Islam | Psikologi | Filsafat

Menguasai “Hyperfocus” di Dunia Penuh Gangguan

Muhammad Iqbal Syahsaputra

4 min read

Di zaman sekarang, kita hidup di tengah banjir informasi dan berbagai hal yang terus menarik perhatian kita. Seringkali, kita merasa harus selalu sibuk, bisa melakukan banyak hal sekaligus (multitasking), dan selalu siap sedia. Tapi, menurut saya, ini adalah pemahaman yang keliru tentang apa itu produktif.Produktivitas yang sebenarnya, yang bisa bikin kita merasa puas dan menghasilkan sesuatu yang nyata, bukan datang dari kesibukan tanpa henti. Justru, itu datang dari kemampuan yang makin jarang kita latih yaitu hyperfocus.

Menurut Ashinoff dan Abu-Akel (2019) bahwa hyperfocus ditandai oleh keadaan perhatian yang sangat intens dan selektif, dan selama hyperfocus, kinerja tugas meningkat. Ini bukan cuma keahlian biasa, ini adalah kunci utama agar kita tetap bisa mengendalikan diri dan jadi efektif di dunia yang sengaja dirancang untuk memecah perhatian kita.

Kemampuan untuk fokus itu bukan cuma bakat langka, tapi keahlian otak yang bisa kita latih dan perkuat. Namun, kita harus melihat ini dalam gambaran yang lebih besar. Kenapa sih fokus jadi susah banget sekarang? Siapa yang untung kalau perhatian kita terpecah-pecah? Dan apa dampaknya buat kebebasan kita sebagai individu dan hubungan kita dengan orang lain?

Melawan Gangguan dari Dalam Diri dan Mengendalikan Rasa Takut Kita

Banyak orang mengira gangguan itu datang dari luar seperti ponsel, media sosial, atau teman yang mengganggu. Tapi, kalau kita lihat lebih dalam, penghalang terbesar fokus kita justru ada di dalam diri yaitu rasa takut dan keraguan yang muncul dari amigdala. Bagian otak ini, yang sebenarnya bertugas melindungi kita dari bahaya, kini justru sering bereaksi berlebihan terhadap tugas-tugas yang sulit atau baru.

Baca juga:

Amigdala membisikkan keraguan, bikin kita cemas, dan akhirnya membuat kita menunda pekerjaan. Hal ini seringkali tanpa sadar kita biarkan terjadi pada diri kita. Menurut Sklar (2013) ketika seseorang berada dalam hyperfocus, rangsangan luar yang tidak relevan tampaknya tidak lagi disadari, kadang digambarkan sebagai berkurangnya persepsi terhadap lingkungan.

Langkah menuju hyperfocus adalah berani melawan rasa cemas yang dibuat-buat ini. Kita perlu melatih diri secara sadar untuk membongkar ketakutan kita. Coba Jujur pada diri sendiri dan sebutkan apa yang sebenarnya bikin kita takut memulai tugas. Apakah takut gagal di sistem yang menuntut ini, takut tidak sempurna di budaya yang mengagungkan kesempurnaan, atau takut dikritik di lingkungan yang penuh persaingan? Mengenali ini adalah awal untuk mengambil kembali kendali.

Setelah ketakutan kita bongkar, mari kita tempatkan dalam konteks yang lebih luas. Pikirkan: apakah kekhawatiran ini akan penting dalam 10 menit, 10 minggu, atau 10 tahun? Seringkali, kita akan sadar bahwa kecemasan yang mendominasi saat ini hanyalah hasil dari tekanan waktu, bukan ancaman nyata bagi hidup kita.

Jangan sampai kita terjebak dalam kebingungan terus-menerus. Buatlah keputusan yang jelas dan cepat tentang langkah selanjutnya, sekecil apa pun itu, dan pegang teguh komitmen kita. Tindakan kecil yang terus-menerus jauh lebih efektif daripada rencana sempurna yang tidak pernah dijalankan.

Kemudian mulai tindakan menyelesaikan tugas kita. Menunda hanya akan memperkuat rasa takut dan keraguan. Dengan memulai, kita secara aktif mengirim sinyal ke otak bahwa kita adalah penguasa diri, perlahan mengurangi pengaruh amigdala, dan membuka jalan bagi konsentrasi yang berkelanjutan.

Merebut Kembali Zona Nyaman Kita dari Perebutan Perhatian

Setelah kita berhasil mengendalikan masalah dari dalam diri, pintu menuju flow state bisa terbuka. Ini adalah momen terbaik bagi otak kita, di mana kita benar-benar tenggelam dalam suatu aktivitas, waktu terasa hilang, dan pekerjaan terasa efisien serta menyenangkan. Ini lebih dari sekadar produktivitas, ini adalah perasaan paling efektif dan puncak kinerja otak kita.  Menurut Ashinoff dan Abu-Akel (2019) bahwa mengalami hyperfocus sering kali membuat waktu terasa berjalan lebih cepat dan pekerjaan yang sulit menjadi menyenangkan. Saya yakin, kita semua pernah merasakan sedikit dari kondisi ini, entah saat berkreasi, memecahkan masalah, atau bahkan saat ngobrol secara mendalam.

Namun, di dunia yang terus berebut perhatian kita, di mana aplikasi digital dirancang untuk memecah dan menghasilkan uang dari setiap detik perhatian kita, mencapai kondisi aliran jadi makin sulit. Kita harus secara aktif menciptakan kondisi yang mendukungnya, sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya pemecahan perhatian yang disengaja.

Kita harus jadi penjaga yang ketat untuk perhatian kita. Batasi paparan terhadap konten yang sengaja dibuat untuk memancing emosi, dan bisa juga menggunakan teknologi (misal: mode “jangan ganggu“) untuk menciptakan zona bebas gangguan digital jika diperlukan. Ini adalah tindakan untuk menjaga kebebasan berpikir kita.

Baca juga:

Buat rutinitas singkat sebelum memulai pekerjaan yang butuh konsentrasi tinggi. Ini bisa berupa menata meja, minum teh, atau mendengarkan musik tertentu. Hal ini berfungsi sebagai pemicu psikologis, melatih otak kita untuk beralih ke mode fokus.

Kondisi flow paling mudah dicapai jika tugasnya punya tingkat kesulitan yang pas. Cukup menantang biar kita tetap tertarik, tapi enggak terlalu sulit sampai bikin frustrasi. Memecah tugas besar jadi bagian-bagian kecil yang jelas adalah strategi yang efektif. Menurut Nakamura dan Csikszentmihalyi (2009) kondisi flow  ketika: tugas yang diberikan cukup menantang tanpa melebihi kemampuan, membuat tujuan yang jelas, dan umpan balik langsung mengenai kemajuan.

Kita butuh cara untuk melihat kemajuan kita secara langsung. Umpan balik yang cepat, entah lewat tanda visual, angka, atau evaluasi diri, akan menjaga motivasi dan mendorong kita makin dalam ke kondisi flow.

Ini sering diabaikan dalam pembahasan produktivitas yang cuma fokus pada hasil. Ketika kita menghubungkan tugas kita saat ini dengan tujuan yang lebih besar, nilai-nilai pribadi, atau dampak sosial, pekerjaan tidak lagi terasa sebagai beban, tapi jadi bagian penting dari misi kita. Ini meningkatkan keterlibatan emosional dan kualitas fokus kita secara signifikan. Menurut Kahl dan Wahl (2006) bahwa ketertarikan adalah motivasi yang sangat penting dalam pengembangan keterampilan, kompetensi, dan kecerdasan.

Istirahat Aktif sebagai Cara Melawan Kelelahan yang Terus-menerus

Anehnya, agar bisa fokus dengan efektif, kita juga harus tahu cara istirahat yang benar. Seringkali, saat lelah, kita langsung mengambil ponsel atau membuka media sosial sebagai “istirahat.” Tapi, ini bukan istirahat yang sebenarnya. Ini cuma mengganti satu jenis hiburan dengan jenis lain, yang pada akhirnya malah bikin otak kita makin lelah. Istirahat aktif adalah kunci penting untuk mengembalikan kemampuan fokus dan energi kita, sebuah cara melawan budaya kelelahan yang sudah jadi kebiasaan.

Istirahat aktif berarti sengaja menjauhkan diri secara fisik dan mental dari tuntutan pekerjaan. Ini bisa sesederhana jalan kaki sebentar di luar, melakukan peregangan ringan, meditasi singkat, atau hanya melihat-lihat lingkungan sekitar tanpa tujuan. Tujuannya adalah memberi kesempatan otak kita untuk benar-benar reset dan mengisi ulang, tanpa terlibat dalam tugas-tugas yang menuntut atau menerima informasi secara pasif.

Istirahat aktif yang teratur membantu kita mencegah kelelahan otak, meningkatkan kreativitas, dan memastikan kita kembali bekerja dengan pikiran yang segar dan siap beraksi lagi. Ini bukan buang-buang waktu, ini adalah investasi penting untuk produktivitas jangka panjang dan kesehatan kita. Menurut Castellar et al. (2019) bahwa keterlibatan perhatian yang efisien dapat membuat persepsi kita terhadap stimulus luar berkurang, menunjukkan perlunya waktu bagi otak untuk mengisi ulang kapasitas perhatiannya.

Menguasai fokus adalah perjalanan yang terus-menerus dan merupakan tindakan untuk mengambil kendali di dunia yang cenderung memecah perhatian kita. Ini adalah komitmen untuk memahami diri sendiri, mengatur lingkungan kita secara aktif, dan menghargai ritme alami tubuh kita. Melawan gangguan internal yang dibuat-buat, menciptakan kondisi aliran sebagai bentuk perlawanan, bekerja sesuai ritme tubuh, dan mempraktikkan istirahat aktif sebagai tindakan perlawanan, kita bisa merebut kembali kendali penuh atas perhatian kita. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Iqbal Syahsaputra
Muhammad Iqbal Syahsaputra Islam | Psikologi | Filsafat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email