suka jazz dan kopi susu

Kesaksian Lantai Tujuh dan Puisi Lainnya

Jasmine Noor

2 min read

AKANKAH PEREMPUAN KEMBALI MERINDANGKAN KETAKUTAN?

kemerdekaan kandas tersisa ampas
sejarah seperti kaset kusam menghitam—
berulang pada nasib kami di kemudian
diputar paksa di ruang-ruang pergunjingan
di mana perempuan hanya wujud rabaan
dan tubuh kami dieja tanpa kewajaran

kata mereka undang-undang mencipta ruang aman
menyunggi tangan menjanjikan perlindungan,
alih-alih menjaga negeri, mereka copot keharusan;
menggadai hak sipil—lucuti peta kursi kementerian—
menulis aturan dengan tinta yang tak pernah kering dari darah

akankah perempuan kembali merindangkan ketakutan?
saat trauma kolektif dijentiki bebayangan orde baru
didorong ke sudut luka lama di mana air mata jadi bahasa
diberi pilihan antara patuh atau lenyap seketika
dipaksa percaya bahwa keadilan hanya bisa diatasi mereka

(2025)
_

PENJEGALAN PAKSA

pepena bergairah menyuratkan cerita
tentang ratusan nama tubuh keparat
tentang isu keamanan keancaman
dan kebenaran yang dipadamkan

mulut ditembok dengan sengaja
ditumbuhkannya diam bisu suara
pada ujung jurang berita
mereka jajal retas realita

ditekan fatwa-fatwa tanpa rasa—
kami bersuara dengan terang lebih nyala
saat rakyat dipukuli, penguasa sibuk party
media diberi hampers kepala babi
tanpa telinga atau tikus yang
terpenggal sia-sia—lebih suci
dari moral hama mereka

lihatlah! bergidik bulu kuduk
dijegal; pers dipersekusi paksa
mereka kira takut bisa dijahit ke dada
bara yang mereka injak tak akan mati
selama kebenaran masih berdenyut nadi.

(2025)
_

DI BALIK TEMBOK GAZA

seorang ibu di gaza melahirkan dengan perut penuh meteor dan air ketubannya adalah pecahan bintang yang gugur menjadi jutaan kenang. sebagaimana perempuan, mereka sulap air mata menjadi tali, mengikat reruntuhan menjadi rumah, menjemur luka di bawah matahari—hingga berubah menjadi selimut yang menghangatkan yang lainnya. anak-anak menyanyi tentang warna-warni puing bangunan. nada-nada mereka bukan do, re, mi—melainkan kode rahasia dari masa depan, tempat tempat tidur menjadi mimbar dan panggung megah revolusi. nenek-nenek menggenggam waktu di ujung jari keriputnya, ada sejarah yang dililitkan dengan benang merah—mereka menyulam peluru menjadi puisi dan menyuapinya ke cucu dengan rasa madu.

(2025)
_

KESAKSIAN LANTAI TUJUH

oh betapa malang perempuan
tanpa ruang aman dan jaminan
bahkan tempat tidur rumah sakit
tempat kau bisa sakit atau disakiti

mereka bilang: istirahatlah, ini prosedur
lalu tubuhnya direntangkan seperti peta perang
dan seseorang dengan jas putih
menggambar neraka di antara pahanya

betapa malang perempuan
yang tak bisa memilih siapa yang menyentuh
karena ruang steril pun
bisa menjadi tempat paling kotor di bumi

dan dunia bertanya, apa kau yakin itu terjadi?
sementara tubuhnya masih menjadi tkp
dan pikirannya dipaksa menandatangani
berkas trauma yang tak akan pernah selesai

mereka sengaja membiarkannya hancur dalam keadaan tertidur.

(2025)
_

SURAT DARI PEREMPUAN YANG TAK SELESAI DIPERJUANGKAN

kartini,
kutulis surat ini dari balik algoritma
di mana setiap kalimatku bisa dibatalkan oleh emoji
suaraku harus melewati filter kesopanan patriarki

langit-langitnya berupa pelipis—
berdenyut tiap kali aku membuka mulut
ventilasi bernapas dengan desas-desus
udara menyisir rokku ke belakang
seolah ingin melipatku jadi setengah keberadaan

mereka bilang ruang ini milik semua
tapi tubuhku tak pernah diberi kunci
aku selalu tamu
dengan undangan yang bisa dibakar kapan saja

kartini,
aku membaca surat-suratmu
tapi suratku tak pernah sampai pos
semua dikembalikan dengan catatan:
“perempuan terlalu emosional untuk didengar”

aku sudah belajar menjadi guru
dan papan tulisku sering dihapus oleh yang merasa lebih tahu
kapurku berdarah—jam pelajaran ini kutulis dengan sisa tidur yang dirampas dunia

mereka bilang:
“perempuan hari ini sudah bebas”
aku tertawa,
tapi tawaku dicegat oleh sensor moral

aku tak ingin jadi legenda
aku hanya ingin duduk di bangku yang tak berubah jadi tuduhan
berjalan tanpa dikuntit tatapan
dan bicara tanpa harus membungkus logika dengan lipstik dandan

jika hari ini kau melihatku dari surga
jangan dulu banyak berbangga
karena aku masih harus menyamar sebagai ketegaran
untuk sekadar bisa hidup sebagai diri sendiri.

(2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Jasmine Noor
Jasmine Noor suka jazz dan kopi susu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email