perjuangan dan proses pulihnya
hari belakang kamu lebih sering
menyeka dirimu sendiri
mungkin dari bayangan-bayangan
seperti siluet cepat yang berlari dan tak kembali
kadang menimang cerita baik, menurutmu
mungkin hari ini, bisa juga minggu depan
sesuatu yang dilakukan walau gagal layak untuk bernilai
selebihnya tanpa kamu menaklukkan
penyesalan akan tumbuh tak berakhir
seperti terang pagimu yang terdengar
menyibak kabut dan sehari yang belum tentu kau pahami
dan badanmu terlihat padam
bagaimanapun sampai tua
orang-orang akan selalu diberi pelajaran
cara-cara merelakan dan menerima diri
kira-kira akan tiba
jika kelak kamu membasuh ingatan
mungkin gambaran-gambaran sepi saat ini
dan tawa-tawa meletihkan
tak lagi ada
cintalah yang akan bertahan lama
selanjutnya adalah bentuk bertahan
penyembuhan diri
hingga perjuangan dan proses pulihnya
(Karanganyar, 2025)
–
seperti yang terlahir pagi
malam sudah renta dan diizinkan untuk mengurungkan pergi
cukup di waktu lalu membulatkan tekad keluar di perlintasan kota
jamuan lampu merah berkedip melambat di tandas roda-roda
mereka meminum umur di jalan menuju palang nasib
di bangunan bekas kolonial dan terus mengerakkan arus pikiran
telah bermukim sedari pagi dari—perhentian dan keberangkatan
mereka mengukur waktu sebelum tiba
menusuk jari-jari di kantung saku
menyusur lintasan kereta yang berangkat pagi
bekas luka-luka abadi itu telah terjadi
budak, cangkul, dan darah dalam arwah senyap
bertikai di ladang tebu dan terburai
di bidang kala yang beratus dalam tahun
telah menerjang ingatan yang tak pernah kusut
mereka tak pandai menakar takdir
hanya menjalani yang sudah ada: harapan bermakna
sejatuh berkali dan ingin terlahir pagi
jauh dari sakit hingga hari-hari tertawa
(Karanganyar, 2025)
–
tek-tok dari senin ke minggu
dimulai oleh pertanyaan batu-kertas-gunting
menang kalah, kalah menang, seri dan seri
taruhlah tubuh dan hidupmu di depan di sebuah kota kecil
dan keraguan menabrak, berpetulang di gemintang waktu
ibu memberi kantong sakunya berupa harapan
“aku buka darinya, kertas itu berupa doa untuk menguatkan haruku”
ada uang recehnya dimasukkan ke saku bajuku untuk bekal
rasa khawatir kelaparan menunjang tengah malam
sekali lagi, mohon tuhan agar aku diselamatkan
darinya
hingga kini aku masih anak kecil
ayah telah melatihku dan memberi gunting
untuk bertahan hidup, memberi pikiran bijaknya untuk menapak bumi
sekalinya ia menyembunyikan rasa keletihan yang tak pernah dilebihkan
ia telah membuka jalanku untuk dunia yang lebih darinya
seketika aku pergi lagi, selimut ini tetap saja sunyi
yang memabukkan,
aku sudah cukupkan
aku membatu, di pikiranku dunia tampak yang ideal
tetapi tidaklah seperti itu
jika banyak perhentian di tubuh kota-kota itu
dan tetap melanjutkan perjalanan
mewarisi ingatan di masa depan
untuk buah hatiku
ibu, ayah dan aku
kita merawat kota ingatan bersama
di sini senin ke minggu
semoga termaktub di bulan-bulan taman waktu
(Solo Raya, 2025)
–
manusia-manusia rebah
mereka telah bersandar begitu lama seruang
yang ditakar panas juga tidak dingin pula, pun menyesalinya
jika ditilik muka mereka tanpa riasan bunga-bunga
dan mesin kertas telah berulang kali berurusan dengan tinta-tinta
mereka pikir lelah dari upaya rekreatif
tak pernah ia pun menyesali
gerak kereta waktu dan hari ini yang ia miliki
tampaknya jiwa rasa maaf, telah bermain begitu leluasa
telah ia terima yang mereka punya
jejaring ikatan kata, janji, moral dan hubungan kata
menjadi untaian tiap pagi dipautkan sapa
walau siang begitu kering dan rebah di belakang dada
layar di depan matamu naik turun
bola matamu seperti bola ping-pong melompat kecil-kecil
genjatan jari-jari dimulai dan diakhiri
menjelang sore yang redam
manusia rebah di punggungnya
diteruskan perjalanan, sekali ia berhenti
mengisi nasib menjemput takdir
bertemu dan mengadu tak pernah tuntas
(Karanganyar, 2025)
–
ruang kenang
biarkan tubuh dan ingatan-ingatan yang datang
sengaja atau tidak berlabuh di ruang mungkin
di sana dirimu membiara diri melewati semak sunyi
menjadi apa saja dengan dunia yang belum engkau kenali
—selama ini
sehabis menutup dunia mungkin itu
upaya terakhir jisismu bersedekah—lalu menerima
di ruang kenang,
dalam dunia bayang-bayang
(Solo Raya, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA

Puisi yg enak dibaca
terima kasih apresi yg diberikan 🙏