Negara mengimbau rakyat jangan bermewah-mewah. Preett. Mau tahu apa arti bermewah-mewah bagi wong cilik? Hadir di pemakamanmu sendiri.
Aku sering membayangkan mati adalah jalan aman. Aku bisa terbebas dari semua omong-kosong yang setiap hari semakin berlipat ganda jumlahnya. Bayangkan kemarin, tiba-tiba Bapak pulang dengan masygul. Keponakan Pak Desa yang korupsi pembangunan lapangan futsal di desaku dibebaskan hanya karena punya istri ayu bermata sayu.
Itu belum ada apa-apanya.
Tadi pagi di rapat, Pak Kades mengumumkan peraturan: denda satu juta bagi warga yang membiarkan sapinya berkeliaran. Ia tampaknya kewalahan dengan keluhan warga atas tumpukan tahi di mana-mana. Eh lima jam kemudian tersiar kabar peraturan sudah dicabut.
Bapak menyeruput kopinya dengan berapi-api. Suaranya yang melengking tajam penuh kemarahan. Mereka pikir kita ini bodoh apa.
Namun, aku kini melihat lelaki itu tertunduk muram, eh cenderung gusar sebenarnya. Anakku hanya terdiam menatap wajah orang-orang. Barangkali ia bingung. Pelayat yang datang tak bisa menyembunyikan gunjing dan tawa. Mereka mengucapkan innalillahi dengan wajah orang yang baru saja mendengar lelucon di luar nurul. Aku tersenyum. Bahkan di hari kematianku—meski tak sesuai dengan berbagai skenario yang pernah kubayangkan—aku masih bisa membuat orang merasa hidupnya masih lebih baik. Ternyata, hidup dipimpin orang-orang yang sibuk membuat dalih dan mempersulit keadaan, masih jauh lebih baik daripada mati konyol karena tahi sapi.
Iya, aku selamat dari korona. Pulih dari pukulan Satpol PP ketika kedapatan melanggar jam malam. Meski tubuhku waktu itu penuh memar dan mataku lebam, aku selamat. Barangkali, itu karena uang tutup mulut yang diselipkan di dalam lima kilo beras yang dikirim ke rumah bersama paket lain. Namun, benar, maut selalu punya cara untuk menemuimu. Dibunuh, diracun, dilarung, ditabrak, dibakar, ditikam, mabuk, narkoba. Atau rem kendaraanmu dicopot, mulutmu dibekap bantal sampai kau kehabisan napas, didorong dari bangunan tinggi, didesak ke jalan raya penuh kendaraan. Kausebut saja semuanya. Aku punya daftar itu di kepala. Daftar itu membuatku begitu berhati-hati menjalani hidup. Aku yakin akan mati gara-gara salah satunya.
Aku memang bermulut tajam. Entah berapa orang tetangga yang sakit hati dan memutuskan jauh-jauh dari aku dan Bapak. Aku tidak ambil pusing.
Entah berapa kali pula aku dipanggil ke kantor pihak berwajib di kecamatan. Pak Kades melaporkanku untuk banyak hal: memprovokasi warga untuk tidak menjual tanahnya. Padahal, kenyataan sebenarnya, aku hanya mengirim pesan singkat ke istrinya, bilang kalau suami kebanggaannya itu ada main dengan penyuluh desa.
Aku terlambat melihat gundukan hijau itu, masih segar dan basah. Cahaya matahari pagi berkilau-kilau di atas permukaannya. Niat ingin mendahului kendaraan yang melaju di depan mengambang ragu di udara, tetapi itu hanya sesaat. Aku menancap gas dan berakhir terlempar sejauh entah ke semak-semak, lalu mendarat dengan keras. Aku mendengar bunyi berderak sebelum kesadaran tercabut dari raga.
Jauh sebelum itu, aku tak pernah menduga, akan mati gara-gara tinja binatang yang sangat kubenci. Apakah itu balas dendam?
Aku membenci sapi. Tante yang membesarkanku setelah Ibu meninggal, harus ikut mati karena menabrak seekor sapi. Bukan sembarang sapi, tetapi sapi yang biasanya dicari menjelang Iduladha. Besar dan gemuk. Tubuh tanteku yang hanya seberat 38 kilo terbang bersama motor yang dikendarainya. Kepalanya menimpa batu sungai yang dijadikan penahan jembatan. Hidup adik ibuku itu selesai di sana.
Sejak itulah aku mengibarkan bendera permusuhan. Aku tak lagi makan daging sapi. Segala coto, rendang, burger, abon, tak lagi kumakan. Aku tersiksa pada mulanya. Namun, kesumat telah menguasai akal dan membuatku terus bertahan. Kadang, liur hampir menetes ketika melihat sepupu-sepupuku menyantap semangkuk konro atau makan lebba-lebba dengan lahapnya di pesta.
Aku sepenuhnya paham, tinja adalah satu pertanda seimbangnya metabolisme dalam tubuh, manusia atau binatang. Namun, aku benar-benar tak pernah menduga aku bakal mati karena itu. Aku sering kejatuhan tahi cecak, mendarat persis di mukaku ketika sedang melamun di teras rumah. Aku pernah suka berkendara dengan kencang. Melatih adreanalin kupikir, apalagi ketika aku sedang mengejar ceklok di kantor. Pokoknya aku selalu menantang diri sendiri, juga marabahaya.
Aku bukan tidak sering membayangkan hidupku berakhir di jalanan, mirip tikus-tikus naas yang kujumpai di jalan. Barangkali ditabrak truk, kendaraan yang paling kutakuti, menghindari jalanan yang rusak sebelum waktunya sebab biaya perbaikannya dipangkas 50%, atau sebab serangga yang terbang dengan santai di mukaku. Aku bahkan merasa hampir mati ketika mendapatkan seekor lipan meliuk dengan anggun di kaca helm yang kukenakan. Untung saja aku mampu menguasai motor. Namun, setelah ditabrak dengan konyol oleh anak SMP yang bahkan aku yakin belum disunat, aku kapok. Ada bekas luka di tumit kiriku yang selalu mengingatkan untuk berhati-hati. Sejak itu, aku menjadi penakut.
Drama mengejar ceklok terjadi setiap hari. Aku sudah berkomitmen utuk menjadi pegawai yang rajin, tetapi sayang, pola tidurku susah diajak kompromi. Sudah lama rasanya aku karib dengan insomnia. Aku baru bisa tertidur setelah pukul empat subuh dan tubuhku menuntut tidur dengan brutal. Aku bukan tak berusaha tidur lebih awal. Namun, aku selalu saja tergolek dengan gelisah. Tubuhku lelah, tapi mata ini tak mau terpejam. Aku pun berhenti mencoba.
Oh iya, aku lajang. Telah dua tahun berlalu, sejak aku diputuskan secara sepihak dan aku belum bisa menerima kenyataan. Aku merasa dibuang begitu saja setelah dengan gagah berani berhasil mengantar gadis itu ke sana ke mari mengurus segala sesuatu yang diperlukan untuk menjadi pegawai negeri. Setelah berhasil menjadi ASN, eh gadis itu menikah dengan teman seangkatannya sama-sama diklat prajabatan. Ada drama air mata. Gadis itu menangis ketika meminta putus, meminta maaf karena tak mampu mengendalikan perasaan dan bersetia padaku. Dia menyalahkan perasan yang tercipta begitu saja antara dirinya dan laki-laki itu. Kalau sudah bawa-bawa perasaan, aku bisa apa coba?
Setiap hari, aku berpapasan dengan mobil mereka. Terkadang muncul keinginan untuk mencelakai mobil berplat merah itu, tapi sungguh aku masih mencintai gadis itu sampai tak ingin melukainya. Aku sakit hati, tapi perasaan sayang kepada gadis itu belum sepenuhnya hilang, membuatku tak berdaya. Cinta membuatku mati gaya.
Untuk mengatasi kesepianku, aku mengadopsi anak dari keluarga jauh sekali. Anak itu ditinggal mati orangtuanya karena stroke. Pola makan mereka berdua memang konon meremehkan maut. Anak laki-laki itu kujejali dengan petuah-petuah yang kuharap bisa membuatnya lebih tangguh menghadapi patah hati kelak. Juga untuk tidak berharap pada negara. Negara juga suka sekali mematahkan hati.
Tapi tak pernah kusangka, aku lebih patah hati saat ini ketimbang waktu ditinggalkan karena gadisku terpikat laki-laki lain. Masa mati gara-gara menginjak tahi? Yang benar saja!
*****
Editor: Moch Aldy MA
