Balada Terjungkal dan Puisi Lainnya

Aldri Fajar Muhammad

2 min read

BALADA TERJUNGKAL

Hari-hari kaki meringis
Terjungkal oleh ulah sendiri
Orang lain
Presiden dan menteri
Tiap tutup got nongol sendiri

Ingin sekali aspal-aspal ini
Kusulap jadi pasir
Agar tiap jatuh
Luka-luka tertawa
Hingga mati

(2023)

KERETA

Sebagai sarden, kita
Mengemas diri ke dalam kaleng
Berjejalan kaum renta

Sebab sungai kering
Dan sirip kian mengecil

(2023)

MORNING STROLL

Aku menunggu
malam merah masak
Agar kunikmati saat ranum
Sambil pelesir tanpa alas kaki
Kulit dingin, daya hidup hangat
Muaikan senyum
Kadang juga lelehkan airmata

Merinding
Seperti tangan waktu mengelus
Punggung teringkuk sesal

(2023)

SELANCAR

Anak-anak berjingkrakan untuk keriaan
Sedang orang dewasa berjingkrakan di atas jarak
Dalam dadanya
Burung unta urung tua
Masih selancari ombak padat
Di savana jiwa

Tak ada uban antara bulu merah nyala
Namun kawan lama masih mawas:
Burung kondor dari ketinggian

(2023)

HUARACHES

Di atas terompa
Ada pemburu bangun dari selimut
Seberat rasa kenyang
Dari makanan siap saji
Seberat rasa kantuk
Dari pertapaan dini hari
Pemburu bangkit
Menuju jalan tak rampung yang Ia cinta
Hingga kikisan aspal serupa malam pertama
Bagi tapak-tapak
Tak ada derit ranjang
Tapi kejang lemas lusinan tendon
Tiap mendarat sepanas
Kasih sayang paling purba

Di atas terompa
Sepasang pompa mengembang-kempiskan
Badai dari dada serigala
Ia bermuara ke perapian
Sekujur tubuh
Matang jadi bara
Jelaga adalah katakata
Berlapis di dinding cerobong
Siap dikikir penyair
Penolak ilham

Di atas terompa
Gembala diiring
Domba-domba yang mampir
Tadi malam
Bertumpuk bulu menguap
Jadi semilir di tengkuk
Menuju ladang tanpa pagar
Saat itu Ia tahu
Kesialan makin sulit
Menggeming tubuhnya
Yang seringan angin

(2022)

TUHAN

I. 4-5 Tahun

Ia benar-benar
di atas awan

koko putih
peci hitam

dan mata lihai
menembak pendosa

aku takut ditemukan
di balik lemari

oleh Tuhan dengan
Mata Melihat

sembunyi dari mama
sebab tak makan brokoli

II. 6-10 Tahun

guru bilang
Tuhan tak berbentuk

tapi mengapa yang
mengusap lebam ini

kubayangkan tanganNya?

III. 11-15 Tahun

maaf, Tuhan
aku lupa kalau harus
mengingatmu

nanti ya, kalau sedang
menangis
akan kusebut namamu

seperti orang-orang sujud
di televisi

tapi, maaf Tuhan
aku tak akan pakai
peci berkilau dan koko satin

seperti orang-orang sujud
di televisi

aku tak akan sempat
memakai baju

IV. 16-18 Tahun

dosa-dosa di gerobak ditinggal
ibu dan ayah tengah jalan

perlu belajar mandiri
agar terjual dagangan

dan pulang mengangkut
lebih ringan

V. 20

Tuhan,
mumpung masih muda,
sekali ini ya?

memang kuyakin
Kau tak kan mengadu
pada ayah ibu

pun setidaknya
aku ingin mencicip sangit
yang kutanggung sendiri

tanpa perlu halal-haram

tentu Kau mengerti, Tuhan
umur panjang adalah
pendek penyesalan

VI. Psych-25

itu dia!
suara asing
memantul dalam diri

inikah rasanya
menjadi nabi,

dijanjikan surga, dan
bersiap lepas dari derita

Tuhan?

VII. Post-25

Kau menghilang bersama
gema diri

mungkin di balik semak domba
atau di atas julang kursiMu

tapi, kelak kutemukan diri pemberianMu
di dalamku

kunantikan,
Tuhan!

(2022)

VARIASI KIAMAT

I. rasi

Hujan abad 21 di lampu jalan
Menggantikan bintang jatuh
Tak ada rasi patut dibaca
Di sepanjang landaian buatan ini
Dan hutan menjauh dari pelataran
Mencegah orang-orang tersesat
Membuang bangkai diri tanpa gunduk, tanpa batu

Sedang dewa-dewa
Punah tergiris
Prasasti

II. diri

Nama-nama, ingatan-ingatan
Diunggah tanpa cetak
Hingga Identitas
Tertelan badai matahari

Kita mengira kita tak bisa apa-apa

III. jalan

Lahirlah pejalan kaki
Dari rahim, dari bengkak pembuluh
Nadi dan arteri kota
Kendaraan adalah kepompong
Dan mereka yang merangkak darinya
Serupa kaum merdeka
Bangun dari lelap lalu lintas
Berlesatan ke luar jarak
Ke luar waktu

IV. air

Air digembala jauh
Ke sarang terdalam
Dan tak ada manusia
Mampu berburu lagi

V. otak

Akhirnya perbincangan
Ditutur dalam bahasa sengau tak berbadan
Sejak berpikir jadi kerja lewah
Untuk mencapai puncak kenikmatan

Dititipkannya usaha pada
Pelumas robot yang melampaui
Usia peradaban

VI. umat

Di tengah umat
Kita mengisi baris saf
Yang hampir habis ke belakang
Kolom kosong diisi bisik dan sangka
Sebab kita tak ingin saling tersinggung

Ayat kian sayup dalam pengiriman
Dalam perjalanan, ada yang mengejar
Saf demi saf

VII. daging

Setelah punah dijemput kemarau
Bau daging panggang pertama
Terendus manusia
Di kakinya

*****

Editor: Moch Aldy MA

Aldri Fajar Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email