Beberapa waktu lalu, Netflix merilis series Adolescence. Karya yang disutradarai oleh Philip Barantini ini membawa narasi tentang bahaya budaya incel dan isu “manosphere” yang berkembang di generasi mendatang. Seri dokumenter ini mendapat perhatian, karena mengekspos tantangan pendidikan dan keluarga di era informasi yang dapat diakses anak-anak di usia dini. Budaya incel yang awalnya merupakan budaya yang muncul di internet, sebuah “dunia maya”, sekarang melampaui ruang siber dengan menjadi ideologi konkrit. Tulisan ini merupakan refleksi fenomenologis penulis, yang pernah berada dalam ruang yang menjunjung tinggi maskulinitas secara ekstrim tersebut.
Genealogi Incel
Pada hari ini, incel bukan lagi cuma sekadar ungkapan untuk laki-laki misoginis atau “pecundang” yang sering berulah dengan melakukan trolling kepada perempuan dan orang-orang di internet. Serangkaian kasus penembakan massal dan terorisme yang terjadi belakangan ini dengan pelaku kejahatan yang mengaku dirinya sebagai incel atau bagian dari komunitas menunjukan bahwa incel telah menjadi suatu gerakan yang berbahaya. Salah satu respon dari maraknya terorisme dari komunitas incel adalah berdirinya organisasi yang berupaya memerangi kejahatan tersebut seperti Moonshot. Ada juga yang sampai membuat guideline dan kajian khusus tentang ideologi incel, serta sosialisasi tentang fenomena ini yang diinisiasi oleh sejumlah media massa global.
Baca juga:
Sebelum identik dengan budaya yang toksik, incel atau involuntary celibate awalnya merupakan istilah yang digunakan di forum internet untuk mewadahi orang-orang yang memiliki kesulitan dalam berkomunikasi. Forum ini didirikan oleh seorang mahasiswi dari Kanada pada akhir 90’an, masa ketika media sosial belum populer. Forum tersebut merupakan semacam penanda bahwa meskipun kala itu internet dan komputer masih “barang baru” tetapi perlahan-lahan merubah perilaku dan cara seseorang berkomunikasi, yaitu komunikasi dilakukan secara lebih “bebas”, meskipun komunikasi itu berjalan secara anonim. Simtom inilah yang akan berkembang menjadi budaya incel yang dikenal hari ini.
Setelah awal 2000-an, istilah incel mengalami pergeseran makna. Forum yang awalnya bertujuan membantu orang-orang yang mengalami kesulitan, perlahan-lahan didominasi oleh laki-laki yang kerap menyalahkan perempuan atas status lajang mereka. Mereka menilai bahwa perempuan zaman sekarang terlalu menuntut, memiliki standar yang tinggi, terlalu woke. Bahkan, mereka menilai bahwa perempuan tidak seharusnya berada di internet atau memainkan video game yang merupakan ruang eksklusif bagi para laki-laki atau manosphere. Kebencian ini teramplifikasi berkat munculnya forum online dan media sosial seperti 4chan yang dikenal sebagai “sarang incel” hingga sekarang.
Bagi beberapa kritikus sosial seperti Sherry Turkle, internet pada awal kemunculannya adalah tempat yang sama sekali berbeda dengan dunia nyata. Maka, di dalam “dunia maya” tersebut, orang-orang bisa membentuk identitas baru, berpura-pura menjadi orang yang berbeda, dan yang paling penting adalah, seseorang mampu mengekspresikan apa yang ia tahan atau tekan di dunia nyata, menjadikan internet sebagai tempat membuang emosi (venting).
Tentu, sesuatu yang tidak mampu diekspresikan di dunia nyata bukan hanya hal-hal tabu atau perkara norma, tetapi kebencian pun dapat diekspresikan dengan bebas di internet. Para incel memanfaatkan internet sebagai tempat mengekspresikan kebencian mereka, ketika di dunia nyata mereka dianggap manusia yang gagal oleh orang-orang di sekitar mereka termasuk perempuan. Parahnya, dengan adanya forum yang mengafirmasi kebencian, maka kebencian tersebut akan dijustifikasi sebagai hal yang benar, menjadi semacam kebiasaan yang disebut sebagai internet culture. Inilah salah satu bentuk impuls psikis yang disebut Sigmund Freud sebagai return of the repressed.
Apa yang Dipikirkan Incel?
Penulis pernah masuk dalam lingkungan incel, setidaknya pada kurun waktu 2012 hingga 2019. Pada waktu itu, internet masih merupakan tempat yang liar, suatu terra incognita bagi anak-anak dan remaja yang sedang mencari jati diri. Internet bertindak sebagai orang tua kedua, “membimbing” seseorang menemukan identitasnya melalui informasi yang muncul di dalam layar. Penulis mengamati bahwa orang-orang dalam komunitas incel lebih memilih menjadi anonim dan tidak mau membahas hal-hal seputar kehidupan pribadi. Di dalam internet, mereka berlomba-lomba menjadi edgy dengan melakukan troll atau ujaran kebencian terhadap perempuan dan orang tua di Facebook. Menilai bahwa Facebook memiliki aturan yang ketat, orang-orang di dalam “forum sejarah” memperkenalkan 4chan ke penulis, dan dari sinilah penulis semakin dekat dengan lingkungan incel.
Jika dilihat dari kebiasaan mereka di internet, mereka terkesan kekanak-kanakan, menganggap bahwa orang-orang luar yang disebut normies hanya akan merusak budaya internet yang telah ada di dalam sana, yang telah mereka bangun. Mereka kerap menargetkan orang tua dan perempuan yang gaptek atau tidak memahami seluk beluk budaya mereka. Selain itu, untuk mendapat perhatian dari para normies di internet, mereka kerap kali menggunakan hal-hal tabu seperti ideologi nazi untuk memancing keributan, atau menunjukan keberpihakan kepada nilai-nilai maskulin yang konservatif.
Mengapa harus nazi atau atribut maskulin lainnya? Dan, mengapa hal-hal tersebut mereka anggap budaya internet atau nilai-nilai yang harus diperjuangkan di internet? Pertama, mereka dianggap pecundang di dunia nyata yang tidak mendapatkan afeksi atau pengakuan dari orang lain, terutama perempuan. Dengan internet dan komunitas yang mewadahi mereka, para incel membangun identitas yang baru, menampilkan sisi maskulin mereka melalui hal tabu agar dianggap menarik dan kuat. Sisi ini, tentu tidak dapat mereka ekspresikan di dunia nyata.
Kedua, internet telah menjelma menjadi alat yang mengamplifikasi kebencian dan polarisasi politik. Dalam Kill All Normies, Angela Nagle menilai bahwa komunitas incel benci political correctness, menganggap perempuan yang memiliki kesadaran politik atau ideologi feminisme berbahaya bagi budaya internet. Beberapa kali, aktivis perempuan dan feminis pernah bentrok dengan para incel. Setiap kalah berdebat, para incel biasanya akan mengeluarkan ancaman pembunuhan bahkan ancaman pemerkosaan.
Kekerasan yang Melampaui Ruang Siber
Maskulinitas (yang toksik) adalah inti dari ideologi incel. Mereka menggunakan maskulinitas untuk dua hal: untuk memproyeksikan diri mereka di sosial media agar terlihat kuat atau atraktif. Kedua, maskulinitas sebagai reaksi atas hegemoni ideologi modern yang mengancam komunitas mereka. Perlahan-lahan, kebiasaan di internet menjelma menjadi ideologi yang mempengaruhi tindakan mereka di dunia nyata. Kekerasan verbal yang selama ini mereka lakukan untuk memperoleh pengakuan dari sesama komunitas, menjelma menjadi kekerasan fisik yang mengancam masyarakat, semata-mata untuk mendapat pengakuan yang lebih.
Baca juga:
Penembakan massal merupakan tindak kejahatan yang cukup identik dengan incel beberapa tahun ke belakang. Terdapat semacam struktur atau pola yang dapat diamati dari aksi terorisme incel. Pertama, aksi tersebut tidak terorganisir secara kelompok, tetapi dijalankan perorangan. Dalam beberapa kasus, biasanya mereka meminta saran atau membuat peringatan di forum online sebelum melancarkan aksinya. Sebagai contoh, William Atchison, tersangka penembakan Aztecs School meminta saran jenis senapan di forum online. Kedua, acapkali, mereka melakukan live streaming di media sosial seperti Facebook. Orang-orang dengan mata telanjang dapat menyaksikan korban-korban yang diberondong peluru oleh pelaku penembakan, seperti kasus penembakan yang dilakukan Alek Minassian atau Brenton Tarrant.
Terakhir, yang menjadi populer adalah trend penulisan manifesto yang dilakukan oleh incel sebelum melaksanakan aksi terorisme. Manifesto ini biasanya berisi tentang latar belakang kehidupan mereka serta cara pandang mereka terhadap masyarakat. Kerap kali mereka mencantumkan teori-teori chauvinistik dan konspirasi untuk menjustifikasi tindakan mereka, seperti yang dilakukan Brenton Tarrant melalui manifesto The Great Replacement, yang membawa isu imigran akan menggantikan penduduk asli (kulit putih). Tradisi penulisan manifesto ini dipopulerkan oleh Elliot Rodger, seorang incel yang terkenal setelah melakukan penembakan massal pada tahun 2014 dengan judul manifesto My Twisted World. Tentu jika melihat lebih jauh ke belakang, tradisi penulisan manifesto ini terinspirasi dari Ted Kaczynski, sang Unabomber yang menjadi idola para incel karena perspektif anti-modernisme dan terorisme yang ia lakukan.
Penutup
Pada tahun 1999, John Perry Barlow, seorang aktivis sosial menulis sebuah deklarasi yang disebut Declaration of Independence Cyberspace. Ia menilai bahwa harus ada pemisahan antara masyarakat di dalam internet dengan masyarakat di dunia nyata. Tentu, hal itu dilatarbelakangi oleh kehadiran negara yang mengancam kebebasan berekspresi dengan mengkriminalisasi orang-orang dengan dalih “ujaran kebencian”. Namun, berkaca dari fenomena incel, internet bukanlah suatu utopia yang mampu menampung segala bentuk pemikiran. Pemisahan antara yang maya dan yang nyata telah gagal, ketika hal yang diproduksi di dunia maya mampu mempengaruhi perilaku seseorang di dunia nyata, seperti budaya incel yang awalnya adalah segerombolan troll internet menjadi suatu ideologi ekstrim.
Kini, tidak ada lagi dualisme dunia antara yang maya dan yang nyata, karena kedua tempat tersebut sudah terintegrasi satu sama lain. Tidak ada lagi cerita bahwa internet adalah “second identity” seseorang. Bentuk ekstrem dari integrasi ini adalah ketika kejahatan tidak cukup diproyeksikan melalui ketikan, tetapi menjelma menjadi aksi yang nyata. Ketika belati yang mengiris hati melalui verbal tidak cukup untuk mendatangkan pengakuan sosial bagi seorang incel, dibutuhkan timah panas yang benar-benar merenggut nyawa seseorang agar masyarakat mengakui keberadaan si incel. Ia bukanlah pecundang di balik layar lagi, ia adalah patologi sosial yang mengancam.
Tentu, masyarakat tidak sepenuhnya dapat disalahkan salah karena turut melahirkan incel-incel baru. Memang, tindakan perundungan, pengucilan dan diskriminasi masih dialami orang-orang di sekitar kita, termasuk generasi di bawah. Media sosial tentu mampu mengamplifikasi kembalinya hal-hal yang direpresi oleh korban pengucilan menjadi bentuk baru yang buruk dan mengerikan.
Kegagalan Gatekeeping oleh komunitas incel secara tidak langsung membuka kotak pandora yang akan mempengaruhi generasi di bawah mereka: ketika seseorang tidak memahami batas antara ruang siber dan lingkungan sekitar. Terlebih, tokoh-tokoh incel seperti Elliot Rodger dapat mudah menjadi alat propaganda baru untuk menarik simpati orang-orang yang punya latar belakang sama.
Tantangan selanjutnya datang dari para influencer rakus yang mempromosikan nilai-nilai maskulinitas untuk mendapatkan atensi dari orang lain, sebut saja Timothy Ronald atau Andrew Tate. Para Yudas ini dapat tidur tenang tanpa mengetahui bahwa mereka mungkin menginspirasi seseorang untuk membunuh.
Bukan tidak mungkin bahwa incel akan menjadi pandemi sosial berikutnya setelah hikikomori. Jika Joff Bradley menilai bahwa perkembangan teknologi memicu munculnya hikikomori secara global, maka pandemi incel pun dapat diamplifikasi oleh keberadaan teknologi. Cuplikan video, akses bebas terhadap situs-situs berbahaya, hingga perbedaan pengetahuan tentang penggunaan teknologi antara generasi atas dan bawah membuat generasi bawah semakin sulit dikontrol dan dibina.
Bom waktu ini, bisa saja meledak. Mungkin bukan hari ini, tetapi di generasi mendatang, dengan tipe dan metode yang beragam. Informasi lebih cepat diproduksi daripada kecepatan komprehensif otak manusia, dengan demikian semakin mudah seseorang terpengaruh terhadap apa yang ditampilkan di depan layar mereka, semakin mudah kekerasan menyebar. (*)
Editor: Kukuh Basuki
