika aku berada di depan ruangan dengan pintu yang tertutup itu, aku mendengar suara tangisan yang lirih dan kesakitan. Ketika aku membuka ruangan tersebut, aku melihat sosok pria besar yang menggunakan kemeja putih dan celana hitam dengan perempuan yang bersujud di depannya menggunakan daster yang lusuh. Laki-laki besar tersebut mencambuki perempuan itu dengan gesper di tangannya. Tidak ada petunjuk untuk ditekan menggunakan tombol sehingga karakter gimku hanya diam terpaku menyaksikan penyiksaan tersebut. Air mata keluar dari mata kiriku secara tidak sadar, dan tanganku mulai lemas.

Aku keluar dari ruangan tersebut untuk menghindari penyiksaan yang kusaksikan tadi. Aku berhenti sejenak, dan napasku mulai terengah-engah. Anehnya, karakter gim yang kumainkan juga bernapas dengan terengah-engah. Aku mulai meyakinkan diriku untuk melanjutkan permainan. Aku mulai berjalan kembali menyusuri isi rumah. Aku menemukan sebuah tangga. Ketika aku melangkah ke tangga tersebut, aku menemukan di bagian atas rumah sebuah loteng kosong yang tidak terawat. Di loteng tersebut, aku hanya menemukan sebuah radio tua di atas meja. Aku mendekati radio tersebut. Ketika aku menekan tombol untuk menyalakan radio tersebut, aku mendengar sebuah suara rekaman yang membuatku ingin mengakhiri permainan ini sekarang juga, “Tolong, Ibu… Nak!” Suaranya sangat mirip dengan suara mendiang ibuku.

Aku beranjak dengan cepat dari loteng tersebut. Aku mengarahkan karakter gimku untuk keluar dari rumah sialan itu. Aku berjalan menyusuri jalanan kosong kembali. Ketika berjalan cukup jauh, aku menemukan sebuah kompleks pertokoan tua. Ketika aku berhenti di salah satu toko, apa yang kulihat membuat diriku mulai mempertanyakan maksud dan tujuan dari gim ini. Aku menemukan sebuah toko gim dan konsol yang sama persis dengan tempat aku membeli kaset gim ini. Bahkan di dalam toko itu terdapat karakter yang sama persis dengan si pria tua sialan penjual kaset gim ini. Dan si pria tua itu terlihat hanya tersenyum.

Kepalaku mulai terasa sakit. Seketika layar berkedip dengan sangat cepat. Aku berteriak. Rasanya seperti pikiranku tersedot masuk ke dalam layar. Aku memutuskan untuk melepas kaset gim sialan ini secara paksa. Napasku terengah-engah seperti telah melarikan diri dari penjara yang sangat terasing di seluruh dunia. Aku melihat ke jam dinding, dan waktu telah menunjukkan pukul lima pagi. Aku tidak peduli, bahkan jika ini pagi-pagi buta, aku ingin kembali ke toko gim sialan itu untuk mengembalikan kaset sialan ini, atau entahlah, mungkin untuk menemukan jawaban dari permainan yang mempermainkanku ini.

Aku menyusuri pertokoan itu dengan gemetar. Ketika aku berhenti di toko gim milik pria tua sialan itu, toko itu sudah tiada. Hanya bangunan kosong berdebu menyisakan rak-rak reyot yang kosong. Ketika aku memasuki toko tersebut, aku menemukan secarik kertas yang menggantung di salah satu rak yang ditulis tangan dengan tinta merah, “Selamat datang, Pemain 001.” Aku berdiri dengan sekujur tubuh membeku. Aku ingin lari, tapi kakiku tidak bisa digerakkan. Dalam pikiranku, aku mengetahui bahwa permainan ini belum selesai. Atau mungkin, ini hanyalah babak pertama.

(Yogyakarta, 23 Juni 2025)

*****

Heski Dewabrata
Heski Dewabrata Teolog partikelir yang menulis kadang-kadang, dan suka ngopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email