Perempuan bergerak dengan banyak cara. Ada yang memulainya dari hal-hal kecil di rumah, ada yang tumbuh dari lingkup tempat tinggalnya, ada juga yang berani bersuara lewat karya dan gagasan di ruang publik. Perjalanan ini tidak pernah soal siapa yang lebih dulu atau siapa yang lebih besar, tetapi bagaimana kita bisa saling menguatkan, saling menopang, dan tumbuh bersama.
Semangat itu terasa jelas dalam rangkaian acara Women on The Move 2025 yang digagas oleh Bloomberg Technoz bersama Women Founders Indonesia. Acara ini berlangsung pada 26-28 September 2025 di Discovery Kartika Plaza Hotel, Bali.
Mulai dari penanaman mangrove, talk show, gala dinner yang formal hingga obrolan ringan di tepi pantai, semuanya memperlihatkan satu hal: perempuan punya banyak cara untuk bergerak, dan semua cara itu sama berharganya.
Perempuan di Kancah Politik
Pada malam Gala Dinner yang menghadirkan beberapa sosok perempuan di dunia politik, Isyana Bagus Oka, Wakil Kepala BKKBN, mengingatkan bahwa perempuan adalah tiang utama dalam pengasuhan anak. Karena itu, nilai kesetaraan sebaiknya ditanamkan sejak dalam keluarga. Ia mencontohkan hal sederhana: Tugas memasak dan beberes bukan hanya tugas perempuan. Laki-laki pun jangan gengsi untuk ikut membantu. Pesan ini terasa membumi, apalagi bagi banyak perempuan yang sering terbebani tugas domestik sendirian.
Baca juga:
Sementara itu, Putri Zulkifli Hasan, anggota DPR RI, berbagi pengalaman lain. Menurutnya, sinisme justru kadang datang dari sesama perempuan. Stigma bahwa perempuan di politik hanya pelengkap masih sering ia rasakan. Meski begitu, Putri melihat justru di sanalah kelebihan perempuan: mereka membawa empati dan ketelitian, hal-hal yang kadang terlupakan dalam ruang politik.
Selain itu, Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, menekankan pentingnya keberanian untuk melangkah. Katanya: “We all do have power. Just do it, don’t be hard on yourself.” Pesan singkat itu seperti dorongan agar perempuan berhenti terlalu keras pada dirinya sendiri dan mulai mencoba, meskipun belum sempurna.
Suara Perempuan dari Dunia Literasi
Pada puncak rangkaian acara Women on The Move 2025, Okky Madasari, penulis sekaligus pendiri Omong-Omong Media dan OM Institute, menerima penghargaan Women in Literature and Freedom of Expression. Penghargaan ini tidak hanya untuk karya sastra yang ia tulis, tapi juga untuk suaranya yang konsisten membela kebebasan berekspresi.
Lewat OM Institute yang didirikannya, Okky membuktikan bahwa menulis bukan sekadar keterampilan teknis. Ia menjadikannya alat berpikir, alat penyembuhan, sekaligus alat perubahan. OM Institute menjadi wadah bagi siapa saja yang ingin belajar menulis, mulai dari perempuan di komunitas hingga institusi yang ingin menumbuhkan budaya menulis di lingkungannya, termasuk lewat pelatihan korporat. OM Institute mengajak banyak pihak untuk melihat aktivitas menulis sebagai budaya positif: bukan hanya komunikasi yang lebih baik, tapi juga dampak yang lebih luas.
Salah satu program yang berdampak adalah Writing is Healing, Writing is Protecting. Program ini mengajak perempuan, terutama penyintas kekerasan, untuk menuliskan pengalaman mereka. Hasilnya dibukukan dalam antologi Writing is Healing, Writing is Protecting (Catatan Perjalanan Pemulihan dan Perlindungan Diri). Dari sana terlihat, menulis bisa jadi jalan pemulihan sekaligus perlindungan diri.
Dari pengalaman tersebut, semakin jelas bahwa menulis tidak hanya memberi manfaat personal, tetapi juga memiliki daya jangkau yang lebih luas.
Atas dasar itu, OM Institute merancang pelatihan penulisan dengan empat tujuan utama. Pertama, menulis sebagai sarana eksistensi dan pembentukan identitas, sehingga peserta dapat menemukan serta menegaskan jati diri mereka melalui karya tulis. Kedua, menulis sebagai medium penyembuhan dan perlindungan, yang membuka ruang aman untuk mengolah emosi, meredakan luka batin, sekaligus menjaga kesehatan mental. Ketiga, menulis sebagai keterampilan profesional dan strategi bisnis, yang membantu meningkatkan kapasitas kerja, komunikasi, serta mendukung pencapaian tujuan karier maupun usaha. Keempat, menulis sebagai sarana membentuk kesadaran dan opini publik, sehingga tulisan menjadi kontribusi nyata dalam mendorong perubahan sosial serta memperkaya wacana di masyarakat.
Bagi Okky, menulis adalah cara perempuan berani bersuara. Dari sana, lahirlah keberanian untuk membangun citra diri, memperluas pengaruh, hingga menggerakkan orang lain. Karena itu, ia percaya gerakan nasional pelatihan menulis perlu didorong. Tujuannya agar semakin banyak orang menjadikan aktivitas menulis sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar keterampilan tambahan.
Baca juga:
Perempuan Punya Pilihan
Pada pagi harinya, suasana dibuat lebih santai lewat sesi Morning Insight bersama Veronica Tan, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sembari duduk di tepi Pantai Kuta, ia menyampaikan pesan yang sederhana tetapi justru mengulik kesadaran: Perempuan harus tahu apa yang mereka mau.
Kalimat itu terasa membekas, sebab sering kali perempuan sulit melangkah bukan karena tidak mampu, tetapi karena tersandera stereotip dan ekspektasi. Veronica menegaskan, pilihan selalu ada di tangan perempuan. Mau sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga? Sah. Mau mengembangkan diri di dunia profesional? Juga sah. Yang penting, keputusan itu datang dari diri sendiri, bukan paksaan.
Sebuah Penutup, Sebuah Awal
Rangkaian Women on The Move 2025 membuktikan bahwa gerakan perempuan tidak pernah satu rupa. Ada yang memperjuangkan kesetaraan lewat politik, ada yang membangun keberanian lewat literasi, ada pula yang saling menguatkan lewat percakapan santai. Semua itu adalah bagian dari wajah pergerakan perempuan hari ini.
Di tengah semua cerita itu, kiprah OM Institute memberi pesan penting: literasi bisa jadi pintu masuk perubahan. Menulis bukan cuma soal merangkai kata, melainkan cara untuk merawat diri, melindungi diri, dan berkontribusi pada masyarakat.
Akhirnya, yang membuat Women on The Move 2025 berkesan bukan hanya deretan tokoh atau acara, tapi kesadaran bahwa perempuan tidak hanya ikut bergerak, merekalah penggerak itu sendiri.
Editor: Prihandini N
