Hantu dan Dialektika Keadilan dalam Film Anak

Shofiatunnisa Azizah

3 min read

Dalam bayangan sebagian orang, film anak sepatutnya berisi tentang petualangan anak-anak yang berfokus penuh pada pengembangan karakter anak sebagai tokoh maupun penonton. Orang-orang yang berpikir demikian kerap terlupa, bahwa tumbuh kembang anak di dunia nyata maupun fiksi adalah sesuatu yang tidak berjalan dalam garis lurus. Elemen kejutan akan selalu hadir dalam perjalanannya.

Demikian pula dalam film Jumbo yang meroket pesat penayangannya. Tidak hanya dihadapkan dengan petualangan sebagai anak-anak, tokoh utama bernama Don juga harus berurusan dengan dunia di sekitarnya, termasuk dunia magis.

Film ini mengisahkan tentang perundungan yang dialami oleh Don. Ia dijuluki “Jumbo” oleh teman-teman bermainnya, bahkan disebut besar dan lamban. Alhasil tumbuh perlawanan dalam diri Don yang ingin lepas dari embel-embel “Jumbo” dengan tampil istimewa, melalui pentas dongeng yang menuntunnya lebih dekat pada Meri, tokoh yang tidak berasal dari dunia yang sama dengan Don.

Baca juga:

Alkisah Meri menghampiri Don untuk meminta bantuan agar dapat menemukan radio yang menyandera kedua orang tuanya. Meri dan kedua orang tuanya ditarik paksa dari ketenangan mereka di tempat peristirahatan. Melalui penggambaran ini, film Jumbo telah memperlihatkan bahwa Meri bukan berasal dari dunia yang hampir tidak dapat dikatakan nyata.

Meri tidak bisa disentuh maupun menyentuh. Meri tidak menapak tanah. Meri hanya bisa memperlihatkan diri kepada siapa yang diinginkannya, sampai Meri menggunakan kemampuan untuk menampilkan diri sepenuhnya. Penampilan Meri yang tidak jauh berbeda dengan Don dan teman-teman, menunjukkan bahwa Meri adalah tokoh magis dalam film ini. Namun demikian, unsur supranatural yang dihadirkan sebagai penggerak plot dalam film garapan sutradara dan penulis naskah Ryan Adriandhy ini menunjukkan keterpaduan bagian cerita yang dianggap wajar dalam realitas film untuk alasan yang kompleks.

Hantu Anak dengan Beban Opresi Dewasa

Hantu bukan satu-satunya yang dipercayai terkait hal magis di negara ini, sekalipun popularitasnya paling mendominasi. Hantu bahkan kerap hadir bersama mitos, serta hal-hal berbau tradisional yang masih lekat dengan segala bentuk magis—mistis, katanya.

Harus diakui, telah tercipta kedekatan yang magis dalam kehidupan sehari-hari anak-anak Indonesia sedari dini. Apabila pulang terlambat dalam bermain, misalnya, bukankah tidak jarang ibu akan langsung menceritakan hantu-hantu yang menculik anak nakal?

Hal ini terang berbeda dengan Meri yang bukan hantu penculik, tetapi serupa dalam artian kehadiran Meri sebagai “hantu” di film ini memperlihatkan kedekatan yang magis dalam budaya kita sejak lama. Kepercayaan terhadap hantu bahkan telah terbangun kontradiktif. Ketika ditakuti karena berasal dari dunia yang berbeda, hantu justru menunjukkan ketidakberdayaan karena sudah tidak bernyawa di dunia yang sebenarnya.

Sama halnya dengan Meri yang meminta pertolongan kepada Don, “Tolong Don, bantu aku bebasin Papi Mamiku.”

Permintaan ini menunjukkan pertentangan terhadap kemampuan Meri memberikan sentuhan magis dalam berbagai hal yang tidak dapat dilakukan Don dan teman-teman, dan kebutuhan yang tidak dapat Meri selesaikan seorang diri dengan segala yang ajaib padanya. 

Kelemahan Meri adalah kunci yang digunakan oleh penindas untuk menekannya dan kedua orang tuanya. Tokoh Meri yang ditunjukkan sebagai anak yang bangkit dari peristirahatan tenangnya tidak melepaskan kemungkinan untuk dihantui oleh opresi.

Masalah Meri dapat melahirkan dua makna dalam satu waktu. Pertama adalah tekanan yang dapat diterima oleh siapa saja, sedang yang kedua adalah kepercayaan terhadap mistis untuk diperalat. Penggunaan hal-hal magis sebagai alat mengartikan bahwa masyarakat membutuhkannya sehingga harus “menekan” yang bahkan magis di bawah kuasanya.

Peranan Magi dalam Tatanan Sosial

Di sisi lain, pelaku opresi yang diterima Meri dan kedua orang tuanya adalah Pak Kades. Pak Kades yang memimpin desa tempat tinggal Don dan kawan-kawan diceritakan melakukan pekerjaan di balik perannya sebagai Kepala Desa. Ia menarik arwah-arwah dari persemayamannya untuk pembersihan makam, demi kepentingan kerja sama dengan proyek.

Namun demikian, tidak ada yang mengetahui pekerjaan sampingan Pak Kades yang satu ini. Ia menyembunyikan dengan apik di balik jubahnya dan lahan yang jauh dari jangkauan warga desa. Alasannya terang benderang adalah citra kepala desa yang akan tergusur bersama makam apabila profesi ini diketahui orang-orang.

Baca juga:

Dalam pandangan masyarakat, bagaimanapun mengganggu hal-hal mistis yang sudah seharusnya dibiarkan tenang tidak bernilai kebajikan. Pun, pelakunya akan diberikan sanksi berupa label buruk. Sebab itulah, bagaimana masyarakat telah menciptakan stigma terhadap hal-hal magis membuat Pak Kades menyimpannya sebagai rahasia.

Selain itu, topeng Pak Kades yang dikenal murah hati dan dermawan adalah refleksi lingkungan sosial yang membentuk standardisasi terhadap karakter seseorang. Apabila Pak Kades dermawan, Pak Kades dinilai baik dalam tatanan sosial. Sebaliknya Pak Kades yang berurusan dengan hantu adalah Pak Kades yang dihindarkan dari pengetahuan warganya, berarti tidak dipandang sebagai sesuatu yang baik. Bahkan setelah diketahui warga, Pak Kades berujung ditangkap oleh hansip.

Sesungguhnya pola ini telah memperlihatkan bagaimana nilai-nilai magis membentuk dan mempengaruhi kehidupan sosial. Kelekatan magis dengan hal-hal yang kerap diberikan pandangan negatif, mengikutsertakan pelakunya dalam label yang sama.

Pemantik Persepsi Lintas Usia

Alasan utama kemunculan Meri adalah pengaruhnya terhadap plot. Tanpa Meri, pentas Don tidak akan istimewa. Tanpa Meri, misi Pak Kades tidak akan sempurna.

Meri adalah simbol perantara yang dapat membantu tokoh protagonis maupun antagonis dalam film Jumbo mencapai tujuannya masing-masing. Akan tetapi, dengan misi Meri yang berlawanan terhadap Pak Kades, dapat dipahami bahwa ada ketidakbenaran dalam persepsi Pak Kades terhadap Meri sebagai alatnya.

Bagi Don, Meri adalah teman yang membantunya. Sementara Pak Kades memandang Meri sebagai pelengkap pengumpulan arwah yang perlu dibersihkan dari makamnya. Sekalipun hampir sama-sama diperalat, keinginan Pak Kades berlandaskan balas dendam dan amarah yang tidak kunjung surut. Hal ini berbeda dengan Don yang kemudian disadarkan oleh fakta bahwa dirinya harus membantu Meri seperti Meri membantunya.

“Tahu apa kamu soal keadilan?”

Itu adalah kalimat yang diucapkan Pak Kades ketika Don dan teman-teman membantu Meri mengambil radio dan membebaskan kedua orang tuanya. Melalui penggambaran tersebut, usaha Meri untuk mendapatkan keadilannya yang berlawanan dengan ‘adil’ untuk Pak Kades mencerminkan perbedaan persepsi lintas usia dalam film ini.

Menurut Don, termasuk Meri, keadilan adalah memberikan perlakuan yang sama kepada setiap orang. Beda dengan Pak Kades yang justru menilai bahwa ‘adil’ berarti setiap orang harus merasakan yang telah dialaminya.

Pada akhirnya, Meri menjadi pemantik atas perbedaan cara pikir Don sebagai anak-anak dan Pak Kades sebagai orang dewasa. Reaksi ini juga memperlihatkan pengaruh pengalaman dari perspektif usia yang lebih dewasa, yang memberikan interpretasi berbeda, memberikan hasil akhir yang berbeda pula.

Pandangan Don terhadap keadilan yang melibatkan Meri dikarenakan pahit kehidupan yang belum disesapnya. Usia belia Don menjadi salah satu faktor, bahwa anak-anak akan memandang dunia dengan apa adanya. Mungkin sejatinya, kita semua yang perlahan menua dan ditimpa lebih banyak emosi seperti Pak Kades harus berusaha mempertahankan sisi kanak-kanak yang jujur untuk setidaknya dapat bersikap adil dan memandang dunia dengan kebaikan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Shofiatunnisa Azizah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email