I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Tujuh Berkah di Kamar Kos Nomor Tujuh

Rizal Nurhadiansyah

9 min read

Ada sebuah peraturan tidak tertulis di kamar kos Bima: pagi hari dimulai bukan saat matahari terbit, melainkan saat perutnya perlu diberi asupan. Tapi pagi ini, peraturan itu dilanggar. Bima terbangun bukan oleh rasa lapar, melainkan oleh suara.

Suara yang tidak seharusnya dia dengar.

Bukan dering alarm ponselnya yang monoton. Bukan pula suara dengkuran dari kamar sebelah yang ritmenya seperti mesin diesel sekarat. Ini adalah paduan suara serak yang memekakkan telinga; tangisan-tangisan kecil yang saling tumpang tindih, tajam, dan menuntut. Seperti sekawanan kucing yang baru lahir, tapi jauh lebih manusiawi.

Dengan mata yang masih separuh terpejam, dia duduk. Kamarnya yang berukuran tiga kali tiga meter menyambutnya dengan pemandangan yang biasa: dinding lembap dengan peta kepulauan abstrak dari noda bekas bocor, tumpukan kardus mi instan yang telah menjadi elemen arsitektur, bau pengap—campuran aroma mi instan basi dan sperma yang belum kering, deterjen bubuk murah, serta kesepian yang menguap dari sprei yang jarang diganti.

Namun, di lantai, di antara tumpukan kaus dan celana jin kotor, ada sesuatu yang baru. Tujuh gumpalan daging merah muda menggeliat. Telanjang, keriput, dengan mulut-mulut kecil terbuka lebar mengeluarkan protes paling murni di dunia.

Otak Bima, yang biasanya lamban bahkan dalam kondisi terbaiknya, mengalami korsleting total. Reaksinya bukanlah teriakan atau kepanikan. Reaksinya adalah keheningan yang total dan absolut. Dia hanya duduk di tepi ranjangnya, menatap tujuh bayi itu dengan mulut menganga. Mungkin dia masih bermimpi. Namun, semalam dia hanya makan nasi dengan kerupuk yang sudah alot, tidak mungkin bisa menghasilkan mimpi seaneh ini.

Salah satu bayi, yang paling dekat dengan laptopnya, bersin. Semburan kecil cairan bening mendarat di layar yang berdebu. Dan inilah momen yang memecah kelumpuhan Bima. Tanpa pikir panjang, didorong oleh refleks yang lebih murni dari niat apa pun, dia meraih gulungan tisu dari atas mejanya—gulungan yang sama yang menjadi saksi bisu ritual kesepiannya setiap malam—dan dengan hati-hati membersihkan noda itu dari layar. Prioritas. Seseorang harus punya prioritas.

Setelah layar laptopnya aman, kenyataan yang lebih besar kembali menghantamnya seperti truk. Bayi. Tujuh. Di kamarnya. Dia melompat dan memeriksa pintu. Terkunci dari dalam, dengan gembok tambahan yang selalu ia pasang. Dia lari ke jendela. Tertutup rapat dengan teralis besi berkarat yang bahkan maling paling nekat pun akan berpikir dua kali. Tidak ada jalan masuk. Tidak ada jalan keluar.

Matanya lalu tertuju pada satu-satunya benda di kamar yang tumbuh setiap hari: tempat sampah di sudut. Sebuah gunung kecil dari gumpalan tisu yang kaku dan menguning meluap dari bibirnya. Sebuah pemakaman bagi potensi-potensi yang tak terhitung jumlahnya. Sebuah kengerian metafisik yang dingin mulai merayap di tulang punggungnya.

Dia berlutut, mengamati bayi-bayi itu lebih dekat. Rasa jijik dan takutnya bergulat dengan rasa ingin tahu yang ganjil. Satu bayi memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, persis seperti miliknya. Bayi lain, yang tangisannya paling keras, memiliki pusaran rambut aneh di puncak kepalanya, sama seperti pusaran rambut yang selalu diejek teman-temannya waktu SD dulu.

Mungkin ini adalah musim panen. Benih-benih yang ia tabur dalam kehampaan kamarnya telah tumbuh, menembus batas antara fantasi dan materi, dan kini menuntut hak mereka untuk hidup.

“Sst… sst…,” bisik Bima, suaranya parau. “Nanti ibu kos dengar.”

Seolah mengerti konsep ibu kos, tangisan mereka justru semakin menjadi-jadi. Putus asa, Bima melakukan hal paling logis yang bisa dipikirkan oleh otaknya yang panik: dia menarik salah satu kaus kakinya yang tergeletak di lantai—untungnya yang baru dipakai setengah hari—dan mencoba menyumpalkannya dengan lembut ke mulut bayi yang paling dekat. Bayi itu berhenti menangis, lalu mulai mengisap kaus kaki itu dengan rakus seolah itu adalah puting paling lezat di dunia. Enam lainnya masih menangis. Rencananya gagal.

Mereka lapar. Kesadaran itu menghantam Bima. Dan uang di dompetnya hanya cukup untuk bertahan hidup—versi dirinya sendiri—selama tiga hari ke depan. Didorong oleh tangisan yang kini terasa seperti bor yang melubangi tengkoraknya, Bima mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya selama sebulan terakhir. Dia akan keluar dari kamarnya.

Dia mengenakan hoodie, menarik tudungnya hingga menutupi separuh wajahnya, dan melangkah keluar dari kamar nomor tujuh dengan jantung berdebar kencang. Tujuannya: Warung Bu Ida di ujung gang.

Warung itu seperti biasa, remang-remang dan berbau kamper. Bu Ida, seorang wanita dengan senyum yang terlalu ramah dan mata yang bekerja seperti CCTV, sedang mengelap etalase kaca.

“Cari apa, Mas Bima?” sapanya. “Tumben pagi-pagi udah seger.”

Bima tidak menjawab, hanya berjalan lurus ke rak di belakang, tempat sabun, sampo, dan… susu formula dipajang. Dia berdiri di sana, membeku, menatap deretan kaleng dengan gambar bayi-bayi gemuk yang tersenyum bahagia. Sebuah dunia yang begitu asing baginya.

“Oh, cari susu bayi?” tanya Bu Ida dari belakang konter, senyumnya semakin lebar. “Buat bayi siapa? Usia berapa?”

Ini adalah jalan keluar yang mudah. Sebuah kebohongan kecil yang akan menyelamatkannya dari kecurigaan. Tapi otak Bima sedang tidak dalam mode penyelamatan diri. Otaknya sedang dalam mode jujur yang brutal dan membingungkan.

Setelah jeda yang terasa seperti satu menit penuh, Bima berbalik. Matanya menatap lurus ke arah Bu Ida.

“Buat anak saya,” katanya dengan suara datar.

Bu Ida terkekeh. “Ah, Mas Bima bisa aja. Emang udah nikah?”

Bima menelan ludah. “Baru lahir.”

“Oh ya? Satu?”

Bima menarik napas. Dia mengambil kaleng susu formula yang paling murah. Lalu dia mengambil satu lagi. Dan satu lagi. Dia berhenti setelah kaleng ketujuh berjajar di tangannya yang gemetar. Dia menatap Bu Ida.

“Tujuh.”

Senyum di wajah Bu Ida membeku, seolah urat-urat di pipinya baru saja diputus serentak. Matanya yang tadi seperti CCTV kini berubah menjadi lampu sorot interogasi. Bima meletakkan tujuh kaleng susu dan sebungkus besar popok sekali pakai di atas meja, membayar dengan lembaran uang terakhirnya yang lecek, lalu bergegas pergi tanpa mengucapkan terima kasih.

Dia tidak melihat bagaimana Bu Ida meraih ponselnya bahkan sebelum dia melintasi ambang pintu. Dan Bima, tanpa sadar, baru saja menyulut sumbu dari sebuah bom gosip yang akan meledakkan seluruh kehidupannya yang sunyi.

Sementara Bima, dia masih mengutuk dirinya yang entah kenapa jadi begitu jujur.

***

Satu jam setelah misi susu yang menegangkan, kamar nomor tujuh telah bertransformasi dari sekadar kamar kos sempit menjadi miniatur neraka. Bau asam dari susu formula yang tumpah, anyir manis dari popok kotor yang menumpuk di sudut, dan aroma tubuh tujuh bayi yang belum mengenal sabun, semuanya berpadu menciptakan sebuah parfum baru yang memualkan. Bima, yang kini bergerak seperti zombi, mencoba menerapkan sistem rotasi. Beri makan satu, yang lain menangis karena popoknya basah. Ganti popok satu, yang lain muntah di atas bantal satu-satunya. Itu adalah sebuah siklus kekacauan yang sempurna.

Tangisan itu, yang awalnya hanya suara, kini telah menjadi bagian dari dirinya. Menggetarkan tulang-tulangnya, berdengung di rongga kepalanya. Ia tidak lagi mendengarnya sebagai gangguan, melainkan sebagai detak jantung dari bencana yang sedang berlangsung ini.

Tapi dinding kamar kos terbuat dari dinding tipis tanpa peredam suara. Dan kesabaran tetangga terbuat dari bahan yang lebih tipis lagi.

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu kamarnya digedor dengan kekuatan yang bisa merontokkan engsel. Suara yang menyertainya bahkan lebih keras, melengking seperti peluit kereta api.

“BIMA! BUKA PINTU INI! KAMU PIARA APA DI DALAM?! BAU AMIS BEGINI!”

Itu suara Bu Endang, sang pemilik kos. Seorang janda paruh baya yang amarahnya adalah legenda di gang itu. Bima membeku. Di bahunya, bayi nomor empat—yang ia juluki “Si Tenang” karena hanya menangis jika benar-benar perlu—tertidur pulas. Di lantai, enam lainnya sedang dalam jeda tangisan, hanya merengek pelan.

BRAK! BRAK! “BIMA! SAYA HITUNG SAMPAI TIGA ATAU SAYA DOBRAK!”

Tidak ada pilihan. Dengan gerakan lambat seorang terpidana mati, Bima berjalan ke pintu. Dia memutar kunci, menarik gemboknya dan membuka pintu selebar satu jengkal.

Bu Endang berdiri di sana, kedua tangan di pinggang, daster bunganya berkibar seperti bendera perang. Matanya menyipit, siap melontarkan semburan api. Tapi kemudian, matanya menangkap pemandangan di dalam: wajah Bima yang pucat pasi dengan mata panda, bayi kecil yang tertidur di bahunya, dan di latar belakang, gundukan-gundukan kecil lain yang menggeliat di atas tumpukan baju.

Wajah Bu Endang melewati serangkaian ekspresi dalam tiga detik: amarah, kebingungan, ketidakpercayaan, dan akhirnya, horor murni. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Yang keluar hanyalah satu tarikan napas panjang, diikuti oleh sebuah jeritan melengking yang begitu dahsyat, seekor cicak di plafon sampai terjatuh karena kaget.

Jeritan itu adalah sinyal suar. Dalam hitungan detik, pintu-pintu kos lain terbuka. Kepala-kepala muncul. Mas Doni, mahasiswa abadi yang selalu memakai kaus band. Mbak Ririn, pekerja pabrik garmen yang matanya selalu lelah. Pak Suroto, yang keluar hanya dengan sarung dan kaus singlet. Mereka semua tertarik oleh drama itu seperti laron oleh cahaya.

“Ada apa, Bu?” tanya Mas Doni.

Bu Endang tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke dalam kamar Bima dengan jari gemetar. Kerumunan kecil itu merangsek maju, saling dorong untuk bisa mengintip ke dalam kotak pandora di kamar nomor tujuh.

Lalu gumaman itu dimulai, tumpang tindih seperti siaran radio yang rusak.

“Allahu Akbar… itu bayi!” bisik Mbak Ririn, menutup mulutnya.

“Satu, dua, tiga, empat… Astaghfirullah, tujuh!” hitung Pak Suroto dengan suara serak. “Anak haram!”

“Tujuh? Dia hamilin siapa aja? Satu RT?” celetuk Mas Doni, yang langsung disikut oleh Mbak Ririn.

“Pasti dia nyulik! Ini harus lapor polisi!”

“Jangan-jangan pesugihan! Makanya pendiam begitu. Orangnya juga aneh!” tuduh seorang ibu dari kamar ujung.

Bima hanya berdiri di ambang pintu, mematung. Bayi di bahunya sedikit menggeliat. Dia menjadi pusat tontonan, sebuah spesimen langka yang dipamerkan di kebun binatang sosial. Tatapan mereka—campuran antara jijik, ngeri, dan rasa penasaran yang tak tertahankan—menelanjanginya lebih dari apa pun. Dia yang menghabiskan hidupnya berusaha menjadi tidak terlihat, kini menjadi objek paling menarik di seluruh alam semesta kecil mereka.

Berjam-jam kemudian, Pak RT datang ketika Bima sudah benar-benar pasrah. Seorang bapak-bapak tambun berkumis tebal yang napasnya terengah-engah. Dia mencoba membelah kerumunan dengan otoritasnya yang goyah. “Sabar, sabar, jangan main hakim sendiri!”

Dia tiba di depan pintu Bima, melongok ke dalam, dan kumisnya tampak layu seketika. “Mas Bima… ini… ini apa-apaan?”

Sebelum Bima bisa menjawab—bukan berarti dia punya jawaban—dua sosok berseragam cokelat tiba. Dua polisi muda, yang satu kurus tinggi, yang satu lagi agak gempal. Wajah mereka menunjukkan kebingungan yang sama seperti orang lain, hanya saja mereka berusaha menutupinya dengan ekspresi datar yang dipelajari di akademi.

“Selamat siang,” kata polisi kurus itu, mencoba terdengar profesional. “Kami dapat laporan ada keributan. Bisa jelaskan dari mana asal bayi-bayi ini?”

Bima menatap polisi itu. Untuk pertama kalinya, dia memutuskan untuk mengatakan kebenaran yang absurd. “Saya… saya tidak tahu, Pak. Saya bangun tidur, mereka sudah ada di sini.”

Polisi yang gempal mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen. Dia menulis dengan lambat. “Korban… eh, tersangka… mengaku… amnesia.”

Pak RT mencoba menengahi. “Sudah, Bima, jujur saja. Ibunya di mana? Siapa saja, kok, bisa sampai tujuh? Kamu sembunyikan di mana? Kita selesaikan secara kekeluargaan, jangan sampai dibawa ke kantor.”

Di tengah interogasi yang canggung itu, sebuah mobil van putih berhenti di mulut gang. Logo sebuah stasiun TV swasta terpampang di sisinya. Seorang reporter wanita berambut pendek dengan blazer merah menyala melompat keluar, diikuti oleh seorang juru kamera yang memanggul kameranya seperti bazoka.

“Permisi! Permisi! Dari TV Tujuh!” teriaknya, menerobos kerumunan yang kini dengan senang hati memberinya jalan.

Dia tiba di depan Bima. Tanpa basa-basi, tanpa izin, juru kamera langsung menyorotkan lensanya ke wajah Bima yang kuyu. Sebuah lampu sorot kecil di atas kamera menyala, menyilaukan matanya.

“Pemirsa!” seru sang reporter dengan suara yang dibuat-buat dramatis. “Kami melaporkan langsung dari sebuah kos-kosan di mana seorang pemuda pendiam ditemukan bersama tujuh bayi misterius! Apakah ini kasus penelantaran anak, penculikan, atau sebuah fenomena ajaib seperti pengakuannya? Di sini, di belakang saya, pemuda bernama Bima ini, diduga adalah ayah dari ketujuh bayi!”

Blitz kamera ponsel dari para tetangga menyala berkali-kali. Bima, yang fobia sosialnya begitu parah hingga memesan makanan pun harus melalui aplikasi, kini menjadi breaking news nasional. Dia tidak lagi hanya milik kamar nomor tujuh. Dia telah menjadi milik publik. Sebuah tontonan aneh untuk mengisi kekosongan sore hari mereka. Dan di tengah badai itu, bayi di bahunya mulai merengek, lapar.

***

Evakuasi itu adalah parade kehinaan. Bima, yang seumur hidupnya di panti asuhan telah belajar untuk membuat dirinya sekecil mungkin agar tidak menyusahkan, kini diseret ke tengah panggung. Setiap pasang mata di gang itu terasa seperti jarum. Setiap blitz kamera terasa seperti tamparan. Bayi-bayi itu, yang dibawa dalam kardus mi instan oleh para tetangga, bukan lagi manifestasi ajaib. Mereka adalah bukti fisik dari aibnya. Mereka adalah dosa-dosanya yang menggeliat dan menangis.

Di kantor Dinas Sosial, sebuah bangunan yang familier dan memuakkan baginya, Bima duduk di sebuah ruangan steril. Di sekelilingnya, di dalam boks-boks bayi pinjaman, terbaring tujuh buah cermin kecil yang memantulkan kegagalannya. Mereka tidak lagi hanya memiliki tahi lalat atau pusaran rambutnya. Mereka memiliki matanya—mata seorang anak panti yang selalu waspada, yang selalu mencari sosok yang tidak akan pernah datang.

Bu Santi, pekerja sosial dengan kelelahan yang terpahat di wajahnya, menatapnya bukan dengan simpati, melainkan dengan kekecewaan yang mendalam. “Kamu dibesarkan di sini, Bima. Kamu tahu bagaimana rasanya tidak punya orang tua. Dan kamu melakukan ini pada tujuh anak sekaligus?”

Bima tidak menjawab. Apa yang bisa ia katakan? “Saya tidak melakukan apa-apa, Bu. Saya hanya… membuang diri saya sendiri ke dalam tisu setiap malam.” Itu bukan pembelaan. Itu pengakuan yang lebih menjijikkan. Onani bukan lagi sekadar tindakan pelepasan. Itu adalah ritual kebencian pada diri sendiri, sebuah cara untuk memuntahkan semua potensi, semua harapan, ke dalam tempat sampah sebelum mereka sempat menyakitinya. Dan sekarang, sampah itu hidup.

“Tidak ada yang mau mengadopsi tujuh bayi sekaligus, Bima. Kamu tahu itu,” kata Bu Santi, suaranya datar. “Mereka akan dipisah. Dikirim ke panti-panti yang berbeda. Kalau beruntung, mungkin salah satu dari mereka akan diadopsi. Sisanya akan tumbuh seperti kamu.”

Akan tumbuh seperti kamu.

Kalimat itu menghantamnya seperti palu godam. Dia melihat bayi-bayi itu. Mereka akan belajar untuk tidak menangis terlalu kencang agar tidak mengganggu pengasuh. Mereka akan belajar berbagi mainan yang sudah rusak. Mereka akan belajar menatap gerbang setiap sore, berharap ada yang datang menjemput. Mereka akan belajar tentang kesepian yang komunal. Mereka akan menjadi gema dari kehampaannya, tersebar di seluruh negeri.

Dan Bima, pencipta mereka, akan bebas. Bebas untuk kembali ke kamar kosnya, kembali ke ritualnya, menciptakan lebih banyak lagi hantu yang tak terlihat.

Sebuah kemarahan yang dingin dan asing mulai menjalari pembuluh darahnya. Bukan marah pada Bu Santi atau dunia. Marah pada dirinya sendiri. Marah pada kelemahannya yang telah melahirkan penderitaan nyata.

“Saya ayah mereka,” kata Bima pelan, suaranya serak.

Bu Santi menatapnya. “Kami sudah mengambil sampel DNA. Hasilnya akan keluar besok. Tapi itu tidak penting. Menjadi ayah bukan soal menabur benih, Bima.”

“Saya mau merawat mereka,” katanya lagi, lebih tegas.

Bu Santi tertawa, sebuah tawa kering tanpa humor. “Merawat mereka? Dengan apa? Kamu tidak punya pekerjaan tetap. Kamu bahkan tidak bisa merawat dirimu sendiri. Jangan egois. Kebahagiaan terbesarmu saat ini adalah membiarkan mereka pergi.”

Pintu terbuka. Dua petugas masuk. Waktunya telah tiba.

Saat petugas pertama mengulurkan tangan untuk mengambil bayi dari boks terdekat, Bima tidak bergerak. Dia tidak memeluk. Dia tidak melawan. Dia hanya menatap. Dia menatap bayi itu, dan di dalam mata kecilnya yang jernih, dia melihat neraka yang ia ciptakan. Neraka penantian. Neraka ketidakpastian.

“Tunggu,” kata Bima.

Semua orang berhenti.

Dia berjalan ke arah boks bayi pertama. Dia tidak memeluknya. Dia meletakkan telapak tangannya yang gemetar di atas dada kecil bayi itu. Dia bisa merasakan detak jantungnya yang cepat dan rapuh. Sebuah mesin kehidupan kecil yang ia nyalakan tanpa sengaja.

Dan dia melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Dia menekan.

Awalnya pelan. Bayi itu sedikit menggeliat. Lalu lebih keras. Sebuah erangan kecil keluar dari mulut mungil itu. Mata bayi itu membelalak, bingung.

“BIMA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!” jerit Bu Santi, melompat dari kursinya.

Para petugas bergegas maju menghentikan Bima yang kesetanan. Namun, dia terus memberontak. Dia ingin membersihkan sampahnya sendiri.

Para petugas menyeretnya keluar. Salah satu dari mereka terpaksa memukulnya. Bima terduduk di sana, tangannya terkulai di sisi tubuhnya. Air matanya mulai mengalir perlahan membanjiri pipinya. Lalu dengan cepat dan gesit, dia berlari ke arah jendela, membukanya, dan melihat ke bawah ke pelataran parkir lima lantai di bawahnya.

Dia telah menghabiskan seluruh hidupnya di panti asuhan, sebuah tempat di mana dia dibuang. Malam ini, dia membuang dirinya sendiri. Dia menaiki kusen jendela, dan berakhir di dunia yang tak pernah dia kunjungi.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rizal Nurhadiansyah
Rizal Nurhadiansyah I write words for a living. Sometimes they even make sense.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email