Psikoanalisis dan Epistemic Injustice

Mohamad Rachmat Ramdhani

2 min read

Di antara berbagai kritik terhadap psikoanalisis, salah satu yang paling mendasar bukan lagi menyangkut validitas konsep ketidaksadaran ataupun kompleks Oedipus, melainkan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan yang terbentuk di dalam praktik analisis itu sendiri. Kritik ini mempertanyakan bagaimana mungkin seorang analis mengklaim mengetahui kebenaran bawah sadar pasien, sementara pasien sendiri dianggap tidak memiliki akses yang memadai terhadap pengalaman batinnya. Dalam situasi demikian, setiap penolakan pasien dapat dengan mudah dibaca sebagai “resistensi”, sehingga kritik terhadap analis justru menjadi bukti yang mengonfirmasi teori analis. Akibatnya, pasien kehilangan otoritas epistemiknya atas dirinya sendiri.

Persoalan ini belakangan dirumuskan melalui konsep epistemic injustice, yaitu situasi ketika seseorang diposisikan sebagai subjek yang tidak dapat dipercaya untuk menjelaskan pengalamannya sendiri. Menariknya, kritik tersebut tidak sepenuhnya ditujukan kepada teori Jacques Lacan. Sebaliknya, Lacan justru berusaha mengembangkan psikoanalisis yang membatasi otoritas analis. Karena itu, persoalan utama bukanlah apakah teori Lacan bersifat otoriter, melainkan apakah praktik psikoanalisis benar-benar mampu mewujudkan etika yang dirumuskan oleh Lacan sendiri.

Oedipus sebagai Deskripsi atau Sebagai Solusi?

Salah satu kritik yang diajukan dalam diskusi kontemporer adalah kecenderungan sebagian psikoanalis memperlakukan kompleks Oedipus dan kastrasi sebagai tujuan akhir analisis. Dalam tradisi Lacanian, kastrasi bukan berarti kehilangan organ biologis, melainkan pengakuan bahwa manusia secara struktural ditandai oleh lack. Tidak ada subjek yang utuh, tidak ada objek yang mampu memberikan kepenuhan mutlak, dan tidak ada jouissance yang sepenuhnya memuaskan. Sebagian pembacaan kemudian memahami akhir analisis sebagai penerimaan terhadap kondisi tersebut.

Baca juga:

Namun bisakah kita mempertanyakan apakah “menerima kastrasi” benar-benar merupakan tujuan akhir dari psikoanalisis. Yang seharusnya diatasi, menurut penulis, bukanlah kenyataan bahwa manusia hidup dalam kekurangan, melainkan fantasi bahwa kastrasi merupakan identitas yang harus dipertahankan.

Di sinilah muncul perbedaan menarik dengan kritik Gilles Deleuze dan Félix Guattari dalam Anti-Oedipus. Bagi Deleuze dan Guattari, Oedipus merupakan mesin represif yang mengurangi kompleksitas hasrat menjadi drama keluarga. Akan tetapi, diskusi dari tulisan ini mengambil posisi yang berbeda dengan penjelasan Deleuze. Oedipus tidak dianggap sepenuhnya salah sebagai perangkat deskriptif untuk membaca konfigurasi tertentu dari hasrat. Yang dipersoalkan adalah ketika Oedipus berubah dari alat analisis menjadi tujuan normatif. Dengan kata lain, Oedipus boleh menjelaskan sesuatu, tetapi ia tidak boleh menjadi horizon terakhir bagi kehidupan psikis. Perbedaan ini penting karena menggeser persoalan teori menuju persoalan penggunaan teori. Sebuah konsep dapat berguna sebagai penjelasan tanpa harus dijadikan model kehidupan yang ideal.

Freud sendiri pernah menyatakan bahwa “ego bukanlah tuan di rumahnya sendiri.” Pernyataan ini merupakan revolusi besar dalam pemahaman mengenai subjek. Manusia tidak sepenuhnya mengetahui motif tindakannya karena terdapat dimensi ketidaksadaran yang terus bekerja di luar kontrol refleksi sadar.

Namun revolusi ini sekaligus menghasilkan persoalan baru. Jika seseorang tidak pernah mengetahui dirinya sendiri secara utuh, siapakah yang berhak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya?

Dalam praktik analisis, jawaban atas pertanyaan tersebut sering kali jatuh ke tangan analis. Di sinilah muncul bahaya epistemik. Setiap kali pasien berkata, “Saya rasa itu bukan masalah saya,” analis dapat menjawab, “Justru penolakan itulah bukti bahwa masalah itu ada.” Logika semacam ini hampir tidak menyediakan kemungkinan falsifikasi. Apa pun yang dikatakan pasien dapat diterjemahkan menjadi konfirmasi atas interpretasi analis.

Dalam perspektif filsafat pengetahuan, kondisi tersebut merupakan bentuk epistemic injustice. Kesaksian pasien mengenai dirinya sendiri kehilangan kredibilitas karena diasumsikan selalu berada di bawah pengetahuan analis. Hubungan terapeutik kemudian berubah menjadi hubungan hierarkis antara subjek yang dianggap mengetahui dengan subjek yang dianggap tidak mengetahui dirinya sendiri.

Upaya Lacan Menghancurkan Otoritas Analis

Menariknya, justru pada titik inilah Lacan mengambil jarak dari kemungkinan tersebut. Salah satu kontribusi terpenting Lacan adalah konsep subject supposed to know (sujet supposé savoir). Menurut Lacan, analis tidak benar-benar mengetahui isi ketidaksadaran pasien. Yang terjadi hanyalah bahwa pasien menganggap analis mengetahui sesuatu.

Pengetahuan analis merupakan hasil proyeksi transferensi, bukan kualitas intrinsik yang dimiliki analis. Karena itu, analis tidak boleh mengidentifikasi dirinya sebagai pemilik pengetahuan. Seluruh posisi analitik justru bergantung pada kemampuannya untuk tidak percaya bahwa dirinya memang mengetahui kebenaran pasien. Prinsip ini menjelaskan mengapa interpretasi dalam analisis Lacanian berbeda dari penjelasan psikologis biasa.

Analis tidak bertugas menjelaskan penyebab gejala, melainkan membuka ruang agar pasien menemukan sendiri logika hasratnya melalui rantai penanda (chain of signifiers). Keheningan, permainan kata, maupun interpretasi yang sangat singkat bertujuan mengganggu kepastian makna, bukan menggantikannya dengan makna baru yang berasal dari analis.

Baca juga:

Paradoks Lacan menjadi semakin jelas ketika membahas tujuan akhir analisis. Pada awal proses, pasien memang membutuhkan figur yang diasumsikan mengetahui. Namun jika proses analisis berhasil, asumsi tersebut harus runtuh.

Lacan mengatakan bahwa analis tidak boleh tetap berada pada posisi subject supposed to know. Pada akhirnya, ia harus menjadi objet petit a, yaitu objek penyebab hasrat yang memungkinkan proses subjektivasi berlangsung tanpa menjadi pusat makna itu sendiri. Ketika fungsi tersebut selesai, analis harus dapat ditinggalkan. Dalam arti tertentu, keberhasilan analisis justru diukur dari hilangnya kebutuhan pasien terhadap analis sebagai figur otoritas. Pasien tidak keluar dari analisis dengan memperoleh jawaban dari analis, melainkan dengan memperoleh relasi baru terhadap hasratnya sendiri. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

 

 

Mohamad Rachmat Ramdhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email