Penulis lahir di Manggarai, Flores. Suka menulis sambil mendengar lagu-lagu reggae dan menyulut sebatang rokok. Saat ini bergiat di Komunitas Tutur Karya.

Suatu Pagi, Sebelum Pulang

Faldo Mogu

2 min read

Sehabis misa pagi itu, Tanta Monika segera menghampiri pastor di sakristi, lalu meminta kemurahan hatinya untuk mendengar cerita mengenai persoalan hidup yang sedang ia hadapi.

“Sekarang?”

“Hmm… tapi sehabis ini saya ada rosario di kamar Enu.”

Pastor tua itu diam sejenak, lalu melanjutkan pembicaraannya.

“Enu memang mau omong apa?”

Tanta Monika mulai memperjelas arah pembicaraannya.

“Saya ingin menceritakan persoalan di rumah tangga kami, Bapak Pastor.” Ia mengambil napas sejenak, lalu melanjutkan.

“Apa yang bisa diharapkan dari rumah tangga yang setiap harinya bertengkar, Bapak Pastor?”

Sang pastor menyilangkan tangannya di depan dada dan membetulkan posisi berdirinya. Bukan hal baru baginya mendengar cerita-cerita semacam itu, sebab ia sering hadir untuk membantu mengatasi persoalan rumah tangga umatnya.

“Satu hal yang mesti Enu tahu, pertengkaran selalu terjadi karena orang keras kepala.” Kalimat itu menusuk hati Tanta Monika.
“Tak ada yang lebih baik selain banyak-banyak mengalah, Enu.”

Pastor tua itu keluar dari sakristi, lalu melangkah penuh hati-hati menuju Gua Maria yang terletak tepat di belakang gereja.

Tanta Monika mengikuti langkah sang pastor. Namun entah kenapa, setelah mendengar kalimatnya, ia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. Ia batuk berkali-kali hingga tak disadarinya air mata jatuh membasahi pipinya.

“Sampai kapan saya harus sabar, Bapak Pastor, sementara setiap hari suami saya hanya urus minum moke di pertigaan kampung. Pulang rumah ketika mabuk dan…”

Tanta Monika tidak mampu melanjutkan pembicaraan. Air matanya makin deras mengalir.

“Pulang itu, ia siksa saya, menghancurkan gelas dan piring di dapur. Bahkan dia tidak peduli dengan anak dalam kandungan ini, Bapak Pastor.” Ia melanjutkan dengan isak tangis sambil mengelus perutnya yang mulai buncit.

Seketika itu, sang pastor menyadari bahwa perempuan muda di depannya sedang mengandung.

“Jangan terlalu memikirkan itu, Enu,” ucap sang pastor menghibur. Ia tahu bahwa keadaan psikologis seorang ibu memengaruhi bayi dalam kandungan.

“Saya tidak bisa bertahan dengan kehidupan seperti itu, Pastor. Dosakah saya bila menceraikannya?”

“Enu mau cerai?” Sang pastor menegakkan tubuhnya dan memandang tajam mata Tanta Monika. “Enu tidak takut pada Tuhan?”

Sang pastor tahu Tanta Monika adalah umat yang taat pada ajaran agama dan Tuhan. Ia tak pernah absen pada hari Minggu, apalagi pada hari-hari besar gereja. Bahkan, di setiap perayaan ia selalu datang lebih awal dan duduk di bangku paling depan. Di tengah banyaknya umat yang mengantuk atau tidur saat ia berkhotbah, hanya Tanta Monika yang selalu memberi perhatian penuh. Namun, sang pastor tidak menyangka bahwa ia berani mengambil keputusan untuk bercerai.

Ia kemudian dengan tegas menyampaikan bahwa perceraian adalah tindakan berdosa dan melawan Tuhan. Ia mengutip salah satu ayat Kitab Suci sebagai dasar: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia,” jelasnya.

Tanta Monika makin terpukul mendengar hal itu. Di satu sisi, ia terikat oleh keluhuran janji pernikahan Gereja Katolik. Di sisi lain, penindasan yang dialaminya membuat ia tak nyaman dan ingin segera meninggalkan suaminya.

“Enu masih ingat janji itu, kan?” sang pastor menyahut.

“Di hadapan Tuhan, pastor, frater, bapak-mama saksi, dan sejumlah umat yang hadir, Enu sudah berjanji untuk setia kepada pasangan dalam untung dan malang, di waktu sehat maupun sakit, serta mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup, bukan?”

Ia diam sebentar, menatap tajam bola mata Tanta Monika.

“Ingat, seumur hidup, Enu. Sampai maut memisahkan.”

Tanta Monika mengatur napasnya, menyeka air mata dengan sarung adat Manggarai yang sedari tadi dikenakannya di pinggang.

“Adakah janji itu tak boleh dilanggar, Pastor?” Ia bertanya dengan hati yang berat dan emosi yang tertahan, matanya memandang patung Bunda Maria yang tampak tersenyum kepadanya. “Meskipun dalam situasi yang sangat menyakitkan sekalipun?”

Sang pastor kembali menundukkan kepala, merasa ditampar oleh kalimat itu.

“Dia sudah tak ada cinta lagi, Bapak Pastor. Ia hanya mencintai dirinya sendiri. Keluar rumah hanya untuk minum moke, lalu pulang memukul istri, menghancurkan barang-barang dapur. Bahkan ia tak peduli dengan anak dalam perut saya ini. Anaknya sendiri, Bapak Pastor.” Tanta Monika menarik napas dalam-dalam. “Bukankah rumah tangga seharusnya berlandaskan cinta, Bapak Pastor?” lanjutnya.

“Apa yang Enu lakukan untuk sepeda motor yang kehabisan bensin?” Pastor tua itu menyela cepat. Ia kemudian menjelaskan bahwa kericuhan rumah tangga selalu terjadi karena kekurangan cinta. Karena itu, cinta yang hilang harus ditumbuhkan kembali agar keharmonisan tercipta.

Di sela-sela pembicaraan itu, Tanta Monika menyela bahwa hal itu tidak mungkin terjadi jika suaminya memang sudah tidak memiliki cinta sama sekali. Untuk meyakinkan sang pastor, ia kembali menjelaskan bagaimana dirinya diperlakukan layaknya budak di rumah sendiri.

Namun bagi sang pastor, hal itu tak ada artinya jika dibandingkan dengan penderitaan Yesus atau Santa Monika, orang kudus dari Tagaste, Afrika Utara, yang juga pernah mengalami penindasan oleh suaminya. Tanta Monika tentu tahu kisah itu, sebab ia akrab dengan buku-buku kisah hidup orang kudus. Ia tahu apa yang dilakukan mereka di tengah masa sulit. Hal-hal itulah yang disarankan sang pastor kepadanya.

“Enu harus taat pada suami, seperti Santa Monika yang selalu sabar dan setia dalam kesulitannya. Teruslah berdoa, seperti Santa Monika. Tuhan tak pernah berpaling muka terhadap setiap keluh kesah anak-anak-Nya,” demikian sang pastor meneguhkannya.

Tanta Monika tak tahu harus berkata apa lagi. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pamit pulang dan mengakhiri pembicaraan itu.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Faldo Mogu
Faldo Mogu Penulis lahir di Manggarai, Flores. Suka menulis sambil mendengar lagu-lagu reggae dan menyulut sebatang rokok. Saat ini bergiat di Komunitas Tutur Karya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email