Apa Kau Akan Tetap Memelukku Saat Tanganku Penuh Abu?
aku tak lahir dari cahaya
kadang tanganku berlumur sisa api
dan mulutku masih bau duka yang belum sempat dibakar
jika suatu hari
aku pulang dengan jari-jari hitam
karena menggenggam kehilangan terlalu lama,
akankah kau tetap membuka pelukmu?
atau kau hanya mencinta
aku yang belum dirundung debu,
belum bersuara dalam bahasa luka,
belum menyulam bisu di sepanjang tulang rusuk?
aku hanya ingin tahu:
apakah cintamu tahan tinggal
jika aku tak bisa membersihkan diriku darimu?
–
Jika Luka-lukaku Tumbuh Menjadi Pohon, Akankah Kau Berteduh?
aku menyimpan luka
di bawah kulitku yang tenang
dan jika kau mau tinggal cukup lama,
kau akan melihat batang-batangnya tumbuh dari perutku
aku bukan padang bunga
aku adalah kebun penuh ranting patah
dengan akar-akar yang mencekik sunyi
jika aku membuka diriku,
kau tak akan menemukan aroma mawar
hanya tanah lembab
yang belum pernah dikeringkan siapa pun
tapi jika aku jadi pohon,
akankah kau duduk di bawahnya
atau kau pergi mencari taman yang lebih rapi?
–
Aku Tak Pandai Menyembuhkan, Tapi Aku Bisa Menjadi Luka Baru yang Tak Menyakitkan
aku tak bisa menebang pohon lukamu
tapi aku bisa menggantungkan angin
di antara daunnya
agar kau tahu: duka pun bisa bersuara lembut
aku tak ingin menyembuhkanmu
karena luka itu bagian dari syair tubuhmu
aku hanya ingin menjadi luka baru
yang tak menyakitkan
seperti goresan puisi di buku harian—
perih, tapi kau tak ingin menghapusnya
–
Aku Tak Butuh Engkau Sempurna, Tapi Jangan Biarkan Aku Mati di Tanganku Sendiri
jika tanganmu berlumur abu,
jangan sodorkan padaku
seolah aku tempat membuang sisa-sisa yang tak bisa kau bakar
aku bisa menerima gelapmu,
tapi aku bukan perapian
aku bukan tanah kosong yang harus kau kubur dengan trauma
datanglah,
dengan kehancuranmu yang jujur
bukan dengan serpihan
yang kau lempar seperti perangkap
aku bisa mencintaimu
dengan nyala kecil
asalkan kau tak menuntutku
untuk menyulut kembali seluruh tubuhmu
–
Aku Tak Ingin Dimengerti, Aku Ingin Disentuh Tanpa Harus Bertanya
kadang aku diam
bukan karena tak ada yang ingin dikatakan
tapi karena mulutku sudah penuh debu
dari kata-kata yang dibakar sebelum lahir
aku tidak butuh penjelasan panjang
aku butuh seseorang
yang berani menyentuh
tulang di dadaku
tanpa menanyakan siapa yang pertama melukainya
jika cinta harus selalu disusun seperti argumen
biarlah aku kalah
asal aku masih bisa meraba pipimu
dan tahu kau tetap nyata
–
Aku Tak Ingin Diselamatkan, Aku Ingin Dibiarkan Duduk Tanpa Ditanya Kenapa
cinta bukan pertolongan pertama
aku tidak ingin diselamatkan
aku ingin duduk
dengan luka-lukaku yang masih berdarah
tanpa harus menjelaskannya seperti laporan medis
jangan beri aku obat
beri aku waktu
untuk tahu bahwa kau ada di situ
meski tak paham bahasa sakitku
aku tidak sedang menunggu kau menjadi pahlawan
aku hanya ingin tahu
jika suatu malam
aku menutup mata dan tak berkata apa-apa,
kau tetap di sana,
mendengar diamku
tanpa mengusirnya
(Yogyakarta, Juli 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
