Mahasiswa sastra. Lagi suka eksplorasi teknik cerita. Juru tulis Komunitas Rabo Sore.

Hadiah dari Dapur

Satria Al-Fauzi Ramadhan

4 min read

Setelah lima tahun aku pergi dari rumah, kakak perempuanku mengirimkan sebuah bingkisan ke tempat tinggalku kini, di Kota S. Jika saja dulu tidak ada masalah dalam keluargaku, mungkin aku sekarang masih tetap tinggal di Kota M, membantu Ibu berjualan sayur-mayur di Pasar Legi. Namun, masalah itu tidak bisa kutoleransi. Seisi rumah berteriak. Saat itu juga aku memutuskan untuk pergi.

Bingkisan dari kakak perempuanku disertai sebuah surat panjang. Jika kalian ingin membaca surat tersebut, bacalah, aku akan menaruhnya di bawah ini. Aku harus keluar, ada sebuah urusan penting. Nanti aku akan kembali lagi jika kalian sudah selesai membaca. Sampai jumpa, silakan dibaca.

***

Selamat ulang tahun, Hamzah. Bagaimana kabarmu? Kuharap kau tidak membuka bingkisannya sebelum kau selesai membaca surat ini. Kau tahu, Ibu sangat rindu padamu. Setiap malam ia merenung di kamarnya, dan sesekali air matanya menyungai, seperti orang paling sedih di pusat semesta.

Aku dan Ibu sangat berharap kau pulang, tapi aku tahu itu tak mungkin.

Sejak kejadian itu, Ibu sama sekali tidak mau bicara denganku. Ia hanya mengeluarkan sepatah kata seperti “iya”, “belum”, “tidak”, bahkan terkadang tidak sama sekali. Ibu hanya menggeleng atau mengangguk jika kutanyai sesuatu. Jika aku menyinggung perihal kejadian itu, Ibu seketika mematung dan segera menghindar. Seperti ada pisau di dadanya yang terus mencoreng luka dan menguras darah kebahagiaan.

Namun, beberapa waktu lalu keadaannya sangat berbeda. Saat itu aku teringat hari ulang tahunmu yang akan tiba. Aku mengatakannya pada Ibu. Awalnya kukira Ibu akan menanggapi dengan acuh tak acuh seperti biasa. Ternyata tidak, ia seketika tersenyum. Kami duduk di meja makan, berhadap-hadapan.

“Aku rindu anak itu,” ucap Ibu. Aku hanya mematung, menatap wajah sendu Ibu yang serupa langit senja di belakang rumah. Ibu tampak menahan air matanya keluar. Ia berkali-kali mengusap matanya dengan punggung tangan kanannya, dan sebisa mungkin tersenyum.

Kau tahu, Hamzah, beberapa saat setelah Ibu mengatakan bahwa ia rindu padamu, ia bicara panjang lebar. Aku mendengarkannya dengan khidmat. Rasanya hari itu adalah hari pertama pertemuanku dengan Ibu. Baru kali ini ia berbicara begitu banyak. Senyumku tak bisa kutahan.

Dan yang lebih membuatku gembira, Ibu juga bicara tentang kejadian itu, mulai dari awal.

Begini ringkasannya:

Ibu sebenarnya sudah tahu sejak lama bahwa kau benci dengan Ayah. Suatu hari Ibu bertengkar dengan Ayah, dan kau baru saja pulang dari Pasar Legi untuk mengambil barang dagangan yang lupa dibawa pulang. Karena rasa capai yang luar biasa, pikir Ibu, seketika kau ikut campur dalam pertengkaran. Kau ikut berdebat membela Ibu.

Sejak saat itu Ibu kerap melihat wajahmu bersungut-sungut ketika sedang berbicara dengan Ayah. Aku tahu, Ayah memang bukan orang baik. Ia kerap pulang dengan semerbak bau alkohol di mulutnya. Dan sewaktu-waktu ia bisa memarahi Ibu habis-habisan tanpa alasan yang jelas. Namun, sejak kau ikut campur dalam pertengkaran itu, Ayah tidak lagi berani membentak Ibu di depanmu.

Pertengkaran dilakukan tanpa sepengetahuanmu. Ayah membentak Ibu jika kau sedang berada di Pasar Legi, atau jika kau sedang bermain bersama teman-temanmu (aku tahu sebenarnya bukan teman-temanmu, tapi pacarmu; aku tahu kau punya pacar). Sementara Ibu juga tidak mau menceritakan pertengkarannya kepada siapa pun, terlebih padamu.

Namun, suatu hari kau menangkap kemurungan yang terbit di wajah Ibu. Sepanjang kau berdagang dengan Ibu hari itu, kau merasa Ibu tak seperti biasa. Kau melihat senyum Ibu yang dipaksa. Kau melihat roman kesedihan tiada tara dan aura air mata. Maka kau pun bertanya pada Ibu, apa yang telah terjadi.

“Tidak apa-apa, Nak,” jawab Ibu padamu.

Tentu saja kau tak percaya. Kau terus mendesak Ibu dengan pertanyaan-pertanyaan serupa. Hingga akhirnya Ibu menjawab:

“Ayahmu.”

Sepulang dari Pasar Legi kau langsung menemui Ayah yang sedang merokok di teras rumah. Kau bertanya dengan nada tinggi.

“Ibu habis diapakan?”

Ayah hanya diam, menatap wajahmu dengan sama bersungutnya. Kau mengulangi pertanyaanmu, dan Ayah tetap mematung.

Kau mendekatkan dirimu pada Ayah. Melangkahkan beberapa langkah kaki. Ayah terus menatapmu, wajahnya mulai memerah.

Sesaat kemudian terjadilah perkelahian antara kau dan Ayah. Ibu berteriak dan berusaha menjadi penengah dengan menarik tubuhmu.

Jika saja waktu itu aku ada di rumah, pasti aku juga akan menjadi penengah seperti Ibu. Sayangnya, aku selalu disibukkan dengan kuliahku di Kota J, dan aku sama sekali tidak tahu tentang perselisihanmu dengan Ayah.

Hari-hari berlalu dan Ibu sama sekali tak pernah melihatmu berbicara dengan Ayah. Sejak perkelahian itu kau selalu acuh tak acuh dengan kehadiran Ayah. Kau menganggap Ayah tak pernah ada, tak pernah tercipta, di rumah ini, di dunia ini. Lambat laun kalian melupakan kejadian itu, melupakan segala rasa sakit dan benci. Kau tetap membantu Ibu berdagang setiap hari di Pasar Legi.

Namun, tibalah masalah itu. Saat itu aku sedang liburan kuliah. Masa-masa seperti ini aku selalu menghabiskan diri di kamar. Sesekali aku ingin membantu Ibu di Pasar Legi sepertimu, tapi Ibu selalu melarang.

Setelah beberapa hari di rumah, aku mendengar suara gaduh dari luar kamar. Awalnya kukira itu hanyalah suara tikus yang berlarian di atas plafon. Namun, aku tak yakin. Suara gaduh itu tak kunjung reda. Aku keluar kamar. Kulihat Ibu sedang bersimpuh duduk sembari tubuhnya menyandar tembok. Aku segera menghampiri dan memeluk Ibu. Senyap. Hanya air mata yang bicara.

“Jangan katakan ini pada Hamzah,” ucap Ibu. Aku hanya mematung, seolah mengiyakan.

Saat itu kau sedang keluar rumah. Lambat laun aku mulai mengerti apa yang telah terjadi.

Lebam di wajah Ibu tak mampu menyembunyikan rahasia padamu. Sehari setelah itu, saat kau dan Ibu sedang berada di Pasar Legi, kau memerhatikan bagian kiri mata Ibu yang agak janggal. Kau merasa ada yang aneh pada bagian itu. Seketika kau menghujani Ibu dengan pertanyaan.

“Ayah?”

Ibu menggeleng.

“Aku tahu.”

“Bukan, Nak. Bukan!”

“Aku tahu, Bu. Sudahlah!”

Ibu mematung, berusaha menahan tangisnya di tengah riuhnya pasar.

Sore itu, sepulang dari pasar, kau langsung menghantam wajah Ayah tanpa basa-basi. Aku keluar dari kamar setelah mendengar teriakan Ibu. Perkelahian berlangsung hebat. Ibu tak mampu menjadi penengah, begitu pun aku. Kau dan Ayah saling berbalas pukul. Kau seolah tak peduli meskipun badan Ayah jauh lebih besar dari badanmu. Pukulan-pukulan Ayah sesekali membuatmu jatuh, tapi seketika kau bangkit lagi. Berulang-ulang.

Sesaat kemudian, kau jatuh untuk ke sekian kalinya. Kau tak segera bangkit. Wajahmu kau tutupi dengan tangan kananmu. Namun, tiba-tiba kau lari, lari ke arah dapur.

Setelah itu yang kuingat hanya darah, darah, dan teriakan. Kau pergi saat itu juga.

Itulah sepenggal ingatanku dan Ibu.

Hamzah, kau tahu, bingkisan ini merupakan hasil dari perdebatan panjang antara aku dan Ibu. Berhari-hari kami memikirkan hadiah apa yang cocok untukmu, untuk hari ulang tahunmu. Dan suatu hari Ibu mendapat ide cemerlang dan mengusulkan sebuah barang. Aku seketika setuju dengan usulan itu.

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Hamzah. Jagalah barang itu. Simpan di lubuk hati paling dalam, di sebuah palung yang tak pernah kau jelajahi.

Penuh kasih.

***

Baiklah, kalian sudah membacanya. Bingkisan dan surat itu sudah kubaca dan kubuka satu jam yang lalu. Aku tak mengerti apa yang mereka pikirkan. Mengapa harus pisau. Pisau yang kugunakan ketika menusuk Ayah.

Baiklah, sebaiknya lupakan pisau itu. Sekarang kalian harus ikut aku bersembunyi. Kalian tahu, sejak kejadian itu aku menjadi buronan polisi. Dan siapa pun tak ada yang tahu keberadaanku selama lima tahun, termasuk Ibu dan kakak perempuanku. Maka, aku tak benar-benar yakin pengirim surat dan bingkisan itu adalah mereka. Dan karena kalian sudah terlanjur kuberitahu keberadaanku, maka kalian harus ikut denganku. Kali ini aku akan pindah ke Kota K.

Mojokerto, 2025

*****

Editor: Moch Aldy MA

Satria Al-Fauzi Ramadhan
Satria Al-Fauzi Ramadhan Mahasiswa sastra. Lagi suka eksplorasi teknik cerita. Juru tulis Komunitas Rabo Sore.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email